Novel Even Then, I di Cabaca.id – Malam itu hujan turun deras, membasahi seragam putih-biru yang dikenakan oleh seorang gadis yang sibuk menutupi kepala dengan tas selempangnya sambil berlari-lari menuju sebuah rumah berpagar putih yang terlihat begitu megah. Sampai di teras, ia berhenti sejenak untuk membersihkan seragam sekolah yang sedikit kotor terkena cipratan genangan hujan.

Gadis itu bernama Azkia Nuria, tertera di bordiran kemeja putih yang ia kenakan saat itu. Hujan yang tak kunjung reda membuat orang-orang lebih memilih untuk bersembunyi di balik selimut. Azkia baru saja pulang dari kerja kelompok di rumah Ruri, sahabat karibnya sejak di bangku sekolah dasar. Rambut hitam Azkia yang dibiarkan terurai hingga bahu terasa sedikit basah, gadis itu pun mengerucutkan bibirnya karena yakin esok pagi ia akan diomeli orangtuanya.

Azkia melepas sepatu dan meletakkannya di samping pot gelombang cinta yang terlihat sedikit layu sebelum akhirnya memutar knop pintu. Kemudian gadis itu masuk ke dalam rumah dan menghela napas. Tas sekolahnya dilempar ke sembarang tempat. Kakinya melangkah ke ruang tengah sambil memanggil Bi Ayu, nama kepala pelayan keluarga mereka.

"Bi Ayu!" Teriakan Azkia menggema ke seluruh penjuru ruangan. Ia bertolak pinggang sambil berdecak lantaran yang dipanggil tak kunjung menyahut apalagi menampakkan batang hidungnya. "Bi! Bi Ayu!" teriak Azkia lagi.

Kosong dan hening, hanya ada gemericik hujan sebagai jawaban atas teriakannya barusan. Azkia hendak berjalan ke arah tangga untuk pergi ke kamarnya di lantai dua, namun segera terhenti ketika ia merasa telah menginjak sesuatu seperti cairan yang berbau amis dan menyengat. Pupil Azkia melebar. Ia lalu memekik ketika menyadari bahwa sesuatu yang mengenai kakinya itu bukanlah cairan biasa, melainkan darah. Ya. Darah berwarna merah pekat itu menggenang di sana, di tengah-tengah kumpulan mayat. Mayat seluruh penghuni rumah.

Azkia menutup mulut agar tidak kembali histeris seperti sebelumnya begitu menyadari bahwa dirinya berada di tengah lautan darah, di antara puluhan mayat. Ia menyipitkan mata sambil berusaha mengenali siapa saja yang tergeletak di lantai dengan puluhan luka tusuk. Napas Azkia beradu saat berhasil mengenali bahwa puluhan mayat itu adalah keluarganya, pelayan, juga sopir, bahkan tukang kebun yang bekerja di rumah tersebut. Gadis itu mundur teratur dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Jantung Azkia pun mau tak mau memompa darah dua kali lebih cepat hingga membangkitkan rasa merinding yang mulai merayapi tubuh gadis itu.

Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Kenapa semua orang di rumahnya tewas dengan cara yang mengenaskan, dan dikumpulkan di satu tempat yang sama?

Jika seharusnya semua penghuni rumah itu tewas terbunuh, bukankah seharusnya Azkia turut andil menjadi bagian di antara mereka?

Tiba-tiba Azkia merasakan hawa dingin menusuk di punggungnya. Napas Azkia tercekat begitu sadar bahwa ia tidak sendirian di ruangan itu. Ada seseorang di sana, di belakangnya. Tengah menyeringai dalam kegelapan lalu disusul tawa yang membuncah. Suara langkah kaki yang menggema di ruangan sunyi terdengar berkali lipat lebih menakutkan ketimbang mendapati sebuah rumah yang menjadi lokasi pembunuhan keji. Lelaki itu menyentuh bahu kiri Azkia, membuat gadis itu refleks menahan napas. Seolah itu belum cukup menakuti Azkia, lelaki itu meletakkan bilah besi tipis dan tajam di leher Azkia, menekannya kuat-kuat hingga darah segar mengalir dari leher kecilnya. Azkia terisak. Matanya terpejam. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya merapalkan beragam doa dan berharap Tuhan membebaskannya kali ini saja.

"Tenanglah. Kamu tidak perlu begitu takut," kata lelaki itu pelan dengan suara serak miliknya, nyaris berbisik. "Sebentar lagi kamu bisa bertemu dengan mereka."

Dengan sebuah seringaian yang tercetak di bibir, lelaki itu menambahkan, “Di surga.”

Baca Juga: Teaser Novel Tetanggaku Hantu di Cabaca

PALEMBANG, 1 FEBRUARI 2017

Azkia terduduk di atas kasur. Keringat membanjiri pelipis dan jantung yang semakin tak terkendali. Tangan kirinya terangkat menyentuh bagian dada. Sejurus kemudian suara detak jantungnya terdengar jelas. Perlahan, Azkia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. Setidaknya ia harus melakukan meditasi sederhana untuk menetralisir detak jantung yang semakin menggila. Sepasang bola mata Azkia mengerling ke segala arah, dan merasa was-was.

Mimpi itu lagi.

Azkia menyeka keringat yang mulai membasahi wajahnya. Sudah selama seminggu terakhir ini ia mimpi buruk, mimpi yang sama, dan hal yang sama. Terus berulang-ulang bagai kaset yang sudah usang. Tidur yang tidak nyenyak tentu membuat pikiran Azkia kacau-atau lebih tepatnya nyaris gila.

"Kamu kenapa?" Suara Ruri yang terdengar sangat dekat dengan Azkia membuat wanita itu terlonjak kaget dari tempatnya. Ruri sudah berdiri di sebelah ranjang, menyadarkan Azkia bahwa malam ini ia tengah menginap di tempat Ruri.

Azkia mendecakkan lidah, mendadak teringat alasan mengapa ia bisa menginap di rumah wanita yang bahkan hidup terlalu bebas karena terlalu lama melajang.

Azkia sudah menginap sejak seminggu yang lalu, sejak dirinya dicampakkan oleh Henry, seorang lelaki tampan yang telah menggoda hasrat seorang wanita tiga puluhan macam Azkia. Setelah seenaknya mengakhiri hubungan yang telah terjalin selama dua tahun secara sepihak, Azkia segera melarikan diri ke rumah Ruri dan menjadikan temannya sebagai tameng untuk meraung-raung, hingga menyumpahi desainer tampan itu. Namun, hari ini Azkia terpaksa kembali menginjakkan kaki di rumah yang tadinya dibeli untuk tempat tinggal mereka setelah menikah. Apa daya bila takdir tak berpihak pada ego manusia.

"Kamu ngagetin, tahu!" seru Azkia setengah memekik dengan posisi tangan yang masih memegang dadanya. Dahinya mengernyit tanda tidak suka ketika Ruri mengejutkannya.

"Lah, kamu dari tadi mengigau terus." Cibir Ruri tidak terima. "Terdengar sampai ke kamarku," sambungnya sementara Azkia masih terlihat menenangkan dirinya. "Mimpi buruk lagi?" kini Ruri sudah duduk di sebelah Azkia, mengelus punggung wanita itu pelan.

Azkia mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Ruri. "Sekarang jam berapa?" tanya Azkia sambil berusaha meraih kacamatanya yang ia letakkan di atas nakas.

"Jam enam pagi," kata Ruri sambil menyodorkan kacamata Azkia. "Kamu mau langsung pergi atau sarapan dulu?"

“Aku langsung pergi aja, deh. Aku sarapan di rumah aja." Ruri mengangguk-angguk saat Azkia memakai kacamatanya lalu melanjutkan, "Aku mau mandi dulu,” katanya lalu melengos ke kamar mandi.

Baca Juga: Teaser Novel Inside You Somewhere di Cabaca

Azkia terdiam beberapa saat setelah memarkirkan mobil di garasi rumah miliknya di salah satu perumahan elite yang ada di Palembang. Ia menatap kedua jemarinya yang masih memegang stir kemudi, lalu entah mengapa dadanya mendadak sesak. Perasaan aneh macam apa ini? Seolah ia baru melakukan sesuatu yang tak seharusnya ia lakukan. Sesuatu seperti... perasaan cemas dan bersalah?

Ia bingung dengan perasaannya, kerap kali ia menepuk-nepuk pipi sambil berusaha menyadarkan diri dari perasaan aneh tersebut. Azkia lalu turun dari mobil dan meninggalkan garasi.

Wanita itu berhenti tepat di depan pintu yang ia klaim sebagai rumahnya. Ia menekan beberapa angka yang menjadi kode keamanan rumahnya. Bunyi mirip seperti pip terdengar saat pintu itu berhasil dibuka. Ia masuk ke dalam setelah menutup pintu rapat-rapat, kemudian melepas sepatu yang dikenakannya lalu menaruh di rak sepatu.

Sekarang sudah pukul delapan pagi tapi langit seolah masih menujukkan pukul enam pagi. Wanita itu berjalan ke ruang tengah, masih dalam keadaan temaram. Hingga wanita itu merasa menginjak sesuatu yang terasa seperti kaki seseorang. Dengan kernyitan di dahi, wanita itu segera mencari saklar lampu lalu menghidupkannya.

Azkia menjerit tertahan begitu ia melihat Henry terkulai lemas di lantai. Luka sayatan terlihat di mana-mana. Terlebih lagi dengan darah segar di sekujur tubuhnya. Azkia memejamkan matanya lalu tangan kanannya menyentuh dinding, berusaha mencari penopang tubuhnya. Azkia membuka mata kembali, namun segera ditutupnya lagi. Kakinya sudah terlalu lemas untuk menopang tubuhnya, sehingga wanita itu ambruk di atas lantai sambil bersimbah air mata. Pandangannya agak kabur karena dirinya sendiri mulai terisak.

Makhluk keji mana yang sudah melakukan ini pada lelaki tampan yang pernah bersemayam di hati Azkia? Masalahnya, siapa yang berhasil memasuki rumahnya, lengkap dengan kode keamanan yang bahkan tidak diketahui oleh Ruri, orang terdekat Azkia saat ini? Sudah pasti sang pelaku mengetahui sandinya. Karena jika tidak, Azkia pasti sudah berhasil menemukan jejak-jejak pintunya dibobol. Jendelanya pun terlihat seperti semula, tidak ada tanda-tanda jendela itu dihancurkan secara paksa.

Keadaan di sana sangat bersih, nyaris tidak memungkinkan menjadi lokasi pembunuhan. Siapa pun pelakunya, yang pasti ia melakukan aksinya dengan sangat hati-hati dan teliti.

Tak berselang lama, Azkia samar-samar mendengar suara kegaduhan di luar rumah. Wanita itu menoleh tepat saat pintu berhasil didobrak dan satu per satu lelaki yang tak dikenal memasuki rumahnya. Salah satu di antara mereka berhenti di hadapan Azkia, menyodorkan selembar kertas di mana terdapat tulisan-tulisan yang tidak ia mengerti.

“Sesuai yang diatur dalam KUHP pasal 338, bahwa Anda, Azkia Nuria ditahan karena diduga telah melakukan pembunuhan terhadap saudara Henry Gunawan.”

Azkia bergeming di tempat. Wanita itu mendongak dengan dahi mengernyit dalam, tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana. Ia kemudian menatap sepasang bola mata seorang polisi yang tengah mengisyaratkan bawahannya untuk memborgol kedua tangan Azkia.

“Aku tidak pernah melakukannya.” Azkia berucap lirih sementara polisi yang lain berusaha memborgol dirinya. Lalu ketika polisi tersebut berusaha mengevakuasinya, Azkia berteriak dengan mata penuh air mata.

“Kubilang bukan aku yang melakukannya!”

Tatapan Azkia yang tertuju pada seorang jaksa yang bersikap tak acuh tersebut terlihat kecewa dan... marah.

Baca Juga: 6 Rekomendasi Novel Horor Terseram di Cabaca

Keluarganya habis... terbunuh... tak bersisa. Namun, Azkia masih saja menjadi tertuduh. Apakah mungkin dia yang membunuh keluarganya sendiri? Bukan cerita horor biasa, nuansa thriller berjudul Even Then, I siap membuat bulu kuduk merinding!

Download novel horor hanya di Cabaca! Tinggal aktifkan mode baca offline, kamu pun bisa baca di saat susah sinyal. Pasang aplikasi Cabaca yang ada di Play Store juga yuk! Untuk baca novel gratis sepuasnya, buka Cabaca pas Jam Baca Nasional atau Happy Hournya Cabaca, tiap pkl 21.00-22.00 WIB.

Pantang tidur sebelum baca novel gratis yang kamu suka di Cabaca!