Teaser Novel Fears Karya Taalita di Cabaca – Hari pertama Ospek tingkat universitas, Lita hampir tumbang. Tidak ada yang bisa ia salahkan selain dirinya sendiri karena melewatkan sarapan. Lani, teman semasa SMA-nya yang juga kuliah di universitas negeri di Kota Suwar-Suwir ini, meminta petugas kesehatan dari Badan Eksekutif Mahasiswa untuk membawa Lita menuju posko kesehatan.

Di dalam posko kesehatan, hanya ada tiga mahasiswa baru yang juga hampir tumbang sepertinya. Sisanya, beberapa anggota BEM yang terlalu malas untuk ikut upacara pembukaan ospek tingkat universitas. Upacara masih berlangsung dan rektor masih memberi sambutan, tetapi kepalanya masih berdenyut padahal ia sudah duduk di kursi ini bermenit-menit.

Lita baru kembali memejamkan mata sambil bersandar pada sandaran kursi ketika sebuah suara menyusupi indra pendengarannya, bersamaan dengan riuh tepuk tangan mahasiswa baru. Sepertinya ospek sudah resmi dibuka oleh rektor.

“Minum, dong.”

“Upacaranya udah? Nggak nemenin Pak Rektor dulu, Well?”

“Udah ngobrol sama Deo. Aku haus banget.”

Lita membuka mata perlahan dan mendapati seorang laki-laki jangkung berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. Laki-laki itu menenggak dua gelas air mineral dalam kurun waktu kurang dari satu menit. Lita baru akan memejamkan matanya lagi ketika laki-laki yang dipanggil ‘Well’ itu menoleh dan tatapan mereka bertemu.

Lita belum pernah melihatnya. Pada geladi bersih ospek sehari lalu, anggota BEM-U tidak dalam formasi lengkap. Yang paling Lita ingat adalah Deo, ketua BEM-U yang tampan, tetapi ternyata tidak lebih tampan dari laki-laki yang sedang berdiri tidak jauh darinya ini.

“Eh, kok kamu pucet banget?”

Laki-laki itu mendekat. Membuat Lita terpaksa menegakkan tubuh meski kepalanya masih berdenyut-denyut.

“Kenapa masih di sini? Pulang aja.”

“Mana bisa, Well. Hari pertama ospek. Kalau bolos, susah dapat sertif.” Perempuan yang Lita berusaha ingat namanya itu menimpali sebelum Lita sempat menjawab.

Laki-laki itu menarik kursi kosong dan duduk di dekatnya, setengah menghadapnya. Dari jarak tidak lebih dari setengah meter, aroma maskulinnya menyeruak. Mengherankan, karena laki-laki itu baru saja menjemur diri di tengah lapangan dan tampak berkeringat.

“Ada toleransi buat maba yang sakit, Al.”

Lita mencuri pandang pada ID card yang terkalung di leher laki-laki itu.

Welly Julian Aryatama

Wakil Ketua BEM

“Bentar lagi juga enakan, Kak. Cuma pusing, kok.” Suara Lita terdengar lemas di telinganya sendiri.

Laki-laki bernama Welly itu mengernyit. “Setengah jam lagi masih upacara pembukaan bareng dekan di fakultas kamu.”

Lita meringis samar. Namun, ia memilih mengunci bibir dan mengusap keringat dingin yang menempel pada pelipisnya. Lita tidak mau pulang. Ospek hari pertama akan menjadi hari yang panjang dan penuh tugas. Jika ia melewatkannya, bukan tidak mungkin sertifikat ospek akan susah ia dapatkan.

“Dari fakultas apa?”

“Ekonomi, Kak.”

Tanpa menimpali, Welly mengeluarkan ponsel dari saku jas almamaternya. Lita yang berada di dekatnya, mendengar potongan pembicaraan laki-laki itu dengan seseorang di balik telepon.

