Novel Devils Inside di Cabaca.id – Kualitas terbaik dari seorang laki-laki adalah keberaniannya

Dua pasang kaki jenjang mulus berlenggok memasuki pintu kaca. Runcing high heels beradu lantai pualam terdengar sensual. Para pemilik kaki tersebut membungkus tubuh berlekuk jam pasir mereka dengan off-shoulder-dress merah dan silver. Dua orang pria di ruangan yang sama, membendung hasrat sampai menelan liur masing-masing dengan tatapan lapar.

Perempuan bergaun merah menghampiri pria berkaos hitam. Hidungnya mungil mancung, sementara matanya bersorot eksotis serupa aktris Bollywood Deepika Padukone. Dengan lancang dia meletakkan jemari lentik berkuteks sewarna darah di bahu sang pria. Awalnya mengelus bahu, lalu naik meraba dagu berberewok itu. Sebuah bisikan erotis meluncur dari bibir berlipstik menantang, “Aku bisa bikin kamu happy.” Kemudian tanpa tahu malu mencium pipi sasarannya.

Mati-matian pria yang mendapatkan perlakuan merangsang tadi mencengkeram kursi kantor yang dia duduki. Potongan-potongan gambar tak senonoh dari komik hentai berloncatan dalam pikiran. Perempuan, satu kata magis pemantik hasrat. Mayoritas pria pasti suka. Betapa dilematis.

Mengikuti Si Merah, Perempuan Silver melingkarkan lengan mulus di leher sang pria. Rambut panjang beraroma musk menjuntai, menyentuh pipi berberewok di hadapan. Menyusul sentuhannya, kini suara sang perempuan lirih mengundang, “Aku akan ikut kamu ke mana aja.” Sungguh dua makhluk cantik yang benar-benar ahli menggoda lelaki.

Pria satu lagi—berkemeja abu-abu licin serta berdasi garis-garis biru—terbahak menonton atraksi tersebut. “Itu Grace,” katanya. Si Merah tersenyum. Jeruk dan cendana dari parfumnya menguar sempurna merasuk cuping hidung. “Dan itu Anggi.” Si Silver mencium pria berkaos hitam.

Orang yang baru saja bicara dengan raut menjijikkan adalah Direktur Komunikasi dan Hubungan Eksternal perusahaan pengolahan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Punggungnya bersandar di kursi kantor, menikmati pemandangan seseorang berwajah tegang mati-matian menahan hasrat.

“Apa maksud Bapak?” Randu Tio Hariman, sang pria berkaos hitam itu bertanya. Suaranya berwibawa, tenang, menantang. Dia pengacara dari LBH Optimus, pembela para pekerja PT Sawit Utama Cipta Karya alias PT SUCK. Tujuan demonstrasi, meminta pesangon pekerjanya dibayarkan sesuai hak.

Seharusnya Elang duduk di sini bersamanya, tapi asistennya itu mendadak bersikap aneh tadi pagi. Beberapa kali menghalangi peserta melanjutkan demo, berkeringat juga gelisah hingga Randu menyuruhnya pulang. Randu sudah menduga, ini masalahnya. Rahangnya mengeras.

Direktur berperut buncit memandangi Randu, berusaha mentransfer isi otaknya. “Saya kira semua jelas, Pak Randu. Tim Anda sudah menduduki kantor saya menuntut hak pekerja." Tidak ada nada simpati dalam suaranya. "Kami punya tim legal dan HRD di sini.” Direktur menjeda sejenak sebelum menambahkan, “Anda tidak perlu menyia-nyiakan tenaga dan pikiran. Perintahkan tim Anda mundur, lalu boleh bawa Grace dan Anggi pergi.” Tenang sekali layaknya menawarkan permen pada bocah berumur lima tahun.

Para perempuan seksi tersenyum mengundang, masih membelai sekujur wajah Randu. Jadi, begini cara PT SUCK membungkam para aktivis yang mencoba membantu para pekerja memperjuangkan nasib. Memakai jasa penjual kenikmatan. Dalam hati Randu menahan geram. Sejak memilih jalan hidup sebagai aktivis sekaligus pengacara, tawaran inilah yang paling melecehkan harga diri.

