Novel Before (I Love You) by Tuteyoo

Novel Before (I Love You) by Tuteyoo – Perubahan Adrian, manajer divisi Quality Control, membuat seluruh karyawan di bawahnya mulai merasa kesal. Pria itu mendadak berubah temperamen sejak Tiana menemukannya tampak murung di kantin. Namun, Tiana adalah yang paling tenang menghadapinya meski mendapat omelan dua kali lebih sering dari yang lain.

Hingga pada malam itu, dugaan Tiana benar tentang penyebab perubahan Adrian. Karena rasa kasihan, Tiana membantunya. Membantu Adrian mengobati lukanya. Berkat kebersamaan yang mereka lalui, mungkinkah sesuatu terjadi di antara keduanya?

Sayangnya, Tiana adalah tipe gadis yang sulit untuk ditaklukkan. Karena sebuah komitmen adalah tanggung jawab besar bagi Tiana, dan ia tidak ingin berkomitmen dengan sembarang orang. Ditambah lagi kehadiran seseorang yang selalu mengiriminya pesan ancaman membuat Tiana semakin menahan diri untuk tidak jatuh pada pesona Adrian.

more photos here: https://www.instagram.com/mikita.yo/
Photo by Mikita Yo / Unsplash

Bab 1 Before (I Love You) di Cabaca


Tiana mengacaukan semuanya pagi ini. Bangun terlambat, kemudian tidak sengaja menjatuhkan sikat gigi ibunya ke toilet. Well, siapa pun tidak akan sudi memakai lagi sikat gigi itu meski sudah dicuci berkali-kali. Kamarnya juga berantakan; sprai, bantal, dan guling berada di beberapa sudut lantai. Saat bangun tidur dan menemukan jarum jam melewati waktu seharusnya ia bangun, panik menguasai dan ia segera melompat dari kasur.

“Bu, aku nggak sarapan. Udah terlambat,” ujar Tiana di depan ibunya yang sedang memakan panekuk dengan tenang di meja makan.

“Sebentar, biar Ibu siapkan bekal.” Wanita itu kemudian beranjak dan mengisi kotak bekal yang diambilnya dari lemari pantri dengan beberapa lembar panekuk.

Sementara menunggu Leah, Tiana membenahi penampilannya di depan pintu kaca lemari rak TV yang bisa memantulkan bayangan dirinya.

“Terima kasih, Bu. Ini hari pertama trial. Kepastian aku bakal jadi karyawan tetap di sana atau nggak, adalah enam bulan dari sekarang. Yang pasti, aku akan berusaha sebaik mungkin dan akan membeli sikat gigi baru buat Ibu sepulang kerja nanti.” Tiana mengatakannya dengan bersungguh-sungguh setelah menerima kotak bekal yang Leah sodorkan padanya dan disimpan ke tas.

“Sikat gigi? Kenapa mau dibelikan? Ibu baru beli kemarin.”

Mampus, pikir Tiana. Ia tidak bermaksud memberi tahu soal sikat gigi yang mendarat di lubang kloset, tetapi mulutnya tidak terkendali.

“Nggak papa. Aku berangkat, Bu. Udah telat.” Tiana mengecup pipi kiri dan kanan Leah secepat kilat sebelum melesat keluar rumah. Ibunya orang yang sangat bersih dan cerewet, bukan tidak mungkin waktunya akan terbuang banyak untuk mendengar omelan wanita itu.

Tiana berjalan ke depan kompleks sambil memesan taksi online. Sayangnya, ia tidak cukup beruntung karena tidak banyak sopir yang standby di dekat kompleksnya. Ojek online? Tidak. Tiana punya kenangan buruk tentang sepeda motor. Dan setelah sepuluh menit menunggu, taksi yang dinantikannya tiba. Begitu duduk di bangku penumpang, Tiana memberi tahu tujuannya dan si sopir segera melaju.

Taksi yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah gedung elite yang didominasi oleh kaca jendela. Tiana memberikan beberapa lembar uang pada si sopir dan segera keluar dari sana. Tatapannya tidak sedikit pun beralih dari betapa menjulangnya gedung tersebut. Mungkin ada sekitar empat belas atau lima belas lantai. Decakan kagum tidak henti-hentinya ia keluarkan. Ia merasa sangat beruntung diterima sebagai karyawan di perusahaan besar itu, tetapi tidak punya waktu untuk menikmati euforia karena baru di hari pertama, ia sudah terlambat.

Tiana berlari kecil menuju sebuah elevator yang terbuka setelah beberapa orang keluar dari sana. Saat ia akan menekan tombol lantai, seorang pria yang kira-kira seumurannya menerobos masuk. Pria itu cukup tampan hingga Tiana kesulitan untuk mengalihkan pandangan. Peluh yang mengalir di pelipis dan napas yang ngos-ngosan menjelaskan bahwa pria itu habis berlari.

“Ke lantai berapa?” Tiana memberanikan diri untuk bertanya, mengingat ia berdiri lebih dekat dengan tombol di elevator tersebut.

“Sepuluh.” Pria itu membalas sekenanya.

Tiana mengangguk ringan dan menekan tombol angka sepuluh setelah tombol tujuh; tujuannya.

Selama elevator bergerak naik, Tiana melirik dinding elevator di sisi kanannya. Dinding yang berbahan aluminium itu memperlihatkan pantulan dirinya. Gaya berbusana tidak pernah jadi masalah bagi Tiana. Namun, itu tidak berlaku untuk saat ini. Apalagi setelah sadar bahwa pria di sampingnya mencuri-curi pandang dengan tatapan yang intens dan lumayan lama. Bisa saja ia tampak aneh karena penampilannya sekarang, 'kan?

Tiana sudah menelan ludah dua kali, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman yang menyelimuti. Terlebih lagi, ia bukan tipe wanita yang suka diperhatikan, meski orang-orang sering menganggap porsi tubuhnya adalah representasi tubuh ideal yang dimimpikan banyak wanita; tinggi semampai dengan kaki jenjang. Untuk wajah, Tiana cukup manis berkat lesung pipinya yang muncul samar-samar saat tersenyum dan bicara. Rambutnya lurus sepunggung berwarna hitam tanpa poni, dan itu sudah membingkai wajah segitiganya dengan sempurna.

Helaan napas beratnya mengungkapkan betapa kacau ia pagi ini.

"Hei," tegur pria itu. Suara yang dikeluarkan Tiana berhasil menarik atensinya.

"Iya?"

"Karyawan baru?"

Tiana mengangguk ringan. Dalam hati ia merutuk karena sudah berpikir yang tidak-tidak. Harusnya ia sadar, keberadaannya yang asing di gedung ini jelas akan menarik perhatian.

"Divisi apa?"

"Quality Control," sahut Tiana sekenanya, tanpa basa-basi dan tidak ada pertanyaan balik.

Bertepatan dengan itu, pintu elevator terbuka. Layar kecil di samping pintu menunjukkan bahwa mereka tiba di lantai tujuh. Tiana melihat pria itu sekali lagi sebelum melangkah keluar dari sana. Namun, ia urungkan saat mendapati pria-pria berusia kisaran tiga puluh sampai empat puluh tahun, dengan seragam kerja yang sangat rapi, bersiap untuk masuk ke elevator yang sama dengannya sekarang.

Sebelum Tiana sempat menebak siapa mereka, pintu elevator kembali tertutup, tidak memberi kesempatan pria-pria berjas tadi untuk masuk. Tangan pria yang sejak tadi bersamanya terulur di depan Tiana untuk menekan tombol agar pintu elevator tertutup lagi.

“Quality Control bukan di lantai tujuh," ujar pria itu sembari menahan senyumnya.

Sekarang Tiana tidak bisa lebih malu dari ini.

...

Baca bab gratis selanjutnya dengan klik: novel Before (I Love You)

Baca Juga: Novel Husband's Secrets by Elissechan

Ada banyak novel office life di Cabaca. Baca novel gratis di aplikasi Cabaca. setiap Jam Baca Nasional, dari pukul 21.00 - 22.00 WIB tiap hari. Hanya di aplikasi dan untuk maraton baca buku tamat terbitan Cabaca. Buruan deh, download aplikasi Cabaca di Play Store.

Install aplikasi Cabaca untuk baca novel gratis

Baca Juga Novel Serupa Novel Before (I Love You):