Novel A Man From Yesterday di Cabaca.id – Sering kali kita lupa, kenangan bisa saja menjadi bom waktu yang tak terduga.

Ganggi menyesap kopinya yang mulai dingin. Matanya fokus menatap lekat ke layar macbook air dengan dahi mengernyit, memperhatikan proposal dari salah satu timnya. Ia letakkan kembali cangkir kopinya, disusul jemari tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja, menimbulkan suara yang memenuhi ruangan. Sesekali ia memindahkan kursor ke tempat lain, seperti tengah membandingkan sesuatu, kemudian menopang dagunya; berpikir.

Supervisor account dari media and client service department—Mario Sinarta, duduk di hadapannya dengan gelisah. Pria itu mengedarkan pandangan matanya ke beberapa sudut ruangan Ganggi yang dipenuhi dengan lukisan dan benda-benda bernuansa vintage. Potongan-potongan warna dan keindahan dari lukisan tersebut seolah meloncat dari dinding ruangan yang membosankan.

Not bad, Yo. Perbandingannya dengan ide bulan lalu lumayanlah. Penawaran oke, harga juga oke. Saya cuma nggak suka dengan presentasinya. Olaf yang buat? Minta revisi, ya.” Ganggi akhirnya bersuara, sambil tersenyum tipis ia menyandarkan punggungnya, terlihat santai.

Mario mengembuskan napas lega, seperti berhasil keluar dari escape room dan tak terjebak di antara teka-teki yang menakutkan. Beda dengan bulan-bulan sebelumnya, saat Mario dan timnya menyampaikan laporan dan presentasi penawaran ke beberapa klien, Ganggi Anantareja sukses mengoreksinya habis-habisan. Sejak saat itu tak ada yang berani memberikan presentasi ke Ganggi tanpa mengecek berulang kali dan harus dengan konsep yang matang.

“Baik, Bu. Saya akan kasih tahu Olaf nanti.”

Mario pamit dari ruangan Ganggi, membawa beberapa dokumen yang sudah selesai dicek dan ditandatangani.              

Sepeninggalnya Mario, Ganggi menatap tumpukan dokumen yang ada di mejanya. Kepalanya sejak tadi penat karena harus mengecek beberapa pekerjaan stafnya. Belum lagi menghadapi komplain dari beberapa klien. Ada beberapa klien besar yang lebih suka ditangani olehnya daripada yang lain. Pak Wijaya—direktur WM Advertising, juga senang-senang saja dengan hal ini, membuat Ganggi tak bisa berbuat banyak.

“Giiiii... lunch yuk, Sis! Udah setengah satu ini, keburu diambil orang cowok gantengnya.”

Aluna, si copywriter yang super centil di WM membuka pintu kaca ruangan Ganggi tanpa permisi. Gadis itu menyembulkan kepalanya dan melempar senyum lebarnya ke arah Ganggi. Mini dress berwarna biru elektrik yang dikenakannya memamerkan bentuk tubuhnya yang mungil, namun terlihat sensual. Kadang Ganggi berpikir, Aluna lebih cocok menjadi marketing ketimbang copywriter yang lebih sering duduk di belakang meja.

“Berisik deh Lun. Teng banget sih lunch-nya. Pusing nih gue sama kliennya Pak Wi. Belum lagi dia ngajak meeting jam tiga.”

“Lo juga sih iya-iya aja kalo disuruh ini-itu. Jadi kebiasaan kan Pak Wi. Sampe proyek besar aja yang nanganin lo sendirian.”

Ganggi hanya memutar bola matanya, tak berniat menampik ucapan Luna yang benar. Ia mengambil dompet miliknya dari dalam tas, mengganti heels-nya dengan sepatu kets yang sama sekali tak senada dengan kemeja serta rok formal yang dikenakannya.

“Serius nih, Gi lo mau lunch di GI dengan sepatu kaya gitu?” Luna bertanya takjub. Sebenarnya pilihan sepatu kets jauh lebih baik daripada beberapa hari lalu, di mana Ganggi memilih menggunakan sandal jepit saat Luna mengajaknya makan di Mall Ciputra. Sebenarnya tidak ada yang salah, hanya saja Luna itu fashionista tingkat akut! Dia paling gerah liat cewek tampil apa adanya.

“Kenapa? Ribet ya, apa sandal jepit aja kali ya, Lun?”

“Hah? Duh, udah-udah itu aja deh! Gila ya nih manajer satu, nggak ada cewek-ceweknya, deh.” Luna menarik tangan Ganggi dan berjalan ke luar ruangan, Ganggi hanya terkikik geli. Ia suka membuat Luna uring-uringan dengan penampilannya.

“Dirga apa kabar, Gi? Kangen ih gue sama dia.” Luna bertanya saat mereka sudah sampai di salah satu restoran ternama di Grand Indonesia—memilih tempat duduk yang menjorok ke dalam dan seorang pelayan meletakkan buku menu di hadapan mereka.

Ganggi tak langsung menjawab, ia membolak-balikkan buku menu, menimbang-nimbang makanan apa yang akan memuaskan rasa laparnya siang ini.

“Baik. Masih ganteng, masih cuek, masih suka kirimin gambar bunga, dan masih sering nyuruh-nyuruh gue ke rumah dia nemuin nyokapnya.” Ganggi menjawab tak acuh, meskipun ada nada sedih yang tersembunyi dengan baik di akhir kalimatnya.

“Eh, masih ya dia nyuruh lo ke rumah nyokapnya. Udah tau kondisinya begitu. Heran deh gue sama Dirga. Lagian sih ya, lo seharusnya cerita aja gitu sikap nyokapnya ke lo. Jadi Dirga kan nggak bakal nyuruh-nyuruh lo lagi ke sana,” ujar Luna agak senewen.

“Terus dengerin Dirga ceramah panjang lebar tentang nyokapnya yang nggak bermaksud seperti itu? Udah sering kan, Lun. Dan itu udah dari bertahun-tahun yang lalu, so gue nggak mau ambil pusing masalah begini. Selama Dirga masih mau bertahan dengan hubungan ini, gue nggak mau mikirin masalah itu.”

Ganggi sudah melewati malam-malam yang panjang dan melelahkan. Ia sudah berhenti mengeluh dengan hubungan jarak jauhnya, karena ia sadar hanya disiplin diri keraslah yang berhasil meredam lelah yang menyelimutinya.

“Bahas Dirganya yang enak-enak aja bisa nggak? Mau makan siang nih, lo mah ngilangin nafsu makan aja,” protes Ganggi.

“Oke, Sissy! Niat gue di sini juga mau cuci mata liat bule-bule yang sering melintas tanpa diminta,” ujar Aluna dan gadis itu tiba-tiba saja merapikan penampilannya saat melihat cowok super maskulin memasuki restoran. Astaga, Luna!

So, kapan Dirga balik dari Aussie? Sekolahnya nggak kelar-kelar sih, Gi? Pinter apa kepinteran sih dia. Nggak mau kawin?” Luna bertanya lagi setelah mendengus kecewa saat cowok yang baru saja masuk ternyata bersama kekasihnya.

“Dua bulan lagi dia wisuda. Gue nggak tau bisa ke sana apa nggak. Pengajuan cuti pas gue mau liburan ke Bali aja ditolak sama si Pak Wi. Apa kabar kalo gue ngajuin cuti ke Aussie? Bisa kebakaran jenggot kali dia.”

“Bener juga sih, Gi. Bos lo mana bisa lepas dari manajer kesayangannya ini. Yang ada WM nggak jalan kalo nggak ada lo.”

Ganggi mengangkat bahu. Wijaya Dinata, merupakan kerabat jauh ibunya. Pak Wi sebenarnya baik, dia juga santun dan perhatian saat Ganggi kuliah dulu. Karena Pak Wi jugalah Ganggi bisa lulus S2 dari salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Semua biaya kuliahnya ditanggung oleh Pak Wi yang memang tidak memiliki anak perempuan, dan Ganggi sudah dianggap seperti anak sendiri olehnya.

“Lo jadi meeting nanti?” Luna bertanya tepat di saat pelayan mengantarkan pesanan mereka. Semangkuk salad untuk Luna yang memang sedang diet mati-matian karena ia merasa tubuhnya agak gemuk setelah wedding party sepupunya di Malang beberapa hari lalu, dan sepiring grilled curry sausages untuk Ganggi yang akhir-akhir ini menyukai kuliner dari Eropa itu.

“Jadi. Kenapa?”

“Mau ngajak cabut!”

Big no, deh, Lun. Pak Wi pesen ke gue kemarin harus hadir di meeting ini. Dia bilang sih ini klien penting. Lebih penting dari apa pun  katanya, gue aja sampai nggak boleh sakit sama dia. Sekalipun sakit harus tetep datang.”

“Hitler banget bos lo! Untungnya bos gue si Pak Rahyan nggak banyak ngatur, Gi.”

“Proyeknya besar. Setahun penuh kita dikontrak untuk ngurusin iklan produk mereka. Dan ini bukan iklan kecil, nilainya bisa miliaran kalo kita sukses dengan kontrak pertama.”

“Oh, hell. Crowded banget pasti nanti. Semangat deh, Bu Manajer.”

Yah, semangat tentunya. Ganggi mana mungkin melewatkan satu proyek besar yang bisa membuat namanya semakin melambung di WM. Ganggi si ambisius, Ganggi si wanita baja, Ganggi si Hitler kedua, dan serangkaian panggilan yang diciptakan beberapa staf di WM yang tidak suka dengan Ganggi. Gadis itu memang cukup tegas, dan agak galak, well dia harus berakting galak di hadapan bawahannya. Parasnya yang ayu dan sangat Indonesia sekali itu terkadang menipu lawan bicara. Caranya bernegosiasi sangat baik, sampai-sampai klien manut-manut saja dengan penawaran paket iklan yang ia tawarkan, dan Ganggi selalu menjadi andalan Wijaya Dinata untuk klien eksekutif WM.

“Gi, Pak Wi telepon tuh!”

Ganggi melirik layar ponselnya. Benar telepon dari Pak Wi.

“Ya, Pak. Ada apa?” Ganggi mengapit ponselnya di pundak, dan mengelap mulutnya dengan tisu, di seberang sana suara Pak Wi bercampur dengan hiruk pikuk kendaraan.

“Mobil saya mogok, Gi. Lagi nunggu Pak Tari jemput saya, tapi kayanya dia kena macet. Kamu bisa temuin klien kita sekarang?”

“Eh, sekarang, Pak? Tapi saya lagi lunch di luar.”

“Kamu lunch di mana?” Pak Wi sepertinya tidak mau menyerah.

“Di GI, Paulatner. Saya berdua—“

“Nah, kebetulan! Pak Maruli sedang nunggu saya di Koffie Warung Tinggi. Kamu ke sana ya sekarang. Nggak enak saya kalo dia nunggu terlalu lama.”

Selama satu detik, mata Ganggi beradu dengan sepasang mata cokelat yang berkilat-kilat milik Luna, seolah menyuruhnya untuk tidak menyetujui apa pun itu yang diminta oleh Pak Wi.

“Harus sekarang, Pak?”

“Iya, sekarang! Dia orang besar, kawan lama saya juga. Dia baru balik dari London, dan dia calon klien kita yang saya ceritakan ke kamu,” papar Pak Wi, semangat sekali. Sama sekali tidak terdengar sedang mengalami kesusahan akibat mobilnya. Ugh, begini jika Pak Wi sudah terlalu sering bergantung pada Ganggi.

“Oke, Pak. Saya ke sana sekarang,” gumam Ganggi kaku, resah karena ia terlalu menurut dengan bosnya itu.

“Terima kasih ya, Gi. Namanya Maruli Sutejo, dia sudah pesan tempat khusus untuk kami. Saya juga sudah bilang dia, kamu akan temui dia di sana.”

Sambungan telepon terputus. Meeting sudah di set jam tiga sore, lalu kenapa harus ditemui sekarang?

“Gue harus pergi, Lun. Meeting. Lo balik bawa mobil gue aja, ya. Gue nanti naik taksi mungkin,” cetus Ganggi masam.

“Tapi makan lo belum habis gitu. Dan lo ke sini pake kets. Emang meeting di mana?” Luna tak rela melepas Ganggi.

“Gampanglah itu. Gue bisa beli heels dan notes di sini, yang penting ketemu dulu sama klien. Gue cabut, ya.”

Ganggi beranjak berdiri, menghabiskan minumannya dan dengan cepat keluar dari restoran. Setelah telepon Pak Wi tadi, ada sesuatu yang bergaung di kepalanya. Ada yang tidak asing, dan berusaha menyeruak keluar dari memori terdalam. Ganggi tidak yakin, karena tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak menentu.

Ia tidak suka perasaan seperti itu.

Baca Juga: Teaser Novel Paracetamol di Cabaca

“Pah, memangnya harus saya ikut meeting ini?”

“Oh iya jelas, Ar. Papa sudah cukup banyak mengurusi perusahaan kita yang lain. Sekarang giliran kamu mengurusi produk baru ini. Lagi pula, kamu kan juga sudah cukup mahir untuk urusan pemasaran produk. Kamu nggak akan kecewa dengan hasil iklan dri WM. Kita sudah sering pakai mereka untuk desain dan konsepnya. Overall its actually really good.”

Arlingga Sutejo—dengan setelan jas formalnya yang berwarna khaki duduk di hadapan ayahnya, menatap pria berumur lewat dari setengah abad itu dengan kening mengerut. Merasa keputusan ayahnya kurang tepat menjadikannya main leader dipersiapan peluncuran produk terbaru dari salah satu perusahaan ayahnya. Bukannya ia tak percaya diri, tapi ia tak suka karier yang melesat kilat seperti ini. Ia baru  saja kembali dari London setelah sepuluh tahun sekolah dan kuliah hingga gelar master disandangnya.

Well, Rudi—asisten Papa sepertinya lebih cocok jadi main leader. Dia berpengalaman dan saya seharusnya yang belajar dari dia.”

“Papa sudah kasih kerjaan lain ke dia. You should take it, Son. I trust you than others. Dia baru akan backup kamu jika ada trouble.

Arlingga tak kembali menanggapi. Ia mengalihkan pandangan matanya ke iPad yang ia pegang. Papanya menanggapi sikap diam Arlingga sebagai isyarat positif.

Kini papanya sibuk berbicara dengan orang lain di telepon, tertawa renyah sambil sesekali mengangguk. Selentingan ia dengar sepertinya orang yang akan menemui mereka akan digantikan oleh orang lain. Entah pria atau wanita, ia tak terlalu peduli.

Tanggung jawab ini rasanya terlalu besar, dan ia belum siap. Ia takut mengecewakan ayahnya jika launching produk ini gagal.

“Wijaya bilang dia bakal telat, dan bakal digantikan anak buahnya untuk pembicaraan awal,” bisik papanya seraya menutup speaker ponselnya, karena Arlingga tak menanggapi, papanya kembali bicara dengan si penelepon.

Ponsel Arlingga berdering, wajah seorang gadis menghiasi profile si penelepon. Dengan enggan ia menjawab panggilan tersebut, tanpa pusing ada sang papa di hadapannya. Oh, keluarga Sutejo tahu hubungan Arlingga dengan gadis ini kurang baik.

“Kenapa, Kal?”

“Ar, kamu di mana? Kok nggak kabarin aku sih? Aku lagi di salon nih, jemput aku bisa?”

I’m on meeting. Teleponnya nanti ya, dan kamu bisa pulang naik taksi. Atau mau aku suruh supirku jemput kamu?”

“Balik dari London kamu belum ketemu sama aku lho, Ar.”

“Aku juga langsung sibuk, Kal.”

Dengusan keras terdengar dari seberang. “Aku harap kamu bisa bagi waktu buat ketemu aku, kerjaan kamu….”

Arlingga tak mendengarkan. Ia menjauhkan ponselnya dari telinga—mengabaikan Kallea—tunangannya, mengomel di telepon.

“Selamat siang, Pak. Saya Ganggi Anantareja, anak buah Pak Wijaya. Bapak benar Pak Maruli Sutejo?”

Suara lembut itu melesat cepat ke pendengaran Arlingga, membuat ia tersentak dan kepalanya menoleh ke sumber suara.

Seorang gadis, dengan rambut cokelat bergelombang di ujung, kemeja marun yang dilapisi blazer tipis, serta rok di atas lutut berwarna hitam, berdiri dan tersenyum ke arah papa Arlingga.

“Oh, halo. Saya Maruli, dan ini anak saya. Arlingga Sutejo. Dia yang akan pegang proyek ini.”

Dan detik berikutnya, Arlingga tahu gadis itu akan terkejut saat mata mereka bertemu. Seperti ada ribuan kenangan yang berlomba-lomba untuk cepat diputar ulang kemudian diresapi. Karena mereka tidak asing satu sama lain, bahkan setelah sepuluh tahun lamanya waktu mencoba untuk meleburkan sebuah ingatan.

You look so good, Gi.”

Hanya lima kata yang terlontar, dan untuk kali kedua, baik Arlingga dan Ganggi pun menjelajahi kenangan pahit itu sekali lagi. Tanpa mereka minta.

Baca Juga: 7 Lagu Barat Romantis yang Cocok Jadi Teman Menulis

Kalau bertemu lagi, apa kata kata buat mantan terindah? Atau malah terlibat 'cinta lama belum kelar'? Baca cerita romantis terbaru di Cabaca berjudul A Man From Yesterday. Gratis!

Asyik kali ya bisa baca novel tiap hari dan gratis? Di Cabaca, bisa! Buruan nstall aplikasi Cabaca di Play Store! Baca di Jam Baca Nasional atau Happy Hournya Cabaca sepuasnya.

Sebelum tidur, bisa baca novel gratis Cabaca!