Ekonomi. Maba. Sakit. Tiga kata yang diulang Welly dengan tidak sabar. Tidak menunggu lama, seorang perempuan dengan potongan rambut sebahu mendekat padanya. Lita mengenali perempuan itu sebagai anggota BEM-F dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

“Mana yang anak Ekonomi, Mas?” tanya perempuan itu pada Welly.

Welly mengedikkan dagunya pada Lita. “Pucet banget. Pulangin aja. Biar nggak ada skandal macem-macem.”

Lita kontan mengernyit. “Kak, saya cuma pusing. Masih kuat buat ikut ospek.”

“Tahun lalu, ada maba Fisip yang pingsan. Besoknya, teman-teman dari BEM-U dan BEM-F disidang pihak kampus,” ujar Welly dengan mata teduhnya yang tepat menatap kedua bola mata Lita. “Jadi, mohon kerja samanya. Demi kamu, juga kami yang bertanggung jawab atas ospek univ.”

Lita memang sempat mendengar desas-desus tersebut dari salah satu temannya. Ada seorang mahasiswa baru yang sakit dan dibiarkan oleh pihak BEM. Tetap dipaksa untuk ikut serangkaian kegiatan ospek dan berakhir di rumah sakit seminggu penuh karenanya.

Namun, Lita berpikir Welly sangat berlebihan. Lita tidak mau menurutinya.

“Nanti bisa duduk di pinggir lapangan pas upacara bareng Pak Dekan, Mas. Aku mintain izin ke komdis.” Lea—nama yang Lita tahu setelah melirik ID card yang dipakai perempuan itu—berusaha meyakinkan Welly.

Tidak berhasil membuat Lita pulang dengan sikap berlebihannya, Welly bertahan di tempat duduknya dan sibuk dengan ponsel. Bahkan hingga Lani menghampirinya, Welly tetap duduk di sana.

Ketika Lita dan Lani akan pergi dari posko dengan ransel yang menggantung pada salah satu bahunya, Welly menahan.

“Kenapa, Kak?”

Laki-laki dengan tatapan teduh itu menatap Lita penuh ingin tahu. Raut wajahnya terlihat kikuk, tetapi tidak gagal membuat Lita kagum karena justru membuat Welly semakin tampan. Lita baru menyadarinya.

“Nama kamu siapa?”

Meski bingung, Lita tetap menjawab, “Lita, Kak.”

“Welly.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya, meminta untuk disambut. Lita menjabat tangannya singkat.

“Jurusan?”

Masih dengan kernyitan dahi yang berusaha Lita samarkan, ia menjawab lagi, “Akuntansi, Kak.”

Welly mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai respons.

“Kalau nanti sore aku temui di fakultas, bersedia pulang bareng?”

Di sampingnya, Lani terkesiap. Beberapa orang yang masih berada di dalam posko pun tidak kalah kaget ketika sang wakil ketua BEM ini menanyakan hal yang terkesan tabu pada perempuan yang pertama kali ditemuinya.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel My Complicated Lecturer di Cabaca

Apakah komitmen harus diwujudkan dalam bentuk pernikahan? Bagaimana jika ketakutan terlanjur menghadang? Novel Fears di Cabaca ini cocok dibaca untukmu yang sedang galau dan bertarung dengan ketakutanmu sendiri. Download aplikasi Cabaca hanya di Play Store.

Buat apa cari link download pdf novel yang ilegal? Kalau sekarang sudah ada aplikasi baca novel online Indonesia. Aplikasi itu adalah Cabaca. Di sini tiap hari ada Jam Baca Nasional yakni pukul 21.00 - 22.00 WIB yang memungkinkan kita baca novel gratis 100%. Supaya baca novel lebih leluasa, yuk Top up kerang mulai dari Rp5 ribu aja, bisa via GoPay, OVO, Dana, LinkAja, atau ShopeePay. Buruan pasang aplikasi Cabaca di HP kamu!