Direktur meletakkan tangannya di meja kantor. “Mungkin Anda bisa berbagi cerita dengan Mas Elang soal manisnya pear xiang lie.” Dia menyeringai.

Randu menatap tajam lawan bicaranya. Ini semua karena Elang. Si bocah kemarin sore yang dengan idiot menceburkan diri ke lumpur buatan orang-orang kaya. Dia benar-benar ingin mencari Elang lalu menghajarnya. Tak ada gunanya berada di tempat ini. Semakin lama semakin membuat kesal. Sekali sentak Randu mendorong kursi yang dia duduki. Para penjual kenikmatan mundur ke belakang disertai keterkejutan.

Rekan-rekan Randu pasti sangat kecewa. Mereka telah berjuang bersama berteriak-teriak di pelataran gedung, bernegosiasi dengan manager HRD, lalu Manager Legal. Semuanya menemui jalan buntu. Bagaimana nasib para pekerja renta dimakan usia yang jauh-jauh dari daerah mengadu nasib ke ibu kota? Randu tak bisa melupakan wajah-wajah muda lugu yang meninggalkan sanak keluarga ke perantauan demi pekerjaan. Semua sia-sia, berakhir dengan pemecatan tak manusiawi.

Dia benci orang kaya!

Firman, juniornya yang lain, bersama para mantan pekerja yang dia bela masih berada di luar menunggunya berunding dengan direktur sialan ini.

Randu berdiri. “Perlu Anda tahu, saya bukan manusia rendah. Kami tidak akan berhenti berjuang sampai di sini!” Setelah mengucapkan kata-katanya dengan tegas, dia melangkah cepat, keluar meninggalkan direktur PT SUCK.

Langkahnya panjang, hatinya panas ingin menerjang. Hak asasi manusia hanya benda jualan. Kenyataannya, banyak manusia mendapatkan mobil mewah dan rumah megah dengan cara memerah keringat orang lain.

Sejak muda, Randu sudah memperjuangkan nasib orang-orang tak punya. Tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit ketika berdemo. Dia rela menerima bayaran minim dalam perjuangannya. Dia tidak pernah marah karena itu. Namun kini, amarahnya memuncak. Randu sungguh ingin mencabik-cabik direktur kurang ajar di dalam sana.

Randu menelepon Firman. Mahasiswa Fakultas Hukum tingkat akhir itu berteriak melalui pengeras suara bercorong, membakar semangat para demonstran di depan gedung head office PT SUCK. Ratusan pekerja yang dirumahkan beberapa bulan tanpa kejelasan, khusus datang ke Jakarta dari pabrik di Karawang. Didengarnya suara berisik peserta demo. Yel-yel dan seruan-seruan menuntut hak terlontar dari kerongkongan mereka. Semua dilakukan sepenuh hati. Patuh, semuanya tidak ada yang melakukan tindakan merusak, sesuai instruksi Randu. Kini, mereka pasti sangat kecewa.

“Man, kita udahan dulu hari ini. Balik ke Optimus. Direktur PT SUCK nggak bakal mengabulkan tuntutan kita. Ganti strategi, kita pakai jalur hukum!” perintahnya seraya melirik arloji. Menurut peraturan polisi, unjuk rasa hanya diperbolehkan sampai pukul 6 sore.

Tidak ada balasan Firman, hanya suara teriakan peserta demonstrasi menusuk gendang telinga Randu.

"Man!" tegurnya.

“Si–Siap, Bang!” gagap suara di seberang, masih bercampur teriakan riuh.

Begitu pintu lift terbuka di lantai dasar, seorang pria berusia empat puluhan yang masih tampak gagah dalam seragam serbahitam menampakkan diri. Petugas keamanan PT SUCK itu mengenal Randu, orang yang membuat hidupnya susah dan beban pekerjaannya bertambah. Apa dipikirnya cuma para buruh yang butuh makan?

Randu mengangguk sekilas pada petugas keamanan lantas menuju pintu keluar. Lingkaran oranye senja menyinari belasan mobil dari stasiun televisi, media online, serta media cetak yang berjajar demi mendapatkan berita. Reporter dan cameraman mewawancarai polisi dan pekerja PT SUCK.

