Novel Cinderena and The Imperfect Prince di Cabaca.id – RUANG XII-IPS 2 yang terletak tepat di sebelah kanan tangga menuju lantai dua gedung utama SMA Nusantara terdengar mulai gaduh. Terhitung sejak guru sejarah menyelesaikan pelajaran—yang menurut sebagian murid membosankan—mengemasi buku dan berjalan meninggalkan kelas. Jam istirahat masih lima menit lagi, sebagian penghuni memilih langsung pergi ke kantin dengan alasan sudah lapar atau ingin dapat tempat pertama, dan sebagian lagi menetap di kelas sambil mengobrol.

“Na, ntar jangan lupa ada rapat Buletin pulang sekolah,” kata Amel yang kebetulan duduk tepat di bangku depan Rena. Memutar tubuh; meletakkan lengan kiri pada meja Rena, menatap cewek yang sedang sibuk membereskan buku-buku.

“Wajib datang ya? Izin nggak bisa?”

Amel mendengkus dan berbalik. Mulutnya mengomel—merutuki Rena yang mentang-mentang sudah tidak menjabat bagian penting— karena Rena lebih sering mangkir dari kegiatan.

“Lo mau maraton drama Korea ya?” tuduh Amel.

“Nggak lah. Tuh.” Rena menunjuk Resa—saudarinya—yang sudah berdiri di depan kelasnya dengan dagu dan sibuk membalas sapaan beberapa siswa.

“Gue ada janji sama Resa mau nemenin dia ke ulang tahun bokapnya,” lanjutnya. “Nggak bisa nggak hadir gitu? Kalau Cuma ngebahas soal hot profile bulan depan sih, gue ikut kata kalian aja.”

Amel tahu kalau itu hanya segelintir alasan yang Rena berikan supaya tidak perlu menghadiri meeting mingguan. Kalau cewek berkacamata itu boleh tebak, Rena masih trauma dengan kejadian rubrik utama yang dipercayakan padanya malah menuai hasil sebaliknya.

Dua bulan lalu—sama seperti bulan-bulan sebelumnya yang menganti setiap penanggung jawab—Rena diberi kepercayaan membuat rubrik utama. Dengan tema tentang prestasi non akademik, Rena sangat bersemangat ketika mengusulkan nama Amar dalam forum diskusi. Cewek itu bahkan tidak memberi cela anggota Buletin bicara dan terus memaparkan alasan kenapa harus Amar yang mengisi rubrik utama. Tidak perlu banyak perdebatan, mereka setuju tentang menuliskan prestasi Amar.

For your information, Zidanne Amar Faiq Atthalah memang tergolong siswa berprestasi dan cukup populer. Dia menjabat sebagai kapten tim sepak bola sekolah sejak memenangkan perlombaan olahraga antar sekolah se-Kota Malang. Sebenarnya dari fakta itu saja sudah membuat para siswi tergila-gila. Namun ada selentingan kabar kalau Amar itu sombong dan sedikit angkuh. Bahkan dia sangat pemilih dalam berteman. Hanya golongan yang dianggap menguntungkan yang akan dia ajak bicara. Jadi meski sebagian memujanya, tidak sedikit yang merasa kalau cowok itu berlebihan.

“Ntar gue tanyain ke pengurus yang lain deh, Na.”

“Oke. Kabarin gue aja ya?”

Rena segera mengayun langkah keluar kelas. Menyenggol lengan Resa yang ternyata tidak sadar dia sudah berada di sana untuk beberapa saat. Rena mengedikkan kepala dan mereka berjalan beriringan menuju kantin.

“Lo ngomongin apaan sih sama Amel? Kok kayak yang serius gitu tadi,” kata Resa. “Gue jadi nggak enak sendiri mau nerobos kelas.”

Mereka baru saja melewati turunan pertama dan berpapasan dengan beberapa murid. Resa kembali sibuk membalas sapaan yang tertuju padanya. Kalau Rena lebih senang mendekam di balik laptop di ruang redaksi Buletin, Resa aktif sebagai anggota cheerleaders yang sering memboyong piala.

“Soal meeting mingguan yang dimajuin jadi hari ini sepulang sekolah,” kata Rena.

“Jadi lo nggak bisa nganterin gue ke tempat bokap dong?”

“Belum tahu sih ini wajib apa nggak. Kalau nungguin gue gimana? Palingan nggak sampai magrib kok, ntar biar gue yang kasih kabar ke Om Sanjaya kalau lo nungguin gue dulu.”

