Novel Carok Terakhir di Cabaca.id – Pamekasan, 1946. Hamparan tegalan tanpa mahkota mulai menganga. Bekertak diterpa surya. Menyisakan bayang air di permukaan tanah yang merah. Debu berterbangan bersama dedaunan yang terembus sarayu.

Di sisi utara perbukitan yang mulai gundul, burung-burung terbang berhamburan menerjang langit tak berawan. Mereka terusik oleh amarah yang memekik.

Pipa celana gombor hitam Mat Rozak, bergerak-gerak saat berjalan cepat melintasi bukit. Kaki telanjangnya menginjak serakan dedaunan kering. Ujung pesak berkibar menampakkan gagang celurit yang terselip pada sabuk hijau besar di pinggang.

Di bawah kaki bukit, pada sepetak tegalan jagung yang belum selesai dibabat, seorang pria terbungkuk menantang terik bagaskara. Peluh menderas di punggung cokelatnya yang telanjang. Urat-urat menonjol di sekujur lengan, setiap kali ia sabetkan calo ke batang-batang jagung yang mengering.

Gelak tawa dan percakapan antara dua orang pemuda menggema di hawa yang gerah. Kareem menegakkan punggung, melempar pandang ke sisi terjauh batas tegalannya. Tersenyum sekilas memandang keriangan dua pemuda di sana.

Pemuda jangkung memunggungi rekannya yang berambut ikal. Kedua tangan mereka sibuk memetik tongkol-tongkol jagung dari batang.

"Malam ini ada remo carok di kampung sebelah. Kau ikutlah dengan kami," cakap si jangkung tanpa menoleh ke belakang.

Si ikal menghentikan tawa di bibir. Ia kembali memasukkan tongkol-tongkol jagung yang terserak di tanah ke dalam keranjang bambu.

"Jangan mencemooh. Aku sama sekali tak memenuhi syarat untuk masuk ke sana."

Si jangkung tergelak sambil memperhatikan si ikal yang berjalan menjauh dengan keranjang bambu penuh jagung di bahu. "Haha .... Tak semua belater itu adalah orang jago. Kalau berduit, yah, sudah pasti."

Kareem kembali membungkuk. Ia ikat potongan batang jagung yang baru selesai dibabat. Celana gombor putih selututnya terlihat kusam. Keringat menderas di bawah rambut kemerahannya yang terpapar matahari.

Suara percakapan dan gelak tawa dua pemuda di kejauhan semakin samar. Tergantikan kepakan sayap dan kicauan burung yang terbang menjauh, diikuti suara tapak kaki yang mendekat ke arah Kareem.

Pria paruh baya itu menghentikan aktivitasnya dan berdiri tegak ke arah datangnya suara.

Terlihat Mat Rozak tiba di batas tegalan milik Kareem. Ia berdiri dengan tatapan penuh amarah dan bibir yang mencemooh. Membuat kumis baplangnya sedikit bergerak.

Tangan kasar pria itu menarik celurit yang terselip di sabuk dengan cepat. Saat tatapan mereka beradu, Mat Rozak segera melepas selotong dan mengacungkan celurit ke arah Kareem.

Kareem berdiri dengan tatapan bingung. Rambut merah jagungnya yang mengikal dan lembap, menjuntai di sekitar pelipis. Destar batik merah di kepalanya sedikit miring.

“Kita selesaikan saat ini juga, Kareem!” Mat Rozak menggeram. Pesak tak berkancingnya sesekali terbuka tertiup angin, menampakkan tubuh padat berisi. Ujung bilah celurit di tangannya berkilat membiaskan ketajaman.

Kareem segera meraih calo yang tergeletak di dekat kaki. “Tahan, Mat! Apa pun itu yang membuatmu marah, bisa kita bicarakan dengan kepala dingin!”

“Banyak mulut! Tak sedikit orang yang membicarakan perbuatan busukmu, Kareem!" Tangan pria itu semakin mengepal pada gagang celuritnya.

"Lokana daging bisa ejai, tape mon lokana ate thada’ tambana, kejabana ngero dara!—Luka badan bisa dijahit, tetapi luka hati tidak ada obatnya, kecuali dengan tumpahnya darah!”

Kareem menggertakkan gigi menahan amarah. “Tapi bukan begini cara lelaki Madura sejati menyelesaikan masalah! Jika memang darah yang kau pinta, kita lakukan di arena!”

Baca Juga: Teaser Novel >9 SR di Cabaca

Mat Rozak telah menutup telinga. Ia berlari menyerang Kareem yang masih mematung. Celurit ia sabetkan dengan membabi buta.

Tubuh Kareem refleks menahan serangan itu. Ia balas menyabetkan calo yang tidak begitu tajam dengan gesit.

Debu berhamburan dari risakan kaki mereka di permukaan tanah yang kering, mengaburkan sekejap pandangan mata. Suara angin dan dahan berkeriut, mengiringi dentingan dua bilah senjata tajam yang beradu.

Si jangkung dan si ikal yang baru akan pergi membawa sekeranjang penuh jagung, menghentikan langkah. Mereka menoleh ke arah sumber suara. Terlihat puncak destar Kareem di antara rimbunan batang jagung yang belum dibabat.

Celurit Mat Rozak melayang tepat di atas kepala Kareem saat ia mengelak, sehingga hanya mengenai ujung destarnya. Ujung calo Kareem berhasil menggores dada kiri Mat Rozak. Darah pekat meleleh dari luka yang menganga.

Kedua pemuda itu saling tatap, lalu menjatuhkan keranjang bambu berisi jagung yang mereka bawa. Berlari bersama-sama menuju tempat Kareem berada.

Si ikal berlari mengambil cangkul sambil berteriak lantang kepada si jangkung, "Cepat ambil parang!"

Ia melaju mendahului si jangkung sambil sesekali melompat menghindari tunggul jagung.

"Anom …!"

Mat Rozak terjengkang sambil memegangi lukanya. Tatapan mata pria itu semakin liar. Dalam satu kesempatan, ia usap jaza' yang terkalung di leher menggunakan telunjuk dan ibu jari kiri.

"Kau tidak akan selamat dari arek keramatku, Kareem!" Menyeringai, lalu mengeratkan kembali genggaman celuritnya. Ia bangkit dan menyerang Kareem dengan lebih brutal.

Kareem tersungkur dengan luka sabetan di punggung. Napasnya tersengal. “Kau kerji’ Mat Rozak! Tak akan terbayar rasa malo’ kau dengan cara nyelep.”

Kareem menyabetkan calo ke arah kepala Mat Rozak. Mat Rozak menghalau menggunakan lengan kiri dan balas menyabetkan ujung celuritnya ke perut Kareem.

Sebuah cangkul mendarat di tengkuk Mat Rozak.

Kareem roboh sambil memegangi perutnya yang koyak. Disusul Mat Rozak kemudian, karena hantaman cangkul.

Si ikal menjerap napas yang terputus-putus. Lelah dan ketakutan. Ia jatuhkan cangkul di dekat tubuh Mat Rozak yang tak sadarkan diri.

Si jangkung datang. Ia menatap genangan darah dari perut Kareem. Parang di tangan kirinya terlepas dari genggaman yang bergetar. Lekas ia membalik tubuh Kareem yang telungkup. Ia terus mengguncang tubuh Kareem yang tak bernyawa. Berteriak dan terisak. "Anom ...! Anom …!"

Ia usap air mata mengunakan punggung lengan dengan kasar. Meraba-raba tanah merah mencari calo milik Kareem yang terpental  ke akar randu. Geliginya saling gemertak menahan amarah.

Si ikal menarik lengannya. “Hei, apa yang akan kaulakukan?”

...

baca selanjutnya di sini

Baca Juga: Teaser Novel Mustaka Ke-13 di Cabaca

Sebuah cerita tentang cinta dan dendam dirangkum dalam tradisi Carok... Apakah darah harus dikucurkan agar Dyah dan Praseno dapat bersatu? Novel Carok Terakhir bisa dibaca di Cabaca, GRATIS unduh aplikasinya.

Mau baca novel di HP tapi legal? Coba buka Cabaca aja deh. Kalau mau baca novel gratis bisa pas Jam Baca Nasional atau Happy Hournya Cabaca tiap pkl 21.00-22.00 WIB. SETIAP HARI! Jadi, buat apa download novel Indonesia pdf, kalau bisa baca di aplikasi Cabaca?

Ke mana aja belum pakai aplikasi Cabaca? Baca novel jadi gampang banget!