Didengarnya teriakan, “Kawan-kawan, untuk sementara kita cukupkan perjuangan sampai di sini. Mari pulang menghimpun tenaga.” Firman si Danlap―komandan lapangan―memberi komando.

Seharusnya hari ini ada tiga LBH yang mengikuti demonstrasi karena pekerjaan LBH selalu berjaringan. Namun, ketiga LBH itu batal mengirimkan perwakilan mereka. Randu tersenyum getir. Pasti mereka lebih memilih rupiah daripada mantan buruh.

Massa mundur teratur, sambil berbisik-bisik penuh tanda tanya. Terlihat rona kelegaan di wajah para polisi yang berjaga. Randu tersenyum sedikit sambil melewati para petugas berseragam. Beberapa dikenalnya karena sering berhadapan.

Mata setajam rajawali Randu membidikkan pandangan pada Firman. Kakinya melangkah ke sana ketika belasan awak media yang berdiri menunggu, sontak mengerubungi.

“Pak, bagaimana hasil negosiasinya?” tanya wartawan dari Rajasurya TV.

“Menuju langkah selanjutnya,” jawab Randu. Sepatunya turun satu undakan. Raut wajah keras dibingkai alis tebalnya menampakkan ketidaksukaan. Kelelahan berbaur rasa terhina memperburuk suasana hati.

“Apa langkah selanjutnya itu?” susul wartawan Menit.com.

Tanpa menoleh Randu menjawab, “Langkah hukum. Terima kasih.” Tubuh seratus delapan puluh sentimeternya tak kesulitan menyeruak kerumunan para wartawan yang masih ingin bertanya. Beberapa bahkan menjepretkan kamera, tetapi Randu tak peduli.

“Gimana, Bang?” tanya Firman begitu melihat seniornya berdiri di antara para mantan pekerja. Semuanya harap-harap cemas menunggu kepastian nasib.

“Gue tadi sudah ketemu salah satu direktur PT SUCK,” Randu membuka pembicaraan. “Gue pikir si direktur benar. Mereka main otak, kita juga main otak. Teknisnya kita bahas di Optimus,” lanjutnya dikelilingi para pekerja yang menggenggam spanduk bertuliskan: BAYARKAN HAK KAMI!

Randu merasa sangat bersalah. Digenggamnya bahu seorang pria seumur almarhum ayahnya. “Kita tidak akan berhenti berjuang, Pak. LBH Optimus tidak akan meninggalkan Bapak,” ucapnya sungguh-sungguh.

Mantan pekerja PT SUCK yang bahunya digenggam Randu, mengangguk sambil tersenyum. Bagaimana pun dia percaya pada pengacara ini. Teriakan yang semula membahana, kini menyisakan suara percakapan dengan nada biasa. Para polisi berbincang dengan demonstran dan wartawan.

Randu mengamati keriuhan di sekitar lalu menepuk punggung Firman. “Kita balik ke Optimus.”

Firman mengiakan. Sejurus kemudian dia berkata, “Bang, Elang kirim chat WA barusan. Katanya dia resign.”

Baca Juga: Teaser Novel Bedfriend di Cabaca

Optimus yang disebut-sebut Randu merupakan nama lembaga bantuan hukum. LBH itu sangat tak mirip kantor. Tembok luarnya tersusun dari susunan batu kali besar tanpa cat. Pagarnya banyak bengkok di sana-sini. Papan penunjuk yang memamerkan nama LBH OPTIMUS lapuk karatan. Empat buah pilar penyangga dicat merah menyala. Pohon mangga besar berusia sepuluh tahun di pekarangan menambah angker, terutama pada malam hari. Penampilan luar bangunan mirip sarang tuyul. Bahkan jin pun tak sampai hati buang anak di sini. Hanya dua macam manusia yang sudi menghabiskan hidup di LBH Optimus. Pertama, orang-orang berdedikasi tinggi pada kemanusiaan. Kedua, jenis manusia frustrasi yang tidak diterima kerja di mana pun.

Nama LBH Optimus sendiri bukan diambil dari nama Optimus Prime di film Transformer. Menilik artinya, pendiri LBH ingin agar lembaganya menjadi 'Yang Terbaik.' Nenek-nenek menopause juga tahu, itu semua omong kosong. Keuangan lembaga terseok-seok dari hari ke hari.

Beranjak ke dalam, situasi ruang kerja lebih terasa. Tiga buah meja kayu bercat cokelat ditata berhadapan dengan tiga meja bercat cokelat lain di seberang ruangan. Dinding-dinding putih pudar digantungi pigura. Di dalam pigura terpampang guntingan berita surat kabar dengan gambar seorang pengacara mengenakan toga hitam, memandangi jaksa yang dinilainya memberikan tuntutan ngawur pada kliennya. Foto itu diambil secara candid oleh wartawan. Klien Randu ―pengacara dalam pigura―adalah seorang supir truk yang diadili dengan tuduhan membawa kabur barang perusahaan yang diangkutnya. Sorot mata Randu mengingatkan pada Mickey Haller, tokoh yang diperankan Matthew McConaughey dalam “Lincoln Lawyer”. Tatapan yang membuat para perempuan kesurupan.

Selain guntingan surat kabar, terdapat pula potongan berita dari media online.

Berita Keadilan.com 4 April 3 tahun yang lalu:

2 pengacara LBH Optimus ditahan polisi saat bubarkan demo

Kota Kita Jaya.com 7 Agustus 2 tahun yang lalu:

Sidang Nelayan Pantura yang diwakili LBH Optimus berjalan rusuh

Rechtshandhaving.co.id dua bulan yang lalu:

Gagal demo dan negosiasi, LBH Optimus pimpin pekerja PT Sawit Utama Cipta Karya siapkan langkah selanjutnya

Randu bisa digolongkan keduanya, bekerja di sini demi kemanusiaan, sekaligus frustrasi. Bukan cuma masalah kliennya yang membuat naik pitam, melainkan juga dua juniornya.

Elang jelas pengkhianat. Lelaki muda itu meninggalkan LBH demi harta dan wanita. Masuk akal. Ambisinya terlalu besar untuk ditampung di sebuah LBH. Law firm mentereng lebih menjanjikan. Lalu, Firman. Entah kenapa Randu belum kena darah tinggi menghadapinya. Anak zaman sekarang tak punya kualitas yang seharusnya dimiliki untuk menjadi pengacara LBH.

“Firman! Otak lo di mana? Masa bikin surat permohonan mediasi saja nggak becus?!” Gelegar bentakan Randu terdengar sampai teras.

Firman, cowok berambut mi instan itu mengkeret di kursi. Randu benar-benar tak habis pikir, apa yang diajarkan dosen-dosen Fakultas Hukum zaman sekarang pada para mahasiswa? Mental anak muda selembek tape. Konsentrasi mudah pecah hanya karena sedikit lelah. Ingin diinjaknya jiwa mereka agar lebih tangguh.

Ambar Pradnya Rukmini, Muhammad Fadli, dan Gading Hananto—pengacara-pengacara di sana—memberikan tatapan penuh belas kasihan pada objek kemarahan Randu, sementara Firman bungkam seribu bahasa.

Fadli menutup map dokumen yang sedang dibacanya. “Sabar, Man,” dia melerai karena benci keributan. “Gue suruh Firman riset soal hukuman mati untuk terdakwa perkara narkotika.” Kurangnya personel membuat Firman, si anak magang menjadi kacung para pengacara di situ. “Mungkin dia jadi kecapekan.”

Fadli selalu simpatik. Selain pengacara, dia juga dosen. Pergaulan dengan para mahasiswa sedikit banyak menumbuhkan rasa toleransi. Di tengah era pamer mobil mewah ala YouTuber seperti sekarang, mencari mahasiswa yang sudi magang untuk jangka waktu lama dengan bayaran teramat minim tidaklah mudah. Kalau bisa magang di perusahaan besar dengan kepastian diangkat jadi karyawan setelah lulus, buat apa menjamah LBH?

Randu mendongak pada koleganya. “Nih, Fad. Baca surat Firman. Masa dia tulis ‘Kepada Yth Jaksa’. Sejak kapan permohonan mediasi buruh dialamatkan ke jaksa?” geramnya.

Sudah dua bulan sejak Elang meninggalkan LBH. Sejak saat itu, Randu minta pada atasannya untuk disediakan asisten, paralegal, anak magang, atau apalah. Bukannya tidak mengabulkan. Sudah dua bulan berlalu pula sejak direktur LBH Optimus memasang iklan perekrutan anak magang di website, kampus, bahkan masjid. Puluhan yang melamar. Begitu mendengar harus magang di situ dalam jangka waktu lebih dari tiga bulan dengan bayaran per hari sama dengan harga mi ayam di pinggir jalan, semua pelamar berguguran. Persis ketombe di rambut Lionel Messi waktu jadi bintang iklan sampo.

Menumpuknya pekerjaan mengakibatkan bukan hanya Firman yang lelah, melainkan juga Randu. Energi mereka tersedot untuk perkara mantan pekerja PT SUCK. Belum lagi perkara lain yang menyita perhatian.

“Ampun, Bang,” cicit Firman yang memang kelelahan karena demonstrasi. Belum lagi para kuli berita datang tanpa henti ke LBH Optimus, mengorek apa pun soal PT SUCK. Para jurnalis sangat penasaran dengan perusahaan di mana Chandra Atmadja adalah pemegang saham mayoritas. Staminanya tambah merosot dengan tumpukan tugas akhir kuliah. Sekarang dia merutuki diri kenapa mengambil topik PHK sebagai bahan skripsi.

Kemarahan Randu sedikit surut karena Fadli melerai. “Kalau memang masalah buruh terlalu berat, ganti judul skripsi lo,” nadanya turun  namun masih tajam.

Setelah puas membuat calon sarjana hukum itu mati kutu, Randu menyibukkan diri dengan laptop. Diketiknya surat permohonan mediasi seorang diri. Lima menit kemudian dia beranjak dari duduk, hendak pergi ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Jeremiah Ross—direktur LBH Optimus, alumni salah satu kampus Ivy League—masuk ke ruangan. Aksen cadel khas Negeri Abang Sam-nya berkumandang, “Hari ini ada calon anak magang yang mau diwawancara. Kamu jangan ke mana-mana, Ran.”

Randu semakin jengkel dengan perintah direkturnya. Memang dia sudah lama meminta asisten. Namun, Randu harus segera mendaftarkan permohonan mediasi. Kalau bukan dia yang mengerjakan, siapa lagi? Belum lagi gunungan dokumen pekerja yang belum disentuh seolah-olah mengejeknya. Ada perkara lain yang masuk dua bulan lalu. Seorang pekerja difitnah mencuri laptop milik perusahaan. Lama-lama bisa meledak kepalanya.

“Aku mau ke Disnakertrans. Kamu wawancara saja calon anak magang, Ross.” Randu harus mengejar waktu karena tak menyangka Firman mengulur pembuatan surat itu.

Mata hijau teduh Jeremiah Ross mengamati gerak-gerik Randu. Cekatan bersalut kejengkelan. Dia menghela napas lalu mengucap persetujuan, “Oke kalau begitu. Yang harus kamu tahu, kali ini pelamarnya bukan alumni Fakultas Hukum.”

Randu membalas dengan tawa mengejek. “Terus lulusan apa? Peternakan?”

Bagus juga, siapa tahu si calon anak magang punya gerombolan kerbau yang bisa disuruh menyeruduk para CEO PT SUCK.

Ross yang menganggap sistem hukum Indonesia amazing itu menggeleng. “Akuntansi. Minggu ini cuma dia yang melamar ke sini.”

Jadi ada anak akuntansi frustrasi yang melamar magang di LBH. Lelucon apa lagi ini?

Baca Juga: Teaser Novel Starry Starry Night di Cabaca

Elena dijadikan bahan taruhan di tempat magangnya. Tapi tanpa para lelaki itu sadari... Elena punya maksud lain. Ia datang ke LBH Optimus dengan misi balas dendam. Manakah yang akan menang? Cerita hot terbaru di Cabaca ini berjudul Devils Inside. Gratis baca novel di Cabaca!

Di Cabaca bisa download novel kesukaan dengan mengaktifkan mode offline. Makanya, download aplikasinya di Play Store! Daripada beli bajakan atau malah takut mahal, manfaatkan program Jam Baca Nasional atau Happy Hournya Cabaca, setiap pkl 21.00-22.00 WIB. Bisa baca novel tanpa kerang!

Sebelum tidur, baca novel kesukaanmu gratis di Cabaca!