Teaser Novel A Letter di Cabaca – Tara Hotaru melirik arloji di tangannya. Masih ada satu setengah jam lagi sebelum waktu istirahatnya habis. Ia segera menghabiskan es kopinya lalu bergegas membereskan laptop dan kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Orang-orang yang melihatnya bisa langsung tahu kalau wanita muda yang kini menggulung rambut pirang kecokelatan miliknya dengan berantakan itu adalah penggila kerja. Orang mana yang menghabiskan waktu istirahat siang di hari yang terik ini dengan tetap berkutat pada laptop dan berkas-berkas?

Setelah memasukkan semuanya ke dalam tas, Tara tertegun. Hampir saja dia melupakan sesuatu. Dirogohnya kembali isi tasnya yang berantakan dan menarik beberapa benda dari dalamnya. Tiga amplop cokelat besar yang isinya lumayan tebal, sebuah amplop kecil yang warna putihnya mulai pudar dan belum ada alamat penerima, sebuah pulpen, kemudian secarik kertas yang berisikan sebuah alamat. Gadis itu meraih pulpen yang ia letakkan di dekat gawainya. Ia merasa ragu untuk menulis alamat di kertas itu ke amplop kecil yang warnanya sudah pudar.

“Apa alamatnya masih sama?” Tara menggumam.

Tiba-tiba suara dering telepon mengagetkan Tara. Dengan sigap ia mengambil gawainya dan mengangkat telepon.

“Ada apa?”

“Hotaru. Aku ingin mengatakannya lewat telepon, tapi aku takut kau akan pingsan di jalan saat mendengarnya. Datanglah ke Elliana dan aku akan menceritakan apa yang kulihat barusan.” Elliana adalah kafe kecil yang berada tepat di bawah lantai studio tempat Tara bekerja. Dan Tara saat ini sudah berada di sana.

“Tentang apa? Jangan bilang kalau kau ingin mengatakan sesuatu tentang proyekmu dan memintaku membatalkan cuti minggu depan?” tebak Tara. Mau itu pertemuan dengan Kaisar pun dia tidak akan mengganti jadwal cutinya kali ini.

“Bukan,” jawab orang di seberang sana membuat Tara menarik napas lega.

Ryuko Aya, sahabat Tara sejak kuliah itu barusan merendahkan suaranya di telepon. Ketika Ryuko merendahkan suaranya, hanya ada dua tanda yang harus Tara pahami. Ryuko ingin mengatakan suatu hal yang sangat serius, atau ada hal yang membuat Ryuko marah padanya. Tara sedang tidak ada masalah dengan Ryuko. Saat di studio tadi, anak itu terlihat bahagia menceritakan soal ilustrasi terbarunya yang telah disetujui oleh ketua untuk dijadikan desain stationary milik brand terkenal yang bekerjasama dengan studio mereka. Jadi kemungkinan ada hal serius yang ingin dikatakan Ryuko padanya.

“Aku sudah di Elliana. Tapi sebentar lagi mau pergi ke kantor pos. Aku akan menemuimu setelah mengirim naskah translasiku ke penerbit di Indonesia. Tunggu aku sepuluh menit lagi. Okay?”

"Apa itu dokumen penting? Benar-benar tidak bisa ditunda?"

"Sangat penting. Tidak Bisa." Tara menekan suaranya.

“Baiklah. Aku akan ke Elliana sekarang.” Ryuko hanya menjawab singkat lalu mematikan panggilan teleponnya. Tara kembali melihat jam dan ia terkejut karena sudah jam setengah satu siang. Ia membatalkan niatnya untuk menulis alamat surat itu di sini dan akan melakukannya nanti di kantor pos. Gadis itu kembali membereskan berkas-berkasnya, memasukkan pulpen ke dalam tas, dan langsung bergegas meninggalkan Elliana. Ia melebarkan langkahnya sambil memutari gedung yang mengarah ke Jalan Marunouchi Dua, hingga melewati dua perempatan.

Kini di tangan kirinya tergenggam gawai dan di tangan kanannya tercapit amplop-amplop besar dan kecil yang akan dia kirimkan. Amplop yang besar ditujukan untuk penerbit yang sekarang naskah terjemahannya sedang dikerjakan oleh Tara, sementara amplop yang sudah pudar warnanya adalah surat pribadi milik dia sendiri.

Tara sebenarnya bekerja sebagai ilustrator di A Paper, sebuah studio yang tidak terlalu besar di daerah Chiyoda, pusat kota Tokyo dan menghasilkan produk-produk alat tulis serta lifestyle dengan lukisan handmade sebagai poin utamanya. Menerjemahkan novel Indonesia-Jepang adalah pekerjaan sampingannya karena dulu dia lulus di jurusan Bahasa Indonesia, Universitas Khusus Kajian Asing Tokyo. Bukan tanpa alasan dia belajar Bahasa Indonesia. Itu karena ayahnya adalah orang Indonesia yang dulu pernah menetap di Tokyo. Tara tinggal di Indonesia sejak lahir hingga dia SMA. Setelah ayahnya meninggal, ia kembali ke Jepang bersama ibunya dan tinggal di rumah neneknya.

"Ah, sial!" Gadis itu mengumpat pelan karena ia baru saja ketinggalan menyeberang. Lampu biru itu sudah berganti menjadi merah dan ia terpaksa menghentikan langkahnya. Kini Tara berdiri di depan gedung yang sudah dikosongkan sejak satu minggu lalu. Tara sempat melihat berita tadi pagi dan mereka bilang gedung itu akan dipugar bulan depan untuk dijadikan pusat perbelanjaan salah satu perusahaan gawai terkenal di Jepang—atau mungkin juga dunia. Jadi banyak toko-toko dan kafe-kafe yang sudah ditutup dan dipindahkan dari sana.

Cuaca di kota Tokyo mulai menghangat seiring dengan masuknya awal musim panas. Siang hari begini sangat terik meskipun gedung di seberang jalan tempat Tara menunggu sekarang menutupi matahari yang sudah mulai akan condong ke Barat. Dedaunan pada pohon ginkgo yang menjulang tiga kali dari tinggi Tara di sepanjang jalan gedung itu masih sama hijaunya seperti saat akhir musim semi bulan lalu. Tapi sayangnya pohon-pohon itu tidak bisa melindunginya dari sengatan matahari bahkan untuk seperempat lengannya yang kini mulai memerah. Tara merasa gerah bahkan meski saat ini ia hanya mengenakan kaos putih lengan tiga perempat dan cuffed pants krem lebar yang panjangnya satu jengkal di atas mata kaki. Ia bertekad untuk pulang ke rumahnya sebelum jam makan malam. Gadis itu ingat masih ada buah semangka dan segenggam rasberi di kulkasnya. Ia berniat membuat kakigori* kesukaannya saat pulang nanti. (*Es serut yang ditambah buah, sirup dan susu kental manis)

Belum sempat ia membayangkan minuman segar itu, Tara kembali tertegun. Apa sirup melon di rumahnya masih ada? Sepertinya sudah terpakai habis akhir pekan lalu saat ia dengan gila mencampurnya dengan es batu dan meminumnya karena kegerahan. Ia memutuskan untuk mampir ke minimarket saat pulang nanti dan membeli sirup itu lagi. Mungkin juga dengan satu kemasan mugicha* untuk ibu dan neneknya. (*Teh tradisional Jepang yang terbuat dari gandum bakar dan diminum dengan es batu saat musim panas.)

Tara membenarkan sandangan tasnya yang merosot ke siku lengannya lalu mulai tergesa-gesa lagi saat menyadari lampu merah mulai menyala. Ia berjalan dengan setengah berlari menuju ke seberang sambil menatap ke arah gedung yang memiliki simbol kantor pos besar tepat di perempatan jalan itu.

CIIIIIIT ....

BUM!!

BRAK!!

BRUK!

BUK!!!

Bunyi mobil yang mengerem mendadak diikuti dengan bunyi tabrakan beruntun itu membuat Tara kaget. Tentu saja, bunyi terakhir yang dia dengar adalah bunyi yang berasal dari dirinya sendiri saat tubuhnya yang mungil menghantam bahu jalan setelah terpental sekitar satu meter akibat ditabrak oleh mobil di sampingnya yang juga ditabrak oleh dua mobil dari belakang. Kecelakaan beruntun itu membuat suasana di perempatan menjadi heboh. Perempuan-perempuan berteriak histeris, anak kecil menangis di dalam mobil dan lalu lintas menjadi kacau.

Kejadiannya begitu cepat hingga Tara tidak mampu mengingat apa yang baru saja terjadi padanya. Seluruh dunianya berputar dan telinganya berdenging. Ia masih bisa merasakan darah mengalir dari belakang telinganya. Kebisingan di sekitarnya membuat gadis itu tidak sanggup membuka matanya. Dalam sekejap semuanya berubah gelap dan hening. Sepertinya, ia tidak bisa menemui Ryuko setelah ini. Mungkin saja ia juga tidak bisa pulang sebelum jam makan malam dan membuat kakigorinya.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Our 3 Years Apart di Cabaca

Tara menemukan sebuah surat dari dirinya sendiri 15 tahun lalu dan menyadari bahwa masih ada hal penting yang dilupakannya pasca-kecelakaan beberapa tahun silam. Apakah itu? Sebuah novel Indonesia terbaru yang gak boleh kamu lewatkan, A Letter, gratis hanya di aplikasi Cabaca.

Cari link download pdf novel tapi kok dari sumber yang ilegal. Udah tahu belum kalau aplikasi Cabaca malah menawarkan sumber yang legal dan gratis? Iya, beneran. Di Cabaca tersedia banyak novel terkurasi yang bisa dibaca gratis di Jam Baca Nasional. Setiap hari lho dari pukul 21.00-22.00 WIB, kita bisa baca novel online gratis tanpa kerang. Buruan deh, pakai aplikasi Cabaca dan baca novel favoritmu yuk.

Baca novel Indonesia di Cabaca