Resa menggeleng. “Nggak usah deh, gue berangkat sendiri aja. Lo nggak papa balik naik ojol?”

Setiap tahun—di hari ulang tahun Sanjaya lebih tepatnya—Resa selalu menghabiskan waktu lebih banyak dengan ayah kandungnya itu. Namun belakangan, Rena menjadi tameng supaya Resa tidak harus berlama-lama berada di rumah Sanjaya.

Rena mengapit lengan saudarinya itu ketika mereka berbelok pada lorong menuju kantin. “Amel masih ngomong sama anak-anak di Buletin kok. Ya semoga aja gue nggak harus ikutan.”

Kantin berada di luar gedung. Terletak tidak jauh dari gerbang belakang, akses tercepat adalah dengan menyusuri pinggir lapangan bola yang berjarak beberapa meter di sebelah kanan. Dua kakak-beradik itu melewati kantor Bimbingan Konseling dan melihat Bu Yani sedang bersama dua orang yang tidak asing lagi berada di tempat itu. Sempat beradu pandang dengan cowok yang tersenyum tipis, Rena memilih berjalan cepat mendahului Resa.

Menyapa singkat, dengan sedikit berlari Resa mengejar ketertinggalan langkahnya dari Rena.

“Tadi Malvin, kan? Kenapa lagi dia?”

Rena diam—benar-benar diam—dan terus menjejalkan langkah memasuki kantin. Dia benar-benar tidak tertarik tentang semua hal yang berhubungan dengan Malvin. Karena cowok yang sempat satu kelas bersamanya saat kelas X, sama sekali tidak mempunyai nilai positif di matanya. Malvin itu pembuat onar nomor satu di SMA Nusantara. Setiap hari ada saja kelakuan nakalnya yang membuat dia berurusan dengan kesiswaan. Mulai dari membolos, mengerjai teman sekelas sampai memukul siapa saja yang dia anggap meremehkan dirinya. Dia pernah harus digiring ke kantor polisi karena terlibat tawuran. Dan anehnya sekolah hanya memberinya hukuman skorsing. Lalu pria yang bersamanya tadi—yang kemungkinan ayahnya—selalu datang setiap kali Malvin berulah, terlihat biasa saja bahkan masih bisa menyalami Bu Yani sambil tersenyum. Kalau itu Papanya, mungkin sudah sejak lama Malvin masuk ke Pesantren.

Memesan semangkuk mie ayam dengan tambahan krupuk pangsit juga segelas es teh, Rena mencari tempat duduk. Favoritnya berada di pojok sebelah kanan—sedikit menjorok keluar—jarak terdekat dengan lapangan bola. Biasanya dia akan menikmati makan siang dengan memandangi Amar yang tengah latihan atau sekadar bermain menghabiskan jam istirahat. Berlarian dari ujung satu ke ujung yang lain, menggiring dan menendang bola, tersenyum senang saat mencetak angka, lalu memberi arahan pada rekan satu timnya.

“Marsha mana? Tumben nggak kelihatan,” tanya Rena yang menyadari sahabatnya sejak Sekolah Menengah Pertama tidak juga dia temukan. “Biasanya udah duluan keep meja.”

“Tadi sih dia bilangnya mau ke perpustakaan aja. Ada tugas yang harus diselesaiin hari ini.”

“Nanti mampir ke perpus dulu ya. Dia pasti ngomel-ngomel karena nggak istirahat.”

Resa mengangguk. Tidak lama pesanan makan siang mereka datang. Rena lebih suka menambahkan saos sambal pada mangkuknya sementara Resa memenuhi dengan sambal. Jangan tanya apa Rena pernah memperingatkan saudarinya tentang mengkonsumsi makanan pedas berlebihan.

“Kok nggak ada Amar sih?” tanya Rena.

Ini sudah lima belas menit sejak bel istirahat berdenting. Kantin mulai penuh, dan di lapangan bola terlihat beberapa siswa yang bermain sepak bola. Namun sejauh mata memandang, Rena tidak melihat batang hidung Amar.

“Lo kenapa sih hari ini, perasaan banyak nggak tahunya deh,” sindir Resa dan cewek yang duduk di hadapannya; mengaduk mienya terlihat mengerucutkan bibir.

“Anak ekskul bola lagi ada latihan di luar. Kira-kira semingguan baru balik ke sekolah.”

“Lama banget sih? Padahal gue, kan butuh banget ngelihat Amar biar nggak kena sial.”

“Lha emang apa hubungannya ngelihat Amar sama ketiban sial? Bucin ada-ada aja ngomongnya.”

“Kan lo tahu sendiri gue baru ketemu sama Malvin.”

Resa menggeleng pelan dan mengulum senyum. Jangankan saudari tiri, yang kandung saja punya beberapa perbedaan. Pun dengan mereka. Kalau Resa tipikal yang biasa saja dengan Malvin, lalu Marsha—sahabat mereka—yang bahkan masih sering terlihat mengobrol. Lain lagi dengan Rena, cewek itu antipati dengan Malvin and the gang. Alasannya klasik, Rena tidak suka pada anak-anak pembuat masalah. Baginya mereka hanyalah sekelompok anak bermasalah yang menyelesaikan masalah dengan membuat masalah. Benar-benar biang masalah.

“Lo kenapa sih benci banget sama Malvin? Kayak dia virus mematikan aja.”

“Ya emang dia mirip banget sama virus yang harus dibasmi.”

“Kalau ntar lo jatuh cinta sama Malvin gimana?”

Rena hampir tersedak makanannya. Meneguk es teh dan membersihkan mulut menggunakan tisu, dia menatap Resa.

“Gue bakalan traktir lo sama Marsha jajan di kantin selama seminggu.”

“Janji ya? Gue mau kasih tahu Marsha soal ini. Awas lo ingkar.”

Rena mengabaikan Resa yang sepertinya sedang mengirimi Marsha pesan singkat. Pasti cewek itu akan langsung membuat keributan di perpustakaan. Dan kalau tugasnya tidak mendadak, sudah dipastikan dia akan menyusul dua saudari itu ke kantin; meminta penjelasan secara langsung.

“Hei, girls. Gue boleh duduk di sini?”

Dua cewek dengan kesibukkan masing-masing, mengangkat wajah bersamaan. Seorang cowok dengan nampan berisi dua piring siomay dan es jeruk berdiri di hadapan mereka. Berbeda dengan Resa yang menampilkan wajah ceria, Rena justru sebaliknya.

“Duduk aja. Ini tempat um—“

“Nggak! Lo cari tempat lain aja sana.”

Mata Jimmy membulat. Dia kesal, tapi rasa lapar dan terpaksa karena hampir semua tempat duduk sudah penuh, cowok itu masih bisa bersikap sabar.

“Kalau ada tempat kosong, gue nggak mungkin nanya buat numpang di sini.”

“Kalau gitu lo tungguin aja sampai ada yang selesai makan. Pokoknya jangan di sini,” kata Rena acuh tak acuh.

Batas kesabaran seseorang ada batasnya. Pun dengan Jimmy yang notabene dikenal sebagai salah satu gang pembuat onar di sekolah. Bisa saja dia langsung meletakkan nampan yang dibawanya ke meja; menyantap makan siang dan tidak peduli omelan siapa pun.

“Na, udahlah. Lagian ini tempat umum kok.” Resa menyenggol lengan Rena dan berusaha menenangkan cewek itu.

“Duduk aja nggak papa, Jim,” lanjutnya.

Jimmy tersenyum dan langsung mengempaskan bokongnya pada kursi. Tidak peduli bagaimana raut wajah Rena sekarang, dia benar-benar sudah lapar.

“Lo makan dua porsi?” tanya Resa begitu melihat ada dua piring dalam nampan.

“Nggak kok. Ini satu buat temen gue. Masih absen dia.”

Rena menggebrak meja dan beranjak. Lagi-lagi membuat Jimmy menahan amarah karena hampir saja kentang yang sudah dia sendok jatuh.

“Gue makin nggak nafsu makan kalau ada temennya.”

Dan sedetik kemudian Rena sudah meninggalkan meja dan berjalan keluar kantin. Resa juga Jimmy hanya saling pandang dan tersenyum kikuk.

“Maafin kakak gue ya? Orangnya emang radak sensitif,” kata Resa.

Baca Juga: Teaser Novel Signy di Cabaca

Rena adalah Cinderella di dunia nyata yang beruntung. Ibu tirinya baik. Sayangnya, tidak ada pangeran yang sesempurna dalam dongeng. Baca novel Cinderena and The Imperfect Prince gratis di Cabaca.

Sudah install aplikasi Cabaca di Play Store? Kalau belum, buruan download supaya bisa baca novel gratis tiap hari.

Baca novel gratis tiap jam baca nasional di Cabaca!