Novel Dating Simulator di Cabaca.id--Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi dan kantor Exodius baru akan memulai jam operasionalnya pukul delapan. Namun, Fiona Alexander Marfin—pendiri sekaligus pemimpin dari Exodius sudah berada di dalam kantornya sejak satu jam yang lalu.

Secangkir cokelat mengeluarkan aroma manis yang menyegarkan, ditambah dengan beberapa buah marshmallow sebagai topping berada di atas meja Fiona. Matanya tak henti melihat penilaian, serta perkembangan beberapa aplikasi dan game online milik perusahaannya. Sesekali ia bergumam pelan dan sibuk memikirkan perbaruan apa saja yang dibutuhkan game-nya agar menjadi lebih efisien, dan tidak akan mengalami gangguan saat diakses.

Seperti biasa, banyak hal yang Fiona lakukan sebelum kantor benar-benar bekerja. Bukan karena ia tidak percaya dengan karyawan yang telah ditugaskan untuk menangani hal ini, tapi tidak ada salahnya jika ia turun tangan untuk mengecek perkembangan secara terperinci dari beberapa game dan aplikasi ciptaan perusahaannya ini.

Sudah cukup lama Fiona berkutat dengan komputernya, bahkan sesekali ia menyesap cokelat hangatnya untuk menghilangkan rasa kantuk di pagi hari. Namun sayangnya, rutinitas paginya sedikit terganggu dengan deringan telepon kantor.

Kriiiiinnngggg!

Fiona menggeram pelan sejenak sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut, "Ada apa?" tanya Fiona dengan kesal yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Menurutnya, ini masih terlalu cepat untuk menerima telepon di pagi hari.

"Maaf, Fi," kata Naila—selaku pengurus Revol di seberang sana, "ada klien penting yang ingin bertemu denganmu sekarang."

Alis Fiona saling bertaut, "Ini masih pagi, bahkan jam operasional belum mulai, kan?"

Entah mengapa, Fiona bisa merasakan Naila tersenyum di seberang sana, "Mungkin kamu terlalu serius di atas sana, sampai-sampai kamu lupa kalau jam operasional sudah mulai sejak dua jam yang lalu," ujar Naila, "kamu sudah bisa ditemui, kan?"

Tanpa sadar Fiona menghela napas pelan, "Baiklah, suruh dia naik ke kantorku," tutur Fiona.

"Baiklah." Tanpa basa-basi, Fiona langsung meletakkan kembali gagang telepon pada tempat semula.

Fiona meregangkan badannya, kemudian membereskan meja kerjanya yang telihat berantakan. Tak lupa ia menyingkirkan cangkir kosong bekas cokelat yang diminumnya tadi.

Tak lama, seseorang mengetuk pintu ruangan Fiona, "Fi, ini aku." Suara Naila terdengat di balik pintu, membuat alis Fiona kembali bertaut.

Jarang-jarang Naila mengantarkan langsung seorang tamu ke ruangannya. Biasanya perempuan berambut hitam itu hanya memberi arahan di mana letak kantor Fiona berada, atau menyuruh karyawan lain untuk mengantarnya.

"Masuk," jawab Fiona setelah berhasil merapikan kekacauan di meja kerjanya.

Naila masuk ke dalam ruangan Fiona, diikuti seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahunan yang memakai baju setelan lengkap dengan tatanan rambut bak bangsawan. Terlihat cantik dan elegan di saat yang sama, walau di usianya yang tidak lagi muda.

"Silakan duduk, Bu," pinta Naila ketika ia dan wanita itu sudah masuk ke dalam ruangan.

"Fi, kenalkan, beliau adalah Ibu Claudia. Beliau adalah istri dari Bapak Permana Sugio pemilik Universitas Vinea, salah satu kampus terbaik di Jakarta," kata Naila, "dan ini adalah Fiona, seseorang yang bisa dipercaya untuk menangani masalah Ibu."

Fiona mengulurkan tangannya sambil tersenyum, "Senang bisa bertemu dengan Anda."

Dengan sopan wanita itu meraih tangan Fiona dan kembali duduk.

"Jadi, masalah apa yang membuat Ibu datang kemari?" tanya Fiona dengan senyum khas miliknya. Walau sebenarnya ia sudah tahu apa maksud dan tujuan dari wanita itu datang menemuinya.

Wanita itu menghela napas sejenak, "Sebenarnya, saya sedikit khawatir dengan anak lelaki saya," katanya dengan nada yang sarat akan kekhawatiran, "kau tahu? Dia sama sekali belum pernah mengenalkan seorang gadis mana pun pada saya dan suami saya. Padahal umurnya sudah cukup matang untuk menikah, atau paling tidak memiliki kekasih. Terakhir kali yang saya ingat, ia izin pergi dengan seorang gadis dan kejadian itu sudah berlangsung sangat lama. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saat ia masih SMA."

Merasa pening, wanita itu langsung memijat pangkal hidungnya saat sedang bercerita, "Dan setahu saya, setelah hubungannya dan gadis itu selesai, ia hanya menghabiskan waktu dengan teman lelakinya saja. Saya takut, karena mereka terlihat sangat dekat ... dan ... saya takut jika anak saya ...," Wanita itu terlihat hampir putus asa, "tolong bantu saya."

Fiona menatap Naila, sedetik kemudian Naila berdiri dan mengambil sebuah map kuning yang terselip di salah satu folder di atas meja kerja Fiona. Setelahnya, Naila memberikan map itu pada Fiona.

Fiona menyerahkan dengan santun map berwarna kuning itu pada si wanita dan bisa dilihat wanita tadi menatap Fiona dan Naila dengan tatapan bingung.

"Map itu berisi kontrak awal mengenai kecurigaan Ibu," jelas Fiona, "kami tidak bisa langsung menyimpulkan kalau anak Ibu benar-benar menyimpang orientasinya dan map itu berisi kesediaan Ibu untuk mengizinkan kami mencari tahu."

Wanita itu membuka map dan membacanya dengan saksama, "Apa memang semahal ini hanya untuk penyelidikan selama lima hari?" tanyanya.

Fiona mengangguk, ia tahu pertanyaan itu akan terucap dari bibir setiap calon kliennya, "Itu hanya biaya jika kecurigaan Ibu memang benar dan harga itu sebanding dengan tidak mudahnya untuk memperjelas penyimpangan pada manusia, karena bisa saja mereka menyembunyikan fakta tersebut dengan baik," jelas Fiona, "kalau memang anak Ibu menyimpang, kami akan memberikan kontrak lanjutan untuk tawaran pemulihan anak Ibu."

Fiona meletakkan beberapa anak rambutnya ke belakang telinga, kemudian menatap dengan serius wanita tadi, "Dengan syarat, kami menolak memulihkan seseorang yang memiliki orientasi berbeda karena bawaan hormon atau gen dari manusia itu sendiri," ujar Fiona. "Jika anak Ibu tidak ada masalah dengan syarat tersebut, kami bisa memberikan pemulihan sesuai dengan permintaan pihak yang bersangkutan, baik secara konseling, pendekatan secara alami, atau simulasi kencan buta dari orang yang sudah disiapkan pihak agensi Revol atau pihak Ibu sendiri," terang Fiona.

"Batas kontrak lanjutan adalah satu minggu dengan tarif yang tertulis di map. Jika kami tidak bisa menyelesaikan tugas, kami akan mengembalikan uang pihak yang bersangkutan sebesar sembilan puluh persen dan sisanya hanya untuk biaya administrasi." Fiona menjelaskan, "Tetapi jika pihak bersangkutan ingin memperpanjang kontrak, maka ada biaya tambahan."

Wanita tadi menatap Fiona dengan ragu, kemudian kembali menatap map kuning yang dipegangnya, "Ini bisa membuat anak saya kembali, kan?" tanya wanita itu penuh harap.

"Kami akan berusaha sebaik mungkin," tegas Fiona.

"Baiklah, saya setuju."

Fiona menyerahkan pulpen yang berada di saku blazernya pada Ibu Claudia dan dengan cepat, wanita itu menandatangani kontrak perjanjian tersebut. Kemudian, tak lupa ia memberikan amplop cokelat tebal yang berisikan uang pada Fiona.

"Setelah ini, apa yang harus saya lakukan?" tanyanya, "kalian akan langsung bekerja, kan?"

Fiona mengangguk, "Kalau boleh saya tahu, apa kesibukan anak Anda sehari-hari, atau kegiatan apa yang akan dia lakukan dalam waktu dekat ini?" Disandarkannya punggung Fiona pada sandaran sofa yang empuk dan nyaman.

Wanita itu langsung mengangguk, "Saya dengar, Ruben anak saya akan pergi ke Hotel Heaven Green untuk menghadiri pesta ulang tahun salah satu temannya bernama Arief," jelasnya, "tapi saya merasa cemas saat tahu ia akan menginap selama tiga hari."

Fiona berdiri, "Kalau begitu saya akan langsung memulai investigasinya," ujar Fiona sambil menunjukkan senyum terbaiknya. "Jangan khawatir, kami akan menemukan kebenarannya dengan cepat."

