Kerusuhan Mei 1998 belum pudar dari ingatan. Tragedi rasial yang mengorbankan penduduk etnik Tionghoa ini masih menyisakan pilu. Diawali dengan krisis ekonomi, yang kemudian memicu timbulnya tragedi Trisakti, lalu berakhir dengan perusakan, penjarahan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan, menjadi serangkaian kisah memilukan dalam sejarah Indonesia.

Merekam kembali semua itu, Cabaca menghadirkan sebuah novel berjudul Beranda Kenangan yang ditulis oleh Putu Felisia. Novel ini bercerita tentang kisah Yasmin, Ketut, Komang, dan Arumi dalam mengarungi kehidupannya sebagai Tionghoa dan bayang-bayang tragedi Mei 1998. Karena itulah, ini 8 alasan novel Beranda Kenangan layak dibaca untuk mengenang Kerusuhan Mei 1998.

1. Membuat Pembaca Memahami Sudut Pandang Korban

Hingga kini, tidak ada sinema atau pun tulisan yang berhasil menggambarkan apa yang kualami. Majalah-majalah Fakta (majalah yang meliput kasus-kasus kriminal di zaman dulu) memaparkan kejadian dengan runut, mulai dari kronologi hingga bagaimana pelaku ditangkap. Para penulis dan pembuat sinetron pun memilih metafora untuk menggambarkan rudapaksa dengan indah: entah dengan gelas yang pecah, kain yang ternoda, atau ombak yang mendadak menumbuk karang. Akan tetapi, bagiku, tidak ada yang dapat menyamai kebusukan dan penghinaan yang kualami saat itu. Tiada pula yang berhasil menyamai kekejaman yang merenggut Mama dalam kematian yang tragis.
Aku tak pernah berhasil mengira-ngira, apakah sebenarnya kesalahanku dan Mama hingga berhak diganjar dengan hukuman seberat itu. Meski semua terjadi begitu cepat, detik-detiknya berlalu begitu lama dalam pikiranku. Aku melihat daster Mama dirobek paksa. Aku melihat tawa dan pandangan buas yang ditujukan kepada perempuan yang lebih pantas jadi ibu mereka itu.

Kutipan di atas merupakan gambaran saat Yasmin mengalami rudapaksa (baca: pemerkosaan). Narasi tersebut membuat kita turut mengalami, turut menjadi perempuan Tionghoa yang menjadi korban dalam Tragedi Mei 1998.

2. Memiliki Narasi Visual yang Detail

bab 4 Beranda Kenangan

Suasana dan ketegangan dari kejadian Mei 1998 dinarasikan dengan baik oleh si penulis. Sekalipun tidak pernah mengalaminya secara langsung atau lahir setelah era Orde Baru, kita jadi dapat merasakan betapa chaos-nya tragedi tersebut di Indonesia.

3. Mengangkat Isu Feminisme

Photo by Lindsey LaMont / Unsplash

Sebenarnya dari blurb-nya saja, kita sudah dapat mengendus aroma feminisme dalam novel ini. Ada banyak paragraf yang menyinggung isu-isu yang berkaitan dengan perempuan, contohnya soal keperawanan, yang lucunya 'dipercaya' pula oleh sebagian perempuan.

Kata-kata Mama tentang kamar pengantin adalah satu-satunya hal yang kuingat saat itu:
“Perempuan itu harus tetap suci, kalau tidak, semua orang akan meremehkan. Tahu, nggak, pernah Mama datang ke pesta pernikahan, kamar pengantinnya tidak berbau harum. Nah, itu saja sudah jadi omongan orang. Perempuan nggak perawan itu ‘kotor’, Yas.”

Baca Juga: 7 Alasan Kenapa Harus Baca Kumpulan Artikel Moving Cursor dari Winna Efendi

4. Menjadi Pengingat Bahwa Tragedi Mei 1998 Belumlah Tuntas Diungkap

Dalam sebuah adegan dalam bab 6 novel Beranda Kenangan, diceritakan karakter utama hendak dapat menegakkan keadilan dari sesuatu yang sebenarnya ingin dilupakannya. Yasmin datang kepada seorang Salwa Shahab, yang bekerja di Cakra TV, untuk dapat menjadi penyiar, dengan harapan suatu hari dapat mengungkap sesuatu dari masa lalunya.

Namun, hari ini, aku menembus batas-batas apa yang tidak boleh diperbincangkan tersebut. Aku muak diam. Aku ingin mengatakan dengan lantang semua ketidak adilan, dan permusuhan yang dialami oleh korban tragedi 1998. Aku tidak memungkiri, kejahatan kemanusiaan itu terjadi tidak melulu pada ras Tionghoa. Perempuan yang tidak berdaya akan langsung disikat. Itulah yang terjadi. Kebetulan saja, aku memenuhi 2 kriteria itu: Tionghoa dan perempuan.

Dari situlah, kita seolah diingatkan bahwa Tragedi Mei 1998 ini belum usai. Ada begitu banyak korban. Ada begitu banyak yang dirugikan, tetapi dalang di balik kejadian tersebut belumlah terungkap dan butuh perjuangan besar untuk membeberkannya.

5. Ditulis oleh Perempuan Etnis Tionghoa

Putu Felisia mulai menulis sejak 2005. Ia sudah menghasilkan beberapa karya, seperti Shadow Light (Gradien Mediatama), My Lovely Gangster (Media Pressindo), Seoul Sonata (Media Pressindo), Daisy in My Heart (Media Pressindo),  Heart Quay (Juara 3 Lomba Penulisan Novel Amore Gramedia Pustaka Utama 2013), dan A Love’s Fairytale (20 Besar Lomba Menulis Novel Romance Penerbit Qanita). Selain itu, karyanya Finding Destiny menyabet 20 Besar Lomba Menulis Novel Romance Sweet and Spicy Penerbit Twigora. Ia juga menjadi nominasi novel fantasi terbaik Wattpadlit Awards 2017 melalui karyanya Warrior of Heaven.

Seperti yang dikutip dari laman Satupena.id, Putu sempat mengalami depresi. Tetap dengan menulis, ia berharap dapat menyuarakan kemanusiaan, perlawanan terhadap kekerasan, serta kesadaran memelihara kesehatan mental.

6. Dapat Dibaca Gratis

Satu hal yang wajib diketahui, novel Beranda Kenangan ini dapat dibaca secara cuma-cuma, tanpa menukarkan kerang (semacam poin). Kita tinggal bikin akun di Cabaca baik dengan email maupun Facebook. Novel terbaru Putu Felisia ini akan update bab terbarunya tiap hari Jumat.

Baca Juga: Cabaca: Cara Baru Baca Novel Gratis!

Demikianlah 6 Alasan Novel Beranda Kenangan Layak Dibaca untuk Mengenang Kerusuhan Mei 1998. Bagaimana? Semoga jadi tambah tertarik baca ya. Siapa tahu dapat me-refresh ingatan kita mengenai Tragedi Mei 1998.

Segera baca novel gratis di Cabaca.id. Jangan lupa install aplikasi Cabaca di Play Store.

Ada banyak novel gratisnya juga!