Teaser Novel Dua Makmum Satu Imam di Cabaca

Teaser Novel Dua Makmum Satu Imam di Cabaca – “Gila, Liam Hemsworth jomlo lagi!”

Aku geregetan melihat reaksi berlebihan Ulfa, teman sebangkuku. Bulan lalu ada infotainmen memberitakan kandasnya hubungan Selena Gomez dan Justin Bieber, Ulfa senang bukan main karena tidak menyukai si aktris Disney tersebut. Menurutnya, Selena terlalu bermutu (bermuka tua) untuk dipasangkan dengan Justin Bieber yang unyu-unyu. Dan sekarang, berita Liam Hemsworth tidak bisa beralih dari Miley Cyrus membuatnya mencak-mencak tidak jelas—seperti punya peluang saja untuk menjadi pengganti si pujaan hati bintang The Hunger Games itu!

“Bulan depan juga bakal balikan lagi,” sahutku malas-malasan. “Lima bulan lalu juga mereka putus, terus balikan lagi sebulan kemudian, kata infotainmen, sih.”

“Ah, pokoknya aku nggak suka kalau Liam kayak gini. Miley nggak cantik. Ini juga, kata infotainmen dia selingkuh! Aaarkh!”

Aku memutar bola mata sambil mencibir. “Kemarin itu juga ada infotainmen bilang Liam ciuman sama cewek lain. Mungkin karena itu mereka putus.”

“Ya, cowok wajarlah punya banyak penggemar. Tapi ini cewek, loh, dan demi apa pun Miley Cyrus itu nggak cantik!”

Aku mendengkus. “Cowok lagi yang dibela. Cewek salah, ya, cari lagi kesalahan lainnya. Giliran cowok yang salah, tetap dicari lagi kesalahan pihak cewek. Pret! Lagian, memangnya kamu lebih cantik daripada Miley Cyrus? Jauh kelesss!

Ulfa tidak lagi membalas. Dia sibuk menguntit akun-akun infotainmen di Instagram.

Simulasi ujian nasional berbasis komputer di sekolahku baru saja selesai. Aku dan Ulfa masih betah berada di kelas setelah menyelesaikan sesi satu, dua jam yang lalu. Selain karena memang lebih memilih belajar di sekolah, jaringan internet sekolah yang luar biasa kencang juga mendukung untuk berlama-lama di sini.

Sibuk memasukkan buku-buku ke tas, mataku kemudian terpaku pada tulisan kecil di sudut meja. Tulisanku. Senyum di sudut bibir tidak bisa kuhilangkan karena membaca tulisannya. Tidak ada yang tahu akan keberadaan tulisan itu, karena aku menutupinya dengan kertas origami—yang baru saja tidak sengaja tergeser—bercorak kupu-kupu.

Selesai mengemasi mengemasi buku-buku, aku menyandang tas, mencolek Ulfa agar segera berdiri. “Yuk, pulang!”

Sebelum benar-benar beranjak keluar dari kelas, aku kembali mematuti origami yang menyembunyikan tulisan indahku.

Irania <3

Baca Juga: Teaser Novel Wedding Dress for My Ex di Cabaca

Seperti sore-sore sebelumnya, aku menikmati camilan di tepi jendela kamar sambil terus memandang lurus ke rumah di seberang jalan. Seharusnya dia sebentar lagi pulang. Bukan, dia bukan kekasihku, melainkan calon imamku. Ayolah, jangan katakan ini terlalu berlebihan, meski aku pun tahu ini sangat di luar nalar. Tapi, ya … begitulah.

Mencintai seseorang bukanlah sebuah kesalahan. Sebab, rasa itu hadir karena murni diperintahkan oleh hati. Otak tidak akan punya peran banyak jika hati tidak memerintahkannya untuk berlaku. Sebab itu jugalah, hatiku menuntun untuk setia pada pujaan hati di rumah seberang jalan.

Seperti ilmu fisika, cinta bermakna kesetiaan. Jika seseorang ingin perasaan cintanya tetap berjalan lurus, maka selama tidak ada gangguan dari energi cinta lain, perasaan itu akan aman. Agar jalinan cinta tidak berhenti bergerak karena ada energi lain tersebut, maka dibutuhkan usaha agar resultan gaya dari energi lain itu menjadi nol, dan salah satu usahanya adalah menciptakan gaya kesetiaan.

Di sini, aku memiliki kesetiaan untuk tetap mencintai laki-laki di rumah seberang jalan. Aku tahu ini adalah sebuah pantangan, tapi, sekali lagi, cinta tidak akan bisa disalahkan. Sekalipun laki-laki itu lebih 13 tahun dariku. Sekalipun laki-laki itu sudah memiliki istri.

Ya, aku jatuh cinta pada lelaki yang sudah menikah. Istrinya adalah energi lain yang harus aku lenyapkan menjadi nol agar gaya kesetiaanku tetap utuh. Kejam, memang.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Cinta Butuh Jera di Cabaca

Apakah salah mencintai suami orang? Apalagi jika kita ikhlas menerima poligami? Sebuah sisi lain poligami tercermin dalam novel Dua Makmum Satu Imam. Baca gratis, eksklusif hanya di aplikasi Cabaca.

Berhenti download pdf novel dari sumber ilegal! Selain merugikan penulis dan penerbit, kualitas bacaan kita jadi menurun. Toh sekarang ada aplikasi baca novel Indonesia yang mengadakan program semacam happy hour, yaitu Jam Baca Nasional pada pukul 21.00 - 22.00 WIB tiap hari untuk baca novel gratis. Aplikasi Cabaca namanya. Yuk, download aplikasi Cabaca di Play Store dan nikmati keseruannya.

Baca novel Indonesia di Cabaca