Novel Assalamualaikum Aluna di Cabaca.id Kamar ini terlihat sepi dan kotor, bukan karena sudah lama tidak dihuni. Melainkan, karena penghuninya kembali tertidur pulas setelah hampir tujuh jam lebih membalas semua chat dari pelanggan terkait launching produk lilin aromaterapi dan packing hampir dua ratus dus lilin siap kirim untuk nanti sore.

Aluna Syafiqah, namanya. Pemilik kamar berwarna merah jambu dengan semua furniture yang juga berwarna merah jambu. Di dekat meja belajar, terdapat ratusan botol kecil dan stoples-stoples yang biasa ia gunakan untuk membuat lilin aromaterapi. Ya, diawal usia dua puluh empatnya, ia berhasil menjadi salah satu pengusaha lilin aromaterapi yang lumayan sukses.

Dalam seminggu, setidaknya ia bisa mengirimkan minimal empat ratus dus lilin aroma terapi. Hebatnya, Aluna bekerja sendirian karena ia tidak mudah percaya dengan orang lain. Walaupun menyulitkan, tetapi ia suka melakukannya.

Tok! Tok! Tok!

“Luna,” panggil bundanya pelan dari luar pintu. “Luna, katanya tadi minta bantuan sama Ko Ramli buat nganterin paket ke JNE. Itu orangnya sudah datang,” ujarnya seraya masuk ke dalam kamar anaknya yang berantakan dan membangunkannya perlahan.

Aluna membalikkan badannya dengan mata yang masih terpejam. “Ko Ramli emang nggak jaga bakmi dulu?” tanyanya pelan, seperti sedang melindur.

Bunda pun membangunkan Aluna perlahan-lahan dan menepuk-nepuk punggungnya. “Ayo, biar cepat selesai,” sarannya.

Aluna mengangguk pelan. “Oke, Luna mandi dulu. Tiga menit,” ujarnya seraya keluar dari kamar, dan langsung masuk ke kamar mandi. Sedangkan Bunda membuntuti keluar kamar dan pergi menemui Ramli.

“Ramli, Aluna-nya baru bangun dan sedang mandi. Kamu tunggu dulu, ya? Dia kelelahan sekali sepertinya. Hari ini harus kirim dua ratus dus dan tadi malam dia menulis sampai hampir pagi,” ujar Bunda panjang.

Ramli tersenyum. “Tidak apa-apa, Bunda,” katanya singkat.

“Gimana kabar papamu? Dua hari kemarin, masih terbaring saja di kamar, kan,” ujar Bunda khawatir.

“Alhamdulillah, sudah membaik Bunda. Sudah bisa duduk di kursi roda dan makan bersama kami di meja makan,” balasnya seraya menjelaskan.

Bunda tersenyum senang. “Alhamdulillah! Nanti, Bunda kirimin makanan kesukaan papa dan mamamu, deh! Kue lapis.”

“Terima kasih, Bunda.” Ramli berkata seraya menganggukkan kepalanya.

Baca Juga: Teaser Novel Rebound di Cabaca.id

Tiba-tiba, Aluna keluar dari rumah sambil menggeret puluhan kardus kecil dengan troli yang memang sengaja ia beli untuk mempermudah pengangkutan kardus. “Ko, hari ini lama ngga apa-apa?” tanyanya sambil cengengesan.

“Udah biasa lama, bukan?” tanya Ramli meledek.

Aluna langsung cemberut. “Mobilnya deketin, Ko,” pintanya. “Kardusnya banyak banget ini,” lanjutnya seraya memperlihatkan, bahwa yang ada di troli belumlah setengahnya.

Ramli mengangguk sambil berlari ke mobil dan memarkirnya tepat di depan troli Aluna. Lalu, ia segera keluar dan membantu Aluna memasukkan dan menata semua kardusnya di dalam mobil kijang tua tersebut.

Aluna harus mondar-mandir sampai empat kali untuk membawa semua kardus masuk ke dalam mobil. Setelah itu, ia pamit pada bundanya dan segera pergi, agar ia bisa segera tidur secepatnya―sebelum ia mulai menulis lagi nanti malam.

Di sepanjang perjalanan, Ramli dan Aluna hanya terdiam. Ramli sesekali melihat ke arah Aluna yang bolak-balik mengucek matanya yang mulai memerah. Ia tahu, Aluna pastilah sangat mengantuk. Mengerjakan dua pekerjaan sekaligus tidaklah mudah.

Aluna harus membagi waktunya sebagai penulis dan sebagai pengusaha lilin. Semua ia kerjakan sendiri dan Ramli tahu, bahwa gadis itu pastilah lelah.

Bahkan, Ramli yang dulunya saja pegawai swasta pun memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya, dan memilih untuk melanjutkan usaha kelontong dan bakmi keluarganya karena ia tidak bisa fokus kalau masih juga mengantor, sambil memantau usaha keluarganya.

“Ko, sadar ngga kalau aku pake kerudung udah agak bener dan ngga jipon (jilbab poni) lagi?” tanya Aluna tiba-tiba yang langsung membuat Ramli tertawa kecil.

“Sadar. Kenapa emang?” tanyanya balik.

Aluna tersenyum jahil. “Gara-gara Koko ini. Malem-malem share tulisan tentang jilbab. Jadi takut aku! Terus, malem-malem tulisannya kayak terngiang-ngiang di telingaku. Serem banget,” jawabnya antusias seperti biasanya.

“Kan…, hanya mengingatkan,” ujar Ramli seraya membelokkan stirnya menuju jalan besar.

Aluna manggut-manggut. “Iya, Luna tau. Tapi, tumbenan tulisan ini kena ke jantung yang lemah ini. Biasanya, kan, cuma numpang lewat kayak tukang sayur di kompleks.” Luna lagi-lagi menyisipkan sedikit humor disetiap perkataannya yang langsung membuat Ramli tertawa.

“Kalau tukang sayurnya nginep, mau tinggal di mana emang?” tanya Ramli.

Aluna melirik Ramli sinis. “Jayus,” ledeknya singkat. “Koko emang selera humornya agak payah,” lanjutnya sambil tertawa kecil.

Ramli tersenyum mendengarnya. Sedari mereka kecil, Aluna memang selalu bilang, bahwa selera humor Ramli tidaklah sebagus dirinya dan ia setuju dengan hal itu.

“Ko, kalau kajian lagi, ajak aku, ya?” pintanya tiba-tiba.

Entah mengapa, Ramli serasa menghirup udara segar saat mendengar seorang Aluna menanyakan hal tersebut kepadanya. “Boleh, pasti Koko ajak!” Ramli menjawabnya dengan sangat antusias.

“Aluna Syafiqah mau mencoba berubah, nih!” serunya lantang. “Mau ngejar rida Allah,” lanjutnya pelan seperti bisikan. Tetapi, Ramli bisa mendengarnya dengan jelas. Aluna yang petakilan dan sempat menolak untuk berhijab, memutuskan untuk mengejar ridho Allah SWT. Tidak ada yang membuat Ramli bahagia, selain mendengar hal tersebut hari ini.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Withered and Blossomed di Cabaca.id

Hijrah bukan sekadar soal menutup aurat. Hijrah harus lebih dari itu... Novel teenlit islami yang perlu dibaca remaja, Assalamualaikum Aluna, ada di Cabaca. Baca GRATIS sekarang!

Ngapain baca novel bajakan kalau bisa baca novel original dan GRATIS? Iya, GRATIS. Cukup rajin lakukan misi kerang dan kunjungi Cabaca pada Jam Baca Nasional alias Happy Hournya Cabaca, SETIAP HARI dari pkl 21.00 sampai pkl 22.00 WIB. Yuk, install aplikasi Cabaca sekarang dan nikmati sensasi baru baca novel lewat smartphone!

Baca seru di HP kamu dengan install aplikasi Cabaca sekarang!