Novel Anak Pohon di Cabaca.id Nuansa memandangi wajah bulatnya di cermin yang terpasang pada meja belajar. Ia menghapus sisa kantuk dari sudut matanya sambil menguap dan berusaha mengingat kembali apa yang dimimpikannya semalam. Sesosok wajah putih seorang laki-laki yang entah mengapa, asing tapi juga familiar. Wujudnya ganjil, tapi juga begitu indah. Sosok itu menyala terang, melakukan tarian seperti rumput bergoyang.

Sosok itu telah hadir di mimpinya beberapa minggu lalu. Ia pertama hadir bagai penampakan di malam hari ketika Nuansa sayup-sayup terjaga. Kemudian penampakan itu makin jelas mewujud dalam mimpi. Tidak mengganggu, tapi membuat penasaran. Selagi sisa kantuknya perlahan sirna, ingatan tentang mimpi itu samar-samar ikut menyingkir juga.

Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah di SMA Padangan. Nuansa tidak berlama-lama mandi, ia bertekad sebisa mungkin untuk tidak dandan. Ini sikapnya yang bertolak belakang dengan teman-teman sejawatnya yang tiap hari dandanannya makin menor dan pakaiannya makin tak keruan. Ia membiarkan rambutnya tidak terbilas air yang dikucir olehnya walaupun tidak begitu panjang. Seragamnya sedikit kebesaran, tapi Nuansa tetap cuek. Ia menghadap cermin kamar mandi dan berkata, “Namaku Nuansa Aruna dan aku akan selalu menjadi diriku sendiri!”

Setelah sarapan singkat bersama Bapak dan Ibu, Nuansa pamit dengan mencium tangan mereka.

“Kamu ndak keramas lagi, nduk?” tanya ibunya.

“Nggak, Bu.” Nuansa buru-buru keluar sambil mengantongi uang saku sepuluh ribu sebelum ibunya mengomel.

Di depan rumah tukang servis radio tempat ia menunggu bus ditemuinya temannya yang kribo. Seperti biasa, temannya itu sedang makan nasi pecel yang dibungkus daun jati, lahap dengan tangan.

“Halo, Nu! Makan dulu ya,” sapa temannya.

Iyo, Brik!”

Nuansa mengambil tempat di sebelah Djabrik. Namanya Tedja, kulitnya gelap, hidungnya besar seperti paruh burung beo, dan bulu kakinya lebat. Dia setahun lebih tua dari Nuansa.

Piye, sudah mimpi lagi?” tanya Djabrik sambil menggigit tempe gembus di bagian yang terkena sambel kacang.

“Belum ada lagi. Coba pinjam buku sketsanya.”

“Ambil sendiri di tas.”

“Tas mana?”

Djabrik tersedak. Dia lupa. Tasnya ketinggalan di rumah!

“Jangkrik! Lali aku.”

Jabrik lantas menelantarkan nasi pecelnya dan lari masuk ke gang kecil. Untung saja rumahnya dekat sehingga tak butuh waktu lama dia mengambil tasnya. Dalam sekejap, dia sudah kembali sambil membawa segelas air putih dan terengah-engah, “Untung kamu tanya.”

“Memang koplak kamu, Brik.” Nuansa tertawa. Ia meraih tas cangklong Djabrik yang banyak bekas robeknya.

Buku sketsa itu bersampul kulit dan isinya selain coretan-coretan sederhana Djabrik juga ada daun kering yang diselipkan di antara halaman, sisanya adalah sketsa mimpi Nuansa. Sudah tiga bulan ini mereka rutin melakukannya, sejak pertama kali Nuansa mendapat mimpi bertemu sosok yang teramat putih, pria botak berkulit pucat. Djabrik mampu menggambarkannya cukup akurat sesuai deskripsi Nuansa. Halaman-halaman selanjutnya di buku sketsa itu hampir sama isinya; kecebong besar yang berbulu. Tiap sketsa diberi tanggal, tanggal ketika mimpi-mimpi itu datang, yang tak tentu kapan. Kadang selang sehari-dua hari, kadang selang satu minggu. Sudah dua minggu ini Nuansa belum mendapatkan mimpi lagi.

“Menurutmu apa arti semua mimpi itu?” tanya Djabrik seusai makan.

Nuansa yang sedang menghayati gambar pohon angker di lembar paling belakang buku sketsa Djabrik menggeleng. “Nggak ngerti aku.”

“Serem semuanya.”

“He eh.”

Pohon angker itu letaknya sebenarnya persis di sebelah rumah Nuansa. Di lahan bekas rumah tua yang kini telah rata dengan tanah. Pohon itu dipagari supaya tak ada anak-anak yang main di dekat situ. Pagarnya dari bambu, disarungi kain bermotif catur. Pohon itu sendiri bentuknya unik. Batang utamanya tiga kali ukuran badan orang dewasa, ranting dan cabangnya berkelindan hingga mirip sarang di dalam pohon, daunnya hijau gelap, membentuk payung di pucuknya. Dari semua pohon yang ada di desa, pohon ini tidak bisa diklasifikasikan.

“Tuh, kamu gak gabung sama mereka?” tanya Djabrik saat mereka berjalan menuju tempat perhentian minibus, menunjuk gerombolan empat murid SMP perempuan Dusun Klumpang. Mereka cekikikan karena digoda dua murid SMA laki-laki, tak memedulikan keberadaan Djabrik dan Nuansa.

Emoh(nggak mau),” jawab Nuansa, menolak usulan Djabrik.

“Kenapa?”

“Malas ah, nggak suka aja sama mereka.”

Djabrik terbahak-bahak. “Kok segitu bencinya sama mereka? Kamu kan juga cewek.”

Nuansa terdiam, gelombang panas memercik dalam hatinya saat melihat gerombolan murid perempuan yang menurutnya berpenampilan berlebihan. Ia menarik napas dan berkata, “Embuhlah(nggak tau lah).”

“Mau bareng mereka gak?” Djabrik melihat satu minibus telah berhenti untuk mengangkut murid-murid yang menunggu.

Nuansa tidak terlihat sedang mempertimbangkan pertanyaan Djabrik. “Nanti saja, habis mereka.”

Baca Juga: Teaser Novel SAKI Karya Idha Febriana di Cabaca.id

Ada untungnya juga bergaul dengan Djabrik. Pertama, Nuansa bisa naik bus gratis, sebab hampir setiap kernet mengenal Djabrik yang supel. Dan anehnya, mereka juga selalu dapat tempat duduk di belakang. Bagai penguasa minibus Cendana jurusan Ngawi. Yang kedua, tak ada yang pernah berani bilang bahwa Nuansa pacarnya Djabrik. Alasannya cuma satu: tidak mungkin! Memang, Djabrik cuek dengan penampilannya—sebelas-dua belas dengan Nuansa, tapi mereka sudah seperti kakak-adik, walau paras mereka bagaikan bumi dan langit.

Nuansa tak pernah merasa risih di dekat Djabrik, meskipun anak lelaki itu sering mengangkat kaki dan ngupil di bus. Mereka sudah akrab semenjak Nuansa pindah ke Dusun Klumpang, Kebonagung. Djabrik adalah satu-satunya anak lelaki yang mau mengajak main anak perempuan; sedangkan anak lelaki lainnya lebih berkesan memusuhi anak perempuan.

Suwun yo(makasih ya), Masbro,” kata Djabrik, berterima kasih kepada kernet saat mereka turun.

Mereka dengan terburu-buru berjalan ke dekat zebra cross yang ada di depan sekolah.

“Itu tadi anak mana?” tanya Nuansa.

“Dusun Ngradin. Temanku waktu SD dulu.”

Nuansa mengangguk. Begitu mobil-mobil berhenti, mereka menyeberang menuju gerbang. Tapi ketika hampir sampai di gerbang, seketika Nuansa berhenti melangkah. Darahnya berdesir deras ketika ia melihat sosok pria serba putih berdiri di gerbang sekolah. Orang itu melambai ke arahnya.

“Ada apa?” Djabrik menangkap tatapan Nuansa yang kosong sejenak, tatapan yang sama seperti yang biasa dilihatnya ketika gadis itu menyampaikan deskripsi kecebong berbulu dan pohon angker.

Nuansa menoleh, lalu menggeleng. Saat ia kembali melihat ke tempat laki-laki tadi berdiri, sosok itu sudah tidak ada.

“Ayo!” ajak Djabrik.

Mereka berdua datang terlambat, murid-murid lain telah mengambil tempat di barisan masing-masing kelas di lapangan. Mereka berlari sambil cekikikan, masuk kelas untuk pasang dasi serta topi, kemudian Djabrik mengumpat sambil mendekati Nuansa, “Lali maneh aku(lupa lagi aku), gak bawa topi!”

Nuansa yang kenal betul kelakuan Djabrik sudah berinisiatif membawakannya topi cadangan.

Matursuwun(makasih), Nu.”

“Iyoo.” Nuansa senyum sambil geleng-geleng. “Tadi tas, sekarang topi... koplak tenan(lucu sekali) kamu, Brik!”

Rapopo (nggak papa), ada sohib yang bisa diandalin.”

Mereka lantas buru-buru bergabung dengan barisan ketika bunyi dengkingan feedback mikrofon terdengar—tanda upacara hari Senin segera dimulai.

Yang paling tidak disukai Nuansa ketika upacara adalah ia harus berkumpul di barisan murid-murid perempuan sekelasnya. Baunya minta ampun, bukan bau badan atau apa, tetapi karena bau parfum yang berlebihan. Kepalanya jadi pening dan hidungnya bersin. Ini sekolah atau toko parfum, sih?

Di depan Nuansa, tiga gadis populer di kelasnya sedang merumpi mengalahkan pidato membosankan kepala sekolah tentang tahun ajaran baru. Mereka sedang membicarakan cowok ganteng di barisan seberang paling depan, anak kelas XI. Dua baris di belakangnya, Nuansa bisa melihat Djabrik sedang ngupil, rambut kribonya tampak berjejalan, tapi entah bagaimana dia tampak lebih menarik ketimbang murid lelaki putih dan mancung yang berdiri seperti robot itu.

Sambil tersenyum simpul, Nuansa memikirkan kekoplakan Djabrik. Koplak bin kocak. Tapi di tengah lamunannya, tiba-tiba wajah Djabrik berubah menjadi sosok putih yang dilihatnya tadi di gerbang. Nuansa menggeleng keras-keras, mengerjapkan mata. Sosok itu berdiri di pinggir jalan dekat sekolah. Sebuah mobil melesat lewat, menghalangi pandangannya, tetapi begitu mobil itu lenyap sosok itu juga ikut lenyap bersamanya. Jantung Nuansa berdegup kencang. Siapa orang itu?

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Latamaosandi di Cabaca.id

Hari gini masih percaya soal mitos? Tapi ternyata masih banyak yang percaya mitos soal pohon itu. Katanya... Baca yuk novel Anak Pohon GRATIS di Cabaca atau download aja aplikasinya di Google Play.

Ngapain masih cari download pdf novel kalau sekarang sudah bisa baca novel GRATIS dan legal? Beneran ada? Ya, ada dong! Di Cabaca kamu bisa baca gratisan tiap Jam Baca Nasional, yaitu pukul 21.00-22.00 WIB. Kalau nggak sempat baca pada jam itu, kamu tetap bisa baca gratisan dengan rajin mengumpulkan kerang. Buktiin deh serunya! Unduh aplikasi Cabaca yang ada di Google Play yuk!

Rasain baca novel seru dan GRATIS hanya di Cabaca!