Setelah membungkuk dengan sopan, Fiona langsung keluar dari ruangannya dan segera menghubungi Vera yang merupakan salah satu programmer sekaligus hacker di perusahaan Fiona.

Dalam tiga kali nada sambung, Vera langsung menjawab panggilannya, "Halo, Vera. Kamu sibuk?" tanya Fiona tanpa basa-basi.

"Aku cukup lengang, ada yang bisa kubantu?" tanya Vera.

"Tolong kamu cari tahu tentang pemesanan Hotel Heaven Green atas nama Ruben," perintah Fiona, "usahakan kamu memesan salah satu kamar tepat di sebelah dan yang berhadapan langsung dengan kamar itu."

"Baik."

"Ok, hubungi aku saat kau sudah mendapatkan informasinya," kata Fiona.

Saat sambungan telepon benar-benar terputus, Fiona langsung menghubungi Boy.

Tidak perlu waktu lama, Boy langsung mengangkat telepon Fiona, "Kamu merindukanku?" tanya Boy di seberang sana dengan suara menggoda.

Fiona mendecakkan lidah, "Aku tidak butuh candaamu sekarang," kesal Fiona, "siapkan mobil van-nya, kita akan pergi ke Hotel Heaven Green secepat mungkin."

"Aish! Baiklah, aku akan menunggumu di bawah." Tanpa menunggu balasan dari Fiona, Boy langsung memutuskan sambungan teleponnya.

Senyum mengembang di bibir Fiona, jantungnya memacu dengan cepat dan ia sangat menyukai sensasinya. Ia kembali mendapatkan klien Revol dan hal menyenangkan pasti sedang menunggunya.

Baca Juga: Cabaca: Cara Baru Baca Novel Gratis!

Waktu berlalu dan Fiona kini tengah sibuk menyiapkan peralatan yang mungkin ia perlukan. Melihat reaksi target secara detail sangat sulit jika hanya dilakukan sekali. Jadi, Fiona harus memastikan ia memasang kamera serta nano microphone di tempat yang strategis, agar reaksi-reaksi target bisa ia lihat dan baca dengan jelas.

Fiona sudah mendapat kabar dari Vera, bahwa gadis itu sudah meretas sistem hotel, bahkan Vera sudah memesan kamar sesuai dengan perintah Fiona.

"Kelihatannya kamu senang," kata Bo. "Apa karena kamu kembali berurusan dengan seorang homo?"

Fiona memberikan tatapan tajam pada Boy. "Karena kamu telah mengatakan hal yang menyebalkan, kali ini kamu yang akan jadi pemeran  utamanya."

Boy bergidik, "Apa?! Jangan bercanda! Kamu mau kehilangan agen terbaikmu?" Boy mulai panik ketika mendengar apa yang telah diucapkan oleh atasannya itu.

"Kalau demi kesuksesan investigasi, aku tidak keberatan. Lagi pula ... salahmu sendiri, karena telah mengatakan hal yang sangat tidak objektif," kata Fiona.

Boy berdecak kesal, "Dasar iblis."

Fiona sudah siap dengan berbagai macam perlengkapannya, tinggal memasang kamera kecil pada pakaian Boy dan anting magnet yang berfungsi sebagai alat komunikasi satu arah saat mereka tiba nanti. Di tengah jalanan yang cukup padat dengan berbagai macam kendaraan, Fiona berusaha memasang nano microphone pada balik kemeja Boy yang dirasa strategis dan tersembunyi, "Kamu yakin tidak ada rute lain selain ini? Kita harus sampai lebih cepat," tutur Fiona.

"Aku yakin," kata Boy agak kesal, "kalau lewat rute biasanya, kita bisa sampai dua puluh menit lebih lambat."

Fiona mengangkat bahu, yang penting ia harus sampai di Hotel Heaven Green dengan cepat dan kalau bisa sebelum target kembali ke hotel agar mereka tidak berpapasan langsung dengan target sebelum penyelidikan dimulai. Jika itu terjadi, maka berakhirlah sudah misi mereka hari ini dan terpaksa harus digantikan oleh agen lain.

Hotel dengan arsitektur sederhana namun berkelas dan disertai papan tulisan 'Heaven Green Hotel' berada kurang dari seratus meter di depan sana. Fiona sudah selesai mempersiapkan Boy dan juga meletakkan peralatan tambahan yang telah ia persiapkan dalam tas hitamnya.

Saat mobil van yang mereka kendarai sampai di Hotel Heaven Green, Fiona langsung turun dan menuju ke resepsionis untuk check in.

Setelah menyelesaikan urusannya di resepsionis, Fiona langsung kembali ke pada Boy yang baru saja selesai memarkirkan van yang tadi mereka pakai.

Tangan kanan Fiona mengulurkan salah satu kartu kamar yang ia dapatkan saat check in tadi pada Boy dan laki-laki itu langsung menerimanya. "Kita harus cepat sebelum target sampai," kata Fiona.

Boy menjawab dengan anggukan dan mereka bergegas masuk ke dalam lift.

Fiona menarik napas pelan, "Pertama-tama, kita akan menyiapkan diri masing-masing," jelas Fiona, "selanjutnya, aku akan meminta Vera untuk meretas sistem hotel dan mencari tahu apa yang dilakukan target."

Lagi-lagi Boy hanya mengangguk.

Suara tawa pelan keluar dari bibir Fiona, "Apa kamu segugup itu dengan investigasi kali ini?" Fiona sengaja menggoda Boy untuk mencairkan suasana.

Boy berdecak frustrasi, "Aku tidak gugup, hanya saja aku memikirkan cara supaya tidak terlibat lebih dalam dengan kehidupan mereka," ujar Boy, "kan tidak lucu jika aku juga ikut menjadi seperti mereka."

Tawa Fiona semakin menjadi-jadi dan di saat yang bersamaan, pintu lift terbuka di lantai tujuan mereka. Fiona melangkah lebih dulu, kemudian disusul oleh Boy.

"Ya ... suruh saja orangtuamu untuk menghubungi Revol, dengan senang hati aku akan menanganinya."

Untuk pertama kalinya Boy tidak menjawab pertanyaan Fiona dan mendiamkan pemimpin dari  Revol itu. Biasanya mereka akan saling adu mulut jika bertugas bersama seperti ini.

Ketika sampai di dalam kamarnya, Fiona dengan cekatan kembali mengatur dan memasang alat-alat penyadapnya bersama dengan Boy di dalam kamar hotel, tidak lupa ia memastikan apakah alat-alatnya berfungsi dengan baik atau tidak.

"Kudengar ... kamar target di sebelah kamarmu, ya?" tanya Boy yang sudah sangat siap dengan investigasinya.

Fiona mengangguk, sambil memperbaiki letak micro camera yang berada di baju Boy, "Aku sudah memasang alat perekam di dekat dinding. Siapa tahu kita mendapatkan informasi tambahan dari percakapan target."

Mata Fiona lalu menatap Boy, "Jangan lupa pasang earset micro milikmu yang satunya lagi, bisa-bisa kau tidak mendengar perintahku dengan jelas," pinta Fiona saat menyadari salah satu benda kecil itu masih dipegang Boy. "Kau tidak ingin terjebak sendirian di kandang singa itu, kan?"

Dengan cepat Boy langsung memasang earset micro di telinga kanannya, tak bisa dimungkiri jika laki-laki itu memang gugup.

Drt!

Ponsel Fiona bergetar, setelah membaca sekilas siapa yang meneleponnya, ia mengangkatnya, "Ada informasi baru, Vera?"

"Target sudah sampai di hotel," kata Vera di seberang sana. "Dari data yang kuterima, mereka memesan makanan dan minuman dalam jumlah besar untuk dibawakan ke kolam."

Tanpa sadar Fiona mengangguk, "Ada lagi?"

"Aku curiga akan ada pesta LGBT di hotel itu nantinya," ujar Vera, "karena akan ada pesta yang dilaksanakan pada jam 8 malam dan dihadiri beberapa orang ternama yang memang diisukan mengalami penyimpangan orientasi seksual," ungkap Vera. "Sejauh ini, hanya itu yang dapat kusampaikan."

Tanpa meminta persetujuan Vera, Fiona langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia lalu menatap ke arah Boy yang kini tengah duduk di atas kasur.

"Ganti celanamu dengan celana pendek," pinta Fiona. "Aku akan menunggumu di sini selama tiga menit dan kita pergi ke tempat target."

Entah karena gugup atau apa, Boy menaikkan alisnya, tidak mengerti, "Kenapa aku harus ganti celana?"

Fiona menghela napas, "Karena tidak mungkin kau bersantai di kolam renang dengan celana jeans panjang, Boy Andreas."

Baca Juga: Ini 6 Alasan Novel Beranda Kenangan Layak Dibaca untuk Mengenang Kerusuhan Mei 1998

Tidak sampai lima menit, kini Fiona dan Boy sudah berada di kolam renang Hotel Heaven Green. Fiona memakai kaus oblong dan hotpants untuk menyamar di tengah kolam renang yang cukup ramai dipenuhi oleh pengunjung hotel.

Lima meter di depan Fiona ada Boy yang memakai kaus oblong dilapisi kemeja dan dilengapi celana puntung. Untung saja Boy adalah agen profesional, sehingga saat ini, laki-laki itu berhasil berbaur dengan sekitar. Dari gerak-geriknya, Fiona sama sekali tidak melihat adanya rasa gugup pada laki-laki berumur dua puluh dua tahun itu.

"Cari informasi sebanyak mungkin, lalu aku akan memberikan arahan selanjutnya," kata Fiona sebelum memilih untuk merebahkan diri di salah satu kursi santai berbahan kayu yang ada di pinggir kolam, tidak lupa ia memesan sunny peach pada pelayan agar tidak bosan saat melihat Boy beraksi dari tempatnya.

Sebenarnya Fiona tidak ingin mengakui ini, tapi Boy memang agen yang berbakat jika menyangkut berbaur dengan para target yang jelas-jelas merupakan orang asing. Lihat saja, bahkan laki-laki itu sudah bisa membuat lawan bicaranya terlihat nyaman.

"Ini pesanan Anda." Suara seorang pelayan membuat Fiona bangkit dari rebahannya dan meraih gelas itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Boy. Ia meraih jus yang diletakkan di meja kayu yang berada tepat di sampingnya.

"Maaf, Nona, itu bukan pesananmu." Fiona menghentikan aksinya, tangannya hanya hampir menggenggam gelas dari jus itu.

"Sorry, kupikir pesananku."

Laki-laki itu tersenyum miring, "Apa salahnya memastikan terlebih dahulu sebelum memegangnya, sih?" sinisnya.

"Saya kan, sudah minta maaf," balas Fiona, "lagi pula minumannya belum saya minum, kok. Cuma hampir saya pegang gelasnya."

"Tetap saja, kamu—"

"Apa harus, kita berdebat karena masalah sepeleh seperti ini?" tanya Fiona yang sedang menahan amarahnya, "kalau perlu, saya bayar minuman ini untukmu!"

Laki-laki itu menatap Fiona sejenak dengan tatapan tidak suka, "Tidak perlu," katanya ketus. “Saya bahkan bisa membeli seluruh minuman di tempat ini, dua kali lipat kalau perlu.”

Fiona mendecakkan lidah, “Saya tahu kamu itu memiliki banyak uang, tidak perlu dipamerkan seperti ini. Apa untungnya?” ujar Fiona tak kalah sinis. “Lagi pula kita berada dalam status yang sama, yaitu pengunjung, jangan berlagak kamu adalah pemiliknya.”

Tawa remeh keluar dari laki-laki itu, “Kamu salah besar,” jawabnya dengan santai dan terdengar sangat menyebalkan di telinga Fiona. “Saya memang pemilik hotel ini, bisa saja saya usir kamu sekarang.”

Mendengar ucapan laki-laki itu Fiona tersenyum miring, hanya masalah sepele—sangat sepele malah—laki-laki ini mengeluarkan kartu AS-nya? Pecundang. Namun, mengingat jika kekuasaan laki-laki memang benar adanya, investigasi Fiona akan terancam, apalagi sekarang seluruh mata memandang ke arah mereka berdua.

“Takut?” tanya laki-laki itu merendahkan. Ia memberi satu tatapan tak suka pada Fiona sebelum meninggalkan Fiona yang sengaja menahan amarahnya.

Dengan susah payah Fiona menahan dirinya untuk tidak mengejar laki-laki itu dan memukulnya. Bagaimana bisa, hanya karena masalah sepele seperti itu, ia harus berdebat dan menjadi tontonan orang-orang?

Fiona kembali merebahkan badan di kursi tadi. Namun, saat pandangannya ingin kembali pada posisi Boy sebelumnya, ia sudah tidak melihat sosok laki-laki itu.

"Gawat, aku kehilangan jejak mereka." Fiona berdecak kesal. Bisa-bisanya ia kecolongan seperti ini. Laki-laki tadi sudah benar-benar menyulut kemarahannya. Kalau saja Fiona tidak sedang bekerja, mungkin ia sudah menendang tulang keringnya, setidaknya untuk melepaskan rasa kesal di hatinya.

Baca Juga: 10 Jawaban untuk Pertanyaan Kapan Nikah Saat Acara Halalbihalal

Baca kisah selengkapnya dalam novel Dating Simulator di Cabaca.id, klik di sini untuk baca GRATIS.

Cabaca merupakan aplikasi baca novel dan penerbitan digital di Indonesia. Temukan novel dengan beragam genre yang bisa dibaca gratis dengan download aplikasi Cabaca di Play Store

Baca novel gratis dan legal hanya di Cabaca!