Novel Husband's Secrets by Elissechan

Novel Husband's Secrets by Elissechan – Samuel merupakan sosok suami yang baik bagi Vivi dan ayah yang bertanggung jawab untuk Elliot. Di mata orang-orang, pria itu sangat membanggakan, sosok berwibawa yang dikagumi siapa saja. Ya … itu sebelum rahasianya satu persatu terungkap.

Kesempurnaan. Itulah satu-satunya masalah utama seorang Samuel Adinata. Mengapa dia begitu baik di mata sang istri? Nyaris tanpa kekurangan dengan terus memberikan perhatian, tidak membatasi dan saling melengkapi hingga janji kesetiaan. Sebenarnya rahasia apa yang disimpan Sam? Apakah kesempurnaan itu hanyalah kedok demi menutupi segala rahasia dalam dirinya? Ataukah tulus demi membina rumah tangga yang harmonis?

Photo by Victoria Priessnitz / Unsplash

Teaser Husband's Secrets di Cabaca

Alexa melingkarkan tangan ke leher Sam. Wanita dua puluh enam tahun itu kelihatan ingin bermesraan lebih lama. Ia menyandarkan kepala di dada pria itu, kemudian merabanya penuh hasrat. Rasanya sudah lama dia merindukan dada bidang pria itu. Jika diingat kembali, sudah empat tahun lamanya, mereka tak lagi bersentuhan.

"Alexa," panggil Sam berusaha mendorong tubuh wanita itu menjauh. Kernyitan di keningnya seolah sudah menjadi pertanda bahwa dia tidak nyaman berdua bersama wanita lain di kamar hotel. "Walaupun begitu, aku tidak bisa."

"Kita pasangan, Sam."

"Apa kamu sadar sedang bicara dengan siapa?"

"Ya, orang yang diharuskan bersamaku sejak baru lahir."

Sam membuