Novel Emilia and The Scret Kingdom di Cabaca.id – Ada yang memanggilku, tapi entah siapa. Meminta tolong untuk diselamatkan dari kejahatan orang-orang yang tidak memiliki hati nurani. Memintaku untuk segera bangun dan bergerak menuju sebuah tempat yang kurasa tidak asing keberadaannya. Memintaku memindahkannya ke tempat yang lebih aman. Memintaku untuk segera bergerak dan mendengarkan suaranya.

Dia terus memanggil namaku, “Emilia. Emilia. Emilia, tolong aku!” Tapi, aku tidak bisa melihat wujudnya. Aku tidak bisa menemukan sumber suara itu meskipun suaranya terdengar jelas.

“Emilia, kau mendengar suaraku? Kumohon, tolonglah aku!”

Apakah ini mimpi atau nyata? Apa yang harus kulakukan pada suara itu? Apa yang bisa kubantu untuk bisa menyelamatkannya?

Baca Juga: Lebih Serem Diminta Jadi Bridesmaid Daripada Ditanya Kapan Nikah?

“Ingat baik-baik. Tugas kamu di sana hanya kuliah, jangan mencari masalah dengan warga desa!” kata sang ayah pada Emilia sebelum naik bus mini.

“Iya, Ayah. Emilia paham.”

Emilia mengingat setiap perkataan Kukuh—ayahnya—yang entah kenapa jadi rambu-rambu di setiap langkah kaki. Juga jadi tanda tanya besar yang kadang mengganggu  pikiran. “Apa maksud Ayah tentang jangan cari masalah?”

Bus mini yang mengantarnya dari terminal sudah berhenti di depan gapura besar. Gapura megah berwarna hijau tua dengan tulisan “Kampung Baru” tepat di bagian tengah. Sebelah kanan gapura itu ada pos ronda dengan tembok berwarna hijau muda, atap genteng yang rapi, dan sebuah kentungan dari bambu di bagian pojok. Di sebelahnya, beberapa pohon berdiri sambil berayun tertiup angin. Sungguh segar dipandang mata.

Emilia turun dari bus mini setelah menyerahkan uang kepada kernet. Tas ransel sudah ada di punggung, dan satu koper berukuran sedang ditarik dengan tangan kiri.

“Tempat ini sudah banyak berubah,” kata Emilia sambil tersenyum. Bahagia karena sudah sampai di tempat tujuan. “Tapi, udaranya tetap sejuk seperti dulu.”

Sebelum menuju ke rumah, dia memilih menemui ketua RT setempat. Sesuai dengan alamat yang diberikan oleh sang ayah, Emilia melapor untuk menetap kembali di desa ini selama beberapa tahun untuk keperluan kuliah. Setelah urusan dengan ketua RT selesai, Emilia kembali berjalan menuju tempat tujuan.

Langkah kakinya terhenti di depan sebuah bangunan klasik. Rumah joglo di sisi tengah yang dikelilingi taman di pinggirnya. Seluruh bangunan rumah terbuat dari kayu jati. Salah satu sebab meskipun sudah 10 tahun lebih tidak dihuni, rumah itu masih berdiri tegap.

Rumah itu adalah satu-satunya peninggalan kakek dan nenek, Aryo dan Hana. Juga satu-satunya kenangan yang tersisa untuk Emilia. Setiap sudut tempat yang ada di rumah itu tidak banyak berubah. Hanya bagian kamar mandi, dulu berada di luar rumah, sekarang sudah ada di dalam rumah menggunakan closet duduk. Juga dapur yang dulu masih menggunakan tungku, sekarang menggunakan kompor gas. Lantainya dulu masih  berupa tanah sekarang sudah menggunakan tegel. Setengah rumah bagian depan tetap sama, lantai dan dinding menggunakan kayu jati.

Dua minggu yang lalu Emilia sudah datang ke sini bersama sang ayah. Membersihkan beberapa bagian ruang dan memotong rumput yang menjulang tinggi hampir menutupi rumah. Kali ini Emilia harus datang lagi seorang diri, besok kegiatan ospek akan segera dimulai.

Koper yang sejak tadi ditarik, sejenak dibiarkan berdiri sendiri tepat di depan pintu. Emilia meraih kunci di dalam tas ransel. Membuka pintu dengan perlahan.

Aroma debu khas rumah tanpa penghuni masih tercium, meskipun dua minggu yang lalu sudah dibersihkan dan disemprot dengan pengharum ruangan. Pintu rumah dibuka lebar-lebar supaya udara bersirkulasi dan cahaya dari luar masuk. Beberapa jendela yang letaknya dekat pintu juga dibuka lebar-lebar.

Semua barang bawaan Emilia diletakkan di kamar depan. Tepat di sebelah kiri pintu masuk. Meskipun badannya terasa pegal, dia tidak bisa diam dan ingin membersihkan beberapa bagian rumah yang tampak kotor.

Baca Juga: Pilih Mana: Ditanya Kapan Nikah atau Dikatain Expired?

Setelah puas berjalan mengelilingi desa untuk menyapa tetangga sekaligus mencari makan untuk nanti malam, Emilia kembali ke rumah. Beberapa orang yang ditemuinya terasa familier dan lainnya baru pertama kali dijumpai.

Beberapa tempat bermain Emilia ketika kecil sudah berubah menjadi rumah tingkat yang megah. Langgar kecil tempat Emilia mengaji sudah berubah menjadi masjid besar. Sawah yang dulu jadi tempat favorit untuk memancing dan balap sepeda sudah berubah menjadi perumahan kecil di dalam sebuah perdesaan.

Telepon dari ayahnya membuat Emilia meletakkan plastik berisi makanan di atas meja makan. Lagi-lagi, kata-kata itu terdengar.

“Kamu harus hati-hati selama berada di sana. Jaga diri baik-baik dan jangan cari masalah dengan warga desa.”

“Emilia sudah berkililing ke sekitar, Ayah. Mereka tidak mengerikan.” Usaha Emilia meyakinkan sang ayah belum juga berhasil. Mungkin efek dari pertama kali berpisah cukup jauh dari putri kesayangannya pergi menuntut ilmu.

“Tetap saja, kamu harus berhati-hati.” Ayahnya sejenak diam. “Ingat pesan Ayah. Setiap ucapan, perilaku, dan keputusanmu harus selalu hati-hati. Ayah sudah mengenal seperti apa orang-orang di sana. Setiap apa yang ingin kamu lakukan harus bertanya dulu kepada Ayah.”

Tidak mau membuat hati Ayah Kukuh kecewa, Emilia menurut saja. “Iya, Ayah. Tenang saja.”

Telepon berakhir saat senja menyapa.

Emilia mendengar suara gaduh. Sumber suara berada di teras depan rumah. Seperti suara derap kaki dan juga seperti suara ketukan di atas lantai kayu.

Secara perlahan suara itu terdengar semakin keras. Emilia sedikit gugup. “Siapa?”

Sepatu yang ada di depan kamar dipegang erat-erat. Kalau saja ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, Emilia bisa menggunakan sepatu itu sebagai alat pertahanan diri.

Diintip dari balik jendela. “Tidak ada orang.”

Emilia membuka pintu depan dengan sangat pelan. Tidak ada siapa pun di teras rumah.

Baca Juga: Pernah Dikecewakan, Gadis ini Bikin Agen Rahasia Khusus Menyelidiki Orientasi Seksual

Pukul empat pagi, Emilia sudah bangun untuk menyiapkan buku tulis dan beberapa barang yang harus dibawa untuk keperluan ospek. Tidak ada banyak waktu untuk bersiap. Hanya sarapan dengan roti tawar yang kemarin sore dia beli.

Rambut panjang Emilia diikat rapi ke belakang. Topi kampus harus digunakan saat upacara. Kemeja putih lengan panjang. Rok hitam panjang. Dasi hitam yang didapat dari kampus. Sepatu hitam polos dan kaos kaki putih tanpa gambar.

“Aku sudah siap menjadi seorang mahasiswa.” Semangat Emilia terpancar kuat.

Peraturan dari senior, pukul enam pagi sudah harus berbaris rapi di lapangan upacara. Perjalanan dari rumah menuju kampus dengan berjalan kaki membutuhkan waktu tiga puluh menit. Emilia tidak mendapatkan fasilitas kendaraan dari sang ayah, pilihan satu-satunya menuju ke kampus adalah jalan kaki. Tidak ada kendaraan umum di desa ini.

Suara gaduh yang terdengar dari teras rumah kembali membuat Emilia penasaran. Sangat perlahan Emilia berjalan menuju jendela kamar. Mengintip ke arah luar.

“Tidak ada siapa-siapa.”

Lampu di luar masih menyala. Pukul lima pagi, langit hitam juga sudah mulai terang secara perlahan. Emilia mengintip lagi dari balik jendela dengan perlahan.

“Memang tidak ada siapa-siapa.” Emilia bergegas membereskan barang bawaan dan merapikan diri.

Semacam suara hentakan kaki terdengar kembali di teras depan. Emilia mematikan lampu lalu menutup pintu kamarnya. Membuka pintu ruang tamu secepat kilat. Mematikan lampu teras kemudian mengunci pintu depan dengan segera.

Emilia berlari kecil melewati teras. Menuruni anak tangga lalu berlari lagi melewati taman.

Seekor kucing kecil melintas di depan kaki Emilia. Mengeong dengan suara pelan.

“Dari mana datangnya kucing ini?” Emilia berpikir sejenak sebelum akhirnya melihat jam kecil di pergelangan tangan kiri. “Aku bisa terlambat kalau tidak segera berangkat.”

Kucing kecil yang tadi berjalan melintasi kakinya sudah tidak ada di tempat. Emilia menoleh ke arah belakang setelah mendengar suara derap kaki di teras rumah. Melihat ke sekeliling rumah. Menatap tajam ke arah jalan.

“Tidak ada siapa-siapa. Kucing kecil tadi juga sudah tidak terlihat wujudnya. Apa aku sedang mengigau?”

Emilia bisa merasakan detak jantungnya terpacu semakin kencang setelah berlari dari teras rumah. “Aku tidak mengigau, buktinya aku masih bisa merasakan detak jantung dan keringat yang mengalir deras di pelipis mata.”

Tanpa pikir panjang, Emilia bergegas menuju kampus karena sinar matahari sudah semakin terang. Sambil berlari kecil dia mencoba menghubungi ayahnya.

“Coba Ayah jelaskan, Emilia harus hati-hati terhadap apa saja selama berada di rumah Kakek?”

Baca Juga: Cabaca: Cara Baru Baca Novel Gratis!

Sejak bertemu dengan kucing itu, hidup Emilia berubah... Suka novel fantasi? Yuk, baca novel Emilia and The Secret Kingdom gratis di Cabaca.id.

Baca novel gratis genre lainnya tanpa ribet hanya dengan unduh aplikasi Cabaca di Play Store!

Baca novel gratis setiap hari dengan aplikasi Cabaca di HP kamu!