Teaser Novel Cinta Butuh Jera di Cabaca

Teaser Novel Cinta Butuh Jera di Cabaca – Sore itu, Galih merasa bahwa pekerjaannya di kantor terlalu banyak menyita waktu. Seharusnya ia bisa pulang sebelum jam empat sore kalau saja rekan kerja samanya yang merupakan kontraktor swasta itu tidak minta meeting dadakan. Padahal pembahasan soal proyek pembangunan dermaga masih bisa dilanjutkan esok hari.

Tangan Galih sibuk memasukkan barang-barang pribadi ke dalam ransel ketika ia menjepit ponselnya di antara bahu dan telinga sembari menjawab telepon dari Anis. “Iya, Sayang … kamu tunggu dua puluh menit, ya? Ini aku lagi OTW jemput kamu, kok.”

Terkadang, orang yang sedang kasmaran memang tampak tidak waras. Galih tersenyum sendiri pasca menutup telepon dari sang calon istri. Ya, Galih memang secinta itu pada Anissa hingga raut wajah euforianya menjadi bahan olok-olok teman satu ruangannya di kantor. Itu sudah menjadi hal biasa bagi Galih. Semua orang yang ada di ruangan itu tahu kalau Galih adalah tipe pria lupa diri kalau sudah berurusan dengan yang namanya cinta dan Anis.

Pria dengan rambut potongan undercut itu melengos dengan senyum sekadar ketika teman-temannya mencibir menggunakan kata-kata candaan. Tentu saja ia tidak sempat menanggapi omongan mereka. Galih menggantung tas ranselnya di bahu kanan seperti prajurit yang membawa senjata saat langkahnya terburu keluar dari kantor menuju parkiran mobil. Begitu ia duduk di atas jok kemudi, Galih menyalakan mesin lantas melajukan mobil Mercy tiger merahnya lantas dengan cermat membelah jalanan Jakarta yang dirundung kemacetan.

***

Anis melangkahkan kaki keluar dari toko bakery tempat ia bekerja. Ada kelegaan napas tatkala sinar matahari sore menyambutnya hangat. Ia menyempatkan diri menengok ke belakang. Lantas tersenyum sendiri, menyadari bahwa beberapa minggu lagi ia akan meninggalkan tempat ini.

Kini, gadis berambut lurus panjang sepungggung itu memusatkan perhatian pada trotoar, tempat di mana biasa ia menunggu angkutan umum. Dan tentu saja, tempat di mana biasa ia menunggu lelaki pujaannya datang menjemput.

Dari jarak tiga puluh meter, Anis sudah bisa melihat mobil berwarna merah benderang milik Galih tengah berupaya melewati kemacetan yang tak terlalu parah. Ia tersenyum saat Galih berhasil menghentikan mobil tepat di hadapannya.

Tanpa perlu berpikir keras, Anis langsung masuk, memerosotkan diri di jok kesukaannya sementara tangan kiri Galih memasukkan persneling sembari menyapanya hangat bak mentari sore.

Mobil Galih adalah Mercy tiger klasik produksi tahun 1980. Waktu Galih masih duduk di semester dua perkuliahannya, ayahnya memberikan mobil itu sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke sembilan belas. Ia menabungkan uangnya sedikit demi sedikit untuk membuat mobil tua itu tampak lebih bersih, keren, dan sempurna. Ia mengganti semua joknya dengan warna hitam mengkilap berbahan kulit, memasang layar sentuh di dasbornya, ia juga memasang speaker di setiap pintu bagian dalam. Sehingga setiap ia menyalakan musik, telinga akan dicekoki suara menggema dari bass speaker yang bergetar-getar.

Anis memasukkan tangannya ke dalam tas, lalu dengan cepat mengeluarkan contoh-contoh undangan, menyusunnya seperti jajaran kartu. "Coba lihat! Aku punya beberapa contoh undangan dari Hikmal, kamu lebih suka yang mana?" Ia mendekatkan undangan itu hampir ke wajah Galih.

