Novel I Want to Be A Cat, But Why Am I A Chicken? by Ririn Ayu

Novel I Want to Be A Cat, But Why Am I A Chicken? by Ririn Ayu – Punya pacar ganteng, sama-sama suka kucing, di tambah anak juragan ayam itu sempurna sekali bagi Ilona. Apalagi Raska selalu membawakannya bekal hasil masakan sendiri bahkan sejak mereka pdkt. Ayam goreng, ayam bakar, ayam mentega, ayam, ayam, dan ayam yang membuat Ilona jenuh.

Sekali waktu, Ilona mencoba untuk mentraktir Raska, tapi ditolak dan tetap memilih makan bekal ayamnya. Ilona yang kesal memutuskan Raska dan mulai melempari ayam-ayam yang ada dihadapannya saat perjalanan pulang. Misi meledakkan kandang ayam milik keluarga Raska pun sudah direncanakan.

Namun, Ilona terbangun dengan sepasang sayap dan paruh runcing! Bahkan… Ilona pup di atas kasurnya!

Photo by Jan Kopřiva / Unsplash

Bab 1 I Want to Be A Cat, But Why Am I A Chicken?

"Jantungnya berdebar kencang dan napasnya memburu. Pekikan keras meluncur keluar dari mulutnya ketika dia menemukan bayangannya di dalam cermin. Sosok yang dilihatnya di dalam cermin bukanlah perempuan berusia belasan dengan surai hitam bergelombang, melainkan seekor ayam. Benar, tidak salah. Sosok yang terpantul di dalam cermin itu memang seekor ayam betina berwarna hitam legam.

Saat Ilona mencoba menyentuh wajahnya untuk memastikan kalau tidak ada bulu-bulu halus di sana, ternyata tangannya tidak sampai. Saat dia menoleh, pekikan keras kembali meluncur dari mulutnya karena jari-jemarinya kini menghilang dan berubah jadi sayap. Bahkan suara pekikannya tidak terdengar seperti suara manusia. Suara yang keluar dari mulutnya malah lebih mirip kokok ayam.

“Enggak, enggak, ini konyol. Pasti aku masih mimpi.”

Berbekal keyakinan, Ilona mencoba menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai. Tubuhnya sakit dan tulangnya sepertinya ada yang patah. Namun, sosok yang terpantul di dalam cermin tetap tidak berubah. Dirinya masih seekor ayam betina hitam legam. Ketika dia membuka mulutnya, paruh ayam di dalam cermin itu juga ikut bergerak. Ah, sial. Sebenarnya apa yang terjadi?

Ilona yang menolak menyerah kemudian mematuk cermin di depannya. Semua ini pasti hanya ilusi. Bagaimana mungkin dirinya yang semalam tidur dengan tubuh manusia tahu-tahu berubah jadi ayam saat membuka mata? Namun, semua tindakannya tidak membuahkan hasil. Ditambah lagi perutnya mendadak melilit dan dirinya perlu ke toilet sesegera mungkin.

Masalahnya bagaimana caranya ke toilet untuk buang air sekarang?

Ah, dicoba dulu saja. Kan tinggal berjongkok saja, kan?

Ilona baru saja hendak bergerak menuju toilet ketika suara langkah kaki terdengar mendekat dari kejauhan.  Dia harus sembunyi sekarang. Hanya saja, usahanya tidak membuahkan hasil karena pintu kamarnya terbuka tidak lama setelahnya.

“Lona, sudah jam berapa sekarang?” ucap perempuan itu begitu pintu kamar terbuka.

Langkah kaki Ilona secara otomatis terhenti. Dia membeku di tempat ketika mamanya muncul dari ambang pintu.

“Lho, Lona?” Mama mengedatkan pandangan ke segala arah.

Ilona yang semula hendak bersembunyi mendadak berubah pikiran. Ini kan mamanya. Pasti ibu yang melahirkannya akan memahaminya. Pasti Mama akan sadar meski dirinya sudah berubah jadi eek ayam sekalipun. Benar begitu, kan?

Dengan semangat yang membuncah di dalam dada, Ilona kini bergerak mendekati mamanya. Dia mendongak untuk menatap sosok ibunya yang terlihat tinggi menjulang. Matanya berkaca-kaca ketika menatap perempuan yang kini juga balik memandanginya tanpa berkedip. Benar, Mama pasti tahu kalau ini dirinya, anaknya, Ilona-nya.

“Ma!” Ilona membuka paruhnya dan mencoba untuk membuka suara demi sebuah penjelasan yang mungkin mampu menyelamatkannya.  “Ini Ilona, Ma.”

Sialnya, suara yang keluar malah petok ayam. Ilona ingin menyentuh tenggorokannya, tetapi dia kembali terpukul kenyataan karena lengannya benar-benar menghilang. Jangankan menyentuh tenggorokan, ketika dia berniat menjulurkan lengan, sayapnya malah merentang.

Mama yang semula hanya menatap kini melebarkan kelopak mata. Bibirnya membuka sedikit. Benar kan, Mama pasti mengenalinya. Namun, tidak lama setelahnya perempuan itu mengulurkan tangan dan mengambil tas selempang yang tergantung di balik pintu. Mamanya kemudian mengayunkan benda itu ke arah Ilona.

“Ma, ini Ilona!”

“Hush! Pergi kamu!” Mama mengayunkan tas di tangannya dengan gerakan liar.

“Mama, ini Ilona, Ma!” pekik Ilona sembari berlari mengitari kamar dan berusaha menghindari serangan brutal mamanya.

“Pergi kamu! Keluar!” kata Mama sembari berlari mengejar Ilona.

“Kok ada ayam di sini sih?” gerutunya lagi sembari membuka jendela kamar.

Ilona nyaris menangis, dia kemudian naik ke atas ranjang. Sialnya, perutnya yang melilit sejak tadi tidak bisa ditahan lagi. Ilona kecepirit di atas kasur.

“Lah, pakai eek lagi, keluar sana!”

Mama kemudian mengayunkan tas selempang di tangannya dengan ganas dan lebih brutal dari sebelumnya. Serangan yang membuat Ilona terlonjak hingga tubuhnya kini bergerak ke arah jendela. Mama belum menyerah dan menyerangnya lagi. Air mata Ilona mulai jatuh ketika pantatnya disepak dengan tas dan tubuhnya kini meluncur dari jendela. Ilona memekik keras. Tubuhnya terjatuh dari lantai dua rumahnya dengan pantat bekas pup yang belum dibersihkan. Dia mungkin akan mati dan berakhir jadi ayam geprek.

Baca bab gratis selanjutnya dengan klik: novel I Want to Be A Cat, But Why Am I A Chicken?

Baca Juga: Novel Me & Mr. Five Star by SHAB

Suka bacaan bergenre magical realism? Coba deh cari novel bagus di aplikasi Cabaca. Selain novel fantasi, ada pula novel horor, teenlit, dan masih banyak lagi yang bisa kamu baca gratis dan maraton saat tamat. Caranya, bisa kunjungi Cabaca tiap Jam Baca Nasional pukul 21.00-22.00 WIB. Download aplikasi Cabaca, gratis di Play Store.

Baca Juga Novel Serupa I Want to Be A Cat, But Why Am I A Chicken?: