Teaser Kumcer Cabik Karya Tim Cemani di Cabaca – Saya mengingat betul mimpi itu seolah sudah tertanam di otak secara permanen. Tentang seseorang—yang tidak saya ketahui laki-laki atau perempuan—bertubuh cukup gempal. Figurnya masih sedikit buram, tapi bukan sosok itu yang menarik perhatian. Melainkan segumpal daging yang dientas dari kuali besar lantas dicincang hingga halus menggunakan pisau daging besar.

Daging yang masih berasap itu dipotong kecil-kecil, lalu dari potongan kecil-kecil itu kembali dipotong kecil-kecil lagi, hingga berubah menjadi cacahan daging yang lembut. Pisau dagingnya yang masih berjejak sisa-sisa daging menggeser cacahan itu ke baskom besar. Lalu proses mengentas, mencincang, dan memindahkan daging terus berulang.

Seonggok daging, cincang, geser, seonggok, daging, cincang, geser, jari-jari manusia, cincang, geser, lalu bunyi yang tercipta dari pisau yang beradu dengan telenan kayu itu berhenti. Untuk sesaat, saya tidak dapat menarik napas. Mata sosok gempal itu mencuri seluruh napas saya. Tatapannya dalam, bengis, dan berhasrat ingin menjadikan saya bagian dari kuali yang tengah mengepul itu.

Ketika pisau dagingnya dilempar ke arah saya, saat itulah saya terbangun di atas kasur tipis. Tubuh lengket karena keringat dan napas yang satu-satu. Lalu bunyi pisau dan telenan itu kembali terdengar. Pertanda saya terjaga di pukul tiga dini hari.

Mengintip dari jendela kosan yang agak buram, saya dapati sepasang suami istri penjual soto sedang bersiap mengatur dagangan mereka. Warung soto kaki lima mereka berdiri di sebuah gang sempit, berjejelan dengan rumah warga. Orang-orang memanggil mereka dengan sebutan Pak Sup dan Bu Sup. Entah nama si suami itu Supri atau Supar, yang jelas orang-orang di gang sempit ini telah memanggil mereka demikian sejak belasan tahun lalu.

Semangkuk soto sederhana yang dilengkapi dengan berbagai macam gorengan dan sate jeroan adalah satu-satunya menu andalan pasangan suami istri tersebut. Biar pun didirikan di atas lahan yang tidak strategis dan sering kali menimbulkan banyak kemacetan, tapi tidak satu pun orang dapat mengusir warung soto kaki lima Pak Sup dan Bu Sup.

Rasa sotonya khas, kuah yang kuning ,tetapi segar. Tidak meninggalkan rasa berat di lidah seperti kebanyakan soto kuah kuning di luar gang sana. Pak Sup dan Bu Sup juga tidak pelit-pelit memberikan daging. Bahkan bisa dibilang, taburan dagingnya yang selalu ekstra dan segar menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Saya sering menyaksikan beberapa stasiun televisi meliput, juga para pembuat konten video digital yang memberikan ulasan tentang soto tersebut di laman media sosial saya.

Biarpun begitu, saya tidak pernah mencicipi sotonya sekali pun. Entah karena saya yang pilih-pilih makanan atau karena terlalu berhemat agar uang saku bertahan sampai akhir bulan. Orang-orang sering meledek saya karena tidak pernah mencicipi soto mereka. Harga per porsinya murah, keterlaluan kalau saya tidak pernah beli. Itu kata mereka, tapi saya berpuas diri dengan makan nasi sekali sehari dan sisanya makan kerupuk atau roti kering.

...

baca selanjutnya di sini.

Baca Juga: Teaser Novel Kiss Me at Dawn di Cabaca

Cabaca berkolaborasi dengan Grup Penulis Cemani merilis kumpulan cerita pendek Indonesia bergenre thriller. Baca Cabik GRATIS dan eksklusif hanya di Cabaca.

Gak perlu lagi dong download pdf novel yang ilegal kalau tahu ada platform Cabaca.id, aplikasi baca novel online Indonesia. Mau baca GRATIS 100%? Bisa! Tinggal mampir di Jam Baca Nasional, setiap pukul 21.00 hingga 22.00 WIB, setiap hari! Manfaatkan pula misi kerang supaya bisa baca novel online dan baca offline di waktu senggangmu. Yuk, install aplikasi Cabaca di Play Store dan dukung aplikasi anak bangsa!