"Kalau kamu suka yang mana?" tanya Galih kembali.

"Mmmm ... kayaknya ungu cantik. Lihat lamit mengkilapnya, aku juga suka font-nya."

Galih memusatkan perhatian beberapa detik, masih tetap fokus pada jalanan di sekitarnya. "Ungu bagus."

Di saat itu juga Anis tersenyum, merasa menang bahwa tebakan Hikmal kali ini sangatlah meleset. Detik ini juga ia bisa merangkai kata-kata yang pantas untuk menyela temannya itu sepuas hati esok harinya.

"Eh sepertinya hitam lebih keren, hitam aja deh."

Anis langsung memasang ekspresi lunglai mendengar pernyataan yang baru saja dikeluarkan dari bibir manis lelaki itu.

"Hitam?" serunya, "Kamu yakin? Apa kerennya, sih, hitam? Bukannya tadi kamu pilih warna ungu?" Sedikit paksaan barangkali perlu.

"Sayang, hitam itu netral, kamu perhatikan baik-baik, desainnya kelihatan beda dari undangan lain. Lagi pula jarang kan orang pakai undangan warna hitam?"

Ya, bagian yang terakhir barang kali benar, bukan berarti Anis juga tak suka dengan pilihan Galih, hanya saja ia memang lebih suka yang ungu. Apakah ia perlu menghipnotis agar calon suaminya itu menurut?

"Galih, hitam memang―"

"Keren! Ya, kan?" Galih dengan sengaja menyambungnya. "Aku tahu kamu juga suka hitam. Bilang sama Hikmal, kita minta dibuatkan yang warna hitam. Oke?”

"Tapi—"

"Udah ... ngapain dipersulit, sih? Aku yakin hitam adalah pilihan yang tepat." Galih tersenyum. Matanya menyipit hampir tak kelihatan.

Anis tak boleh egois. Lelaki di sampingnya itu telah ada bersamanya selama enam tahun. Sejak mereka bertemu di rumahnya saat Levin―teman semasa SMA-nya yang masih punya hubungan saudara dengan Galih—membawa Galih ke rumahnya untuk diperkenalkan.

Wajah tampan serta perangai yang dimiliki pria itu telah membuatnya jatuh cinta mulai dari pandangan pertama. Meskipun awalnya ia cukup ragu dengan perasaan itu, merasa tak pantas bila gadis biasa seperti dia, yang hanya berakhir di pendidikan SMA dan tidak sarjana, yang tak memiliki rupa secantik wanita kelas atas, harus mengharapkan perasaan yang sama dari seorang pria berpendidikan tinggi.

Hanya saja Anis tak tahu harus mengucapkan rasa terima kasihnya dengan cara seperti apa karena Galih telah bersedia setulus hati mencintainya, memberikan segala hal yang terbaik selama ini juga menjaganya dengan sepenuh hati bahkan tak pernah menuntut apa pun darinya kecuali setia.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Wedding Dress for My Ex di Cabaca

Bagaimana caramu memastikan bahwa tidak ada orang lain yang mencintai kekasihmu selain dirimu sendiri? Aniss dan Galih tak pernah tenang karena berhasil membawa orang ketiga dalam kehidupan cinta mereka. Suka novel romantis? Kamu akan suka novel Cinta Butuh Jera karya I. Majid ini. Baca gratis di aplikasi Cabaca.

Berhenti cari link download pdf novel bajakan! Sudah ada aplikasi baca novel Indonesia yang mewadahi kita untuk baca gratis dan legal, kayak aplikasi Cabaca. Manfaatkan aja program semacam happy hour, yaitu Jam Baca Nasional pada pukul 21.00 - 22.00 WIB tiap hari untuk baca novel tanpa kerang. Download aplikasi Cabaca di Play Store yuk.

Baca novel Indonesia di Cabaca