Novel Finding My Sirius di Cabaca.id Seorang pemuda berjaket cokelat tampak keluar dari meeting room Madinah Hotel Kemang. Melangkah mantap menuju rooftop garden di atas lantai 7. Mencari udara segar sekaligus mengistirahatkan indra pendengarannya. Telinganya pekak mendengar suara yel-yel dari peserta Islamic Training for Muslimpreuner angkatan V yang masih cetar membahana. Para trainee itu belum ada tanda-tanda lelah dan mengantuk. Tidak heran juga karena pesertanya para eksekutif muda yang terbiasa melembur pekerjaan. Pukul sebelas masih termasuk awal malam bagi mereka. Pemuda itu Zaki, pemilik Blackseed Organic Farm, salah satu panitia yang paling getol mencari peserta.

Ia memutuskan duduk di kursi kayu panjang yang didesain melingkari sebuah meja. Di sekelilingnya beberapa tanaman hias ditata apik berpadu padan dengan pendar lampu taman. Dia melipat tangannya di depan dada dengan punggung bersandar. Kepalanya menengadah menatap langit. Tidak ada mendung  menggayut. Hujan sepanjang hari tadi menyapu seluruh awan hitam. Bulan dan bintang saling berlomba menampakkan pesonanya. Dia tersenyum menatap sajian istimewa di hadapannya. Sesungguhnya pada setiap malam, Allah hadirkan nuansa yang berbeda pada langit yang sama. Masha Allah.

Pandangannya terpaku pada sabuk Orion. Petani seperti dirinya, kerap menyebutnya lintang luku atau bintang bajak karena bentuknya yang menyerupai alat tradisional untuk menggemburkan sawah. Saat lintang luku terlihat jelas di langit barat, pertanda telah tiba waktu mengolah sawah. Telah datang masa bercocok tanam.

Matanya lalu mengurut tiga bintang di rasi Orion: Mintaka, Alnilam, dan Alnitak. Tiga bintang pemandu untuk melihat rasi bintang lainnya. Ada Betelgeuse di sebelah kiri bawah. Bintang raksasa dengan sinarnya yang kemerahan. Di kanan atas Orion, ada bintang Rigel yang memancarkan cahaya kebiruan. Bintang-bintang itu terang dan memukau dengan kilaunya. Namun, pandangan Zaki tersita pada satu  bintang putih yang berbinar paling terang. Tidak salah lagi. Itulah Sirius. Bintangnya bintang di langit malam. Ketiga bintang di lintang luku menuntunnya menemukan Sirius yang terletak di rasi Canis Major, masih di sebelah kiri konstelasi Orion.

Sirius. Bintang yang akan tetap menyapa penduduk bumi di malam paling pekat dan dalam cuaca terburuk. Cahaya lemahnya seolah perlambang optimisme. Tidak ada alasan bersedih dan menyerah saat musibah datang bertubi, kiranya itulah pesan Sirius. Meski kali ini Zaki baik-baik saja, dia tetap berlama-lama memandangi Sirius. Cahayanya membuatnya populer sejak dulu kala. Bahkan sebagian bangsa Arab jahiliah menjadikannya sesembahan. Allah menegur perbuatan syirik mereka di dalam Al-Qur’an surat An Najm ayat 49, “dan bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang Syi'ra”.

Berkali hatinya melafalkan keagungan Allah. Sirius dan Asy Syi’ra. Dua nama berbeda untuk satu benda yang sama. Sirius sangat terkenal, tetapi tidak untuk bintang Syi’ra. Dia asing di telinga bahkan di kalangan umat Islam sendiri. Zaki takjub pada kenyataan bahwa Sirius merupakan sistem bintang ganda. Sirius A dapat dilihat dari Bumi dengan mata telanjang seperti malam ini, tetapi tidak bagi Sirius B yang katai. Sirius A dan B saling mengorbit. Tidak terpisahkan sejak pertama kali diciptakan. Begitu informasi yang didapatnya saat masih SMA.

Dia membayangkan, andai terjadi pada manusia tentu mereka pasangan yang sangat romantis dan harmonis tentu saja. Kiranya Sirius layak dinobatkan sebagai bintang perlambang kesetiaan. Seulas senyum terlukis di wajah Zaki.

Baca Juga: Teaser Novel Rebound Karya Achi TM di Cabaca.id

Akan tetapi,

Sirius saja diciptakan berpasangan ....

Begitu juga dia, bukan?

Namun, siapa jodohnya?

Itu masih misteri.

Dia berharap agar esok  langit kembali penuh taburan bintang. Dia akan kembali menatap langit untuk  menemukan Sirius di antara milyaran bintang. Bintang paling terang di langit malam.

Andai menemukan jodoh semudah menentukan Sirius?

Nyatanya, jodohnya masih tersembunyi. Masih dirahasiakan Allah sampai waktu yang tidak dia ketahui. Di usianya yang ke-32 ini, usah ditanya berapa kali mamanya mendesak untuk menikah. Berusaha menjodoh-jodohkannya dengan putri-putri sahabatnya. Hasilnya nihil.

Beberapa kawan bahkan ustaz pembimbingnya pun pernah membantu mencoba menemukan jodohnya. Hasilnya belum memuaskan. Ustaz Aiman pernah membantunya menjalani taaruf. Baru bertukar biodata, dia sudah mendapat jawaban kalau proses taarufnya tidak bisa diteruskan. Pada proposal menikah yang dikirimkan melalui Ustaz Aiman, Zaki memasang foto sedang mencangkul dengan wajah bermandi peluh. Kakinya terbenam di kubangan lumpur tanpa sepatu boots, pakaiannya dihiasi tanah hitam yang mulai mengering di sana-sini, dan kulitnya kecokelatan terpanggang sinar matahari. Sebuah pemandangan yang sama sekali tidak keren. Siapa gadis yang sukarela bersanding dan menghabiskan hidup dengan petani? Zaki tidak kecewa, malah dia bersyukur. Allah menyelamatkannya dari istri yang tidak bisa mendukung usahanya.

Selain ditolak, Zaki juga pernah menampik. Dia menolak taaruf dengan kakak satu indekos adiknya. Zaki mengelak karena rumah gadis itu jauh di ujung timur Jawa, sementara dia tidak bisa memindahkan bisnisnya ke Tanah Blambangan. Gadis itu pun tidak mungkin diajak tinggal di Jakarta karena dia ASN di kotanya.

Terakhir dua minggu lalu, dia ditawari taaruf dengan putri sahabat mamanya. Namanya Anggita. Nama yang cantik. Sosoknya pun memesona seperti artis. Kulitnya putih bak pualam. Dia menolak karena yakin kalau Gita tidak mungkin mau diajak berjalan-jalan di pematang sawah tanpa high heels-nya dan tas mewah yang dijinjingnya ke mana-mana.

Zaki tidak berapriori. Dia cukup realistis. Mamanya saja, wanita yang paling mencintainya sedunia dan paling mengerti dirinya, tiap kali ke sawah hanya berdiri di pematang terluar. Itu pun sambil membawa payung demi menghindari sengatan matahari. Lain mamanya, lain pula adiknya. Quinsha memang masih mau berjalan-jalan di antara pematang, berbahagia menyapa ibu-ibu buruh tani, dengan senang hati mengantar makanan dan minuman ke tengah-tengah mereka. Namun, Caca—nama panggilan Quinsha—mendadak menjadi patung dengan wajah pias jika melihat ular hijau melintas. Detik berikutnya dia akan menjerit-jerit melihat binatang melata itu membawa tikus atau katak dalam mulutnya. Di lain waktu, dia akan meloncat-loncat kegelian mendapati ulat atau cacing menempel pada kaus kakinya.

Syarat menjadi istri Zaki sebenarnya sederhana. Dia siap menjadi ibu tani yang salehah. Adakah?

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Aisfa Karya Mellyana Dhian di Cabaca.id

Zaman sekarang, apakah ada perempuan yang mau jadi istri petani? Saat Zaki minder, ia diingatkan semesta kalau sirius saja berpasangan. Sebuah novel romantis berjudul Finding My Sirius cocok untuk dibaca yang sedang menanti jodoh. Baca GRATIS di Cabaca.

Kalau mau baca novel gratis, mampir ke Cabaca pukul 21.00 sampai pkl 22.00 WIB yuk! Semua gratis tanpa kerang! Soalnya, itu adalah  Jam Baca Nasional alias Happy Hournya Cabaca. Kapan lagi bisa baca karya penulis Indonesia GRATIS? Oya, di luar jam itu tetap bisa baca gratis, yang penting rajin lakuin misi kerang di Cabaca. Aplikasi Cabaca bener-bener solusi buat yang demen baca novel di smartphone!

Solusi buat yang demen baca novel di smartphone!