Teaser Novel Cermin Merah di Cabaca – Pria berjas cokelat susu mengulurkan tangan kepada wanita yang sedari tadi menggigit ibu jarinya. “Jangan tegang, Nadya Maureenia. Semua akan berjalan lancar,” ucapnya, berusaha menenangkan.

Nadya menarik kedua sudut bibirnya sembari menerima uluran tangan Hushea, sahabat yang dikenalnya sejak SMA. Namun, apa yang Hushea katakan tak mampu menghentikan tangan Nadya yang masih saja bergetar. Benar kata orang, menikah itu jauh lebih gugup dari sidang skripsi dan wawancara kerja.

“Ayo, kita jalan.” Pria berkulit sawo matang itu langsung mengaitkan tangan Nadya ke lengan kekarnya, mengusap lembut punggung tangan Nadya. “Ambil napas, buang. Ulangi sampai tiga kali. Tegangnya pasti hilang, percaya deh,” perintahnya.

Nadya mengangguk, menuruti perintah sahabat yang sudah dianggapnya seperti saudara.

Hushea menatap wajah sahabat tersayangnya. Setelah Nadya resmi menjadi istri Dion, mungkin Hushea tak akan bisa lagi berdekatan seperti itu. Bahkan mungkin, mereka akan jarang bertemu karena Nadya akan lebih sibuk mengurusi keluarga kecilnya. Akhirnya apa yang dicemaskannya terjadi.

“Jangan lama-lama ngeliatin aku kaya gitu dong, nanti kamu nangis lagi,” celetuk Nadya.

Hushea terkekeh. “Enggak akan mungkin, aku malah bersyukur. Soalnya aku enggak akan direpotin lagi sama kamu,” sahut Hushea. Bibir dan hatinya bertolak belakang.

“Oh gitu, jadi selama ini—”

“Udah-udah, nanti dilanjut lagi. Kasihan Dion. Udah kurus, kepanasan, nungguin kamu lama banget bisa-bisa berubah jadi kerupuk kulit lagi,” canda Hushea, lalu tertawa kecil sembari menahan rasa sesak di dadanya.

Nadya tersenyum lebar sembari memukul pelan lengan sahabatnya.

“Gitu dong, enggak tegang kan jadinya?” ucap Hushea. Nadya mengangguk, ia pun mengeratkan pegangannya.

Nadya dan Hushea berjalan bersama-sama di atas hamparan bunga mawar yang sangat kontras dengan warna putih karpet. Sesekali Hushea dan Nadya bertukar tatap. Namun, tatapan mereka menggambarkan perasaan yang bertolak belakang. Nadya merasa sangat bahagia, sedangkan Hushea merasa sebaliknya.

Pria berambut hitam kemerahan itu menyugar rambutnya sembari menggeleng. Seharusnya Hushea ikut bahagia, walau orang yang dicintainya bahagia dengan orang lain. Itulah prinsip mencintai dengan tulus.

Sesampainya di depan panggung kecil berhias mawar merah, Dion Subagja, pria yang sudah berpacaran dengan Nadya selama lima tahun itu menuruni tangga samping sembari tersenyum lebar. Pria berwajah oriental itu terlihat gagah dan memesona dengan jas putih tulang yang membalut tubuh tinggi semampainya. Dion mengulurkan tangan, meminta Hushea untuk menyerahkan wanita yang dipilihnya sebagai partner seumur hidup.

Hati kecil Hushea tak rela melepas Nadya, wanita yang sudah mengambil banyak ruang di hatinya sejak masih berseragam putih abu-abu.

Dion mengerutkan dahi lalu menepuk bahu sahabat kekasihnya. “Sorry, kenapa, ya? Apa ada masalah?”

Nadya menepuk pelan bahu Hushea, membuatnya tersadar. Lagi-lagi dirinya menyadari bahwa perasaan itu tak boleh dibiarkan terus tumbuh.

Nadya mengusap pelan bahu sahabatnya dengan alis tertekuk. “Kenapa? Apa kamu ....”

“Ma-Maaf. Mungkin karena lagi banyak kerjaan, terus kurang tidur juga, jadi enggak fokus. Sekali lagi maaf, ya,” elaknya, berdusta. Hushea segera menyerahkan tangan Nadya sembari menarik paksa kedua sudut bibirnya ke atas. “Kudoakan semua berjalan dengan lancar.”

“Amin,” balas Nadya dan Dion bersamaan.

“Makasih, Hushea,” lanjut Nadya sembari tersenyum lebar.

“Tolong jaga dan bahagiain Nadya ya, Bro,” ucap Hushea dengan mata mulai berkaca-kaca.

“Pasti,” sahut Dion, lalu memandang wajah Nadya. “Aku akan selalu menjaga dan memberikannya kebahagiaan, karena dia satu-satunya wanita yang paling berharga dalam hidup aku,” lanjutnya sembari melempar senyum sangat lebar kepada Hushea.

Nadya menatap wajah Hushea, ia jadi tak tega melihat kesenduan yang terbingkai di mata sahabat baiknya, yang jarang dilihatnya. Wanita berkulit eksotis itu mengusap punggung Hushea dengan sangat lembut.

“Jangan sedih gitu dong, Hushea. Aku kan cuma mau nikah, bukan mau pergi jauh atau menghilang dari ....”

Utss, jangan ngomong gitu. Pamali atuh. Di hari bahagia itu kamu harus ngomong yang baik-baik. Supaya kebahagiaan terus menyelimuti rumah tangga kalian,” potong Hushea sembari melepaskan tangan Nadya. Hatinya memberontak, logikanya meronta ingin mengungkapkan perasaan yang sudah dipendamnya selama sepuluh tahun. Bisikkan-bisikkan setan terus menggodanya, tetapi tak ingin keegoisannya menghancurkan persahabatan yang sudah terbangun sangat lama.

Hushea langsung menyatukan tangan Nadya dengan Dion. “Cepatlah kalian naik, nanti yang nikahin keburu dicomot “kucing tetangga” lagi,” candanya, berusaha menutupi apa yang tengah dirasakannya.

Nadya terkekeh dengan candaan receh Hushea. “Terima kasih banyak, Sahabatku tersayang.” Ia mengecup singkat pipi kanan Hushea, lalu mengangkat sedikit ekor gaun putih tulangnya, dan naik ke altar bersama Dion.

Hushea tersenyum kecil, menyembunyikan dadanya yang semakin terhimpit. Ia menyeka sudut matanya yang mulai basah. Mencintai itu amat mudah, namun merelakannya sungguh tak mudah.

Nadya dan Dion saling berhadapan, lalu bertatapan. Rona kebahagiaan bercampur limpahan cinta dan kasih sayang itu terpancar jelas di wajah keduanya. Nadya dan Dion tampak serasi, seperti putri dan pangeran. Di hadapan pastor, mereka mengikrarkan janji sehidup semati.

Sekuat-kuatnya Hushea menahan, akhirnya ia memilih untuk mencari angin segar di luar hotel. Berpura-pura baik-baik saja itu ternyata tidak dapat menutupi rasa sakit yang amat luar biasa di dadanya. Malah ia merasa semakin terluka. Benar kata orang-orang, luka perih yang tak berdarah, tapi sangat menyakitkan itu adalah patah hati.

Saat berjalan menuju pintu keluar hotel, tanpa sengaja pria berkuncir satu menyenggol dan menumpahkan minuman ke jas Hushea.

“Maaf, maaf. Biar saya bersihkan.” Pria berkuncir satu itu langsung mengeluarkan saputangan sutra merahnya dari saku celana.

Hushea segera mengambil saputangan itu, lalu membersihkan jasnya. Ia melirik botol plastik yang berada di tangan sang pemuda, sepertinya orang yang berdiri di hadapannya itu telah menumpahkan minuman manis, di mana nodanya bisa meninggalkan bekas di jas pemberian Nadya kalau tidak cepat-cepat dibersihkan. Tak ingin jas pemberian orang tersayangnya rusak, Hushea segera pergi ke toilet untuk membersihkannya. Namun, langkahnya terhenti saat lengan kekarnya di tahan pria itu.

“Tenang, Mas. Biar saya langsung bersihkan di toilet, sendirian aja. Jadi ....”

“Tapi bukan itu yang saya maksud. Saya hanya ingin bertanya. Acara pernikahan Dion Subagja di mana, ya?”

Dahi Hushea mengerut, ia memperhatikan lawan bicaranya dari kepala sampai kaki. Dahinya mengerut dengan alis tertaut, ia tak bisa melihat jelas wajahnya karena tertutup masker hitam.

Pria itu mengencangkan maskernya.

“Memang kamu siapanya Dion?” tanya Hushea, sangat penasaran.

“Saya teman sekolahnya, saya di undang ke acara pernikahannya.”

Bibir Hushea membulat. “Acaranya di taman paling ujung, langsung ke sana aja.”

Pria berpakaian serba hitam itu mengangguk. “Sekali lagi saya minta maaf, dan terima kasih. Saya permisi.” Ia berjalan menuju tempat acara pernikahan sang target, sesaat ia menoleh—memperhatikan Hushea yang berjalan berlawanan arah dengan terburu-buru. Pria berkuncir satu itu langsung mengeluarkan ponsel, mengirim pesan singkat pada kliennya.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Another Affair di Cabaca

Nadya pikir menikah dengan Dion akan berakhir bahagia. Sebuah cermin merah dari hadiah pernikahan justru mendatangkan teror! Novel misteri yang menarik untuk dibaca, Cermin Merah, gratis dan eksklusif di aplikasi Cabaca.

Daripada download pdf novel dari sumber yang gak jelas, mending install aja aplikasi Cabaca. Setiap harinya ada program Jam Baca Nasional alias Happy Hournya Cabaca yang bisa dimanfaatkan untuk baca novel online gratis. Cuma di jam 21.00-22.00 WIB dan hanya via aplikasi Cabaca. Coba unduh aplikasinya di Play Store.

Baca novel Indonesia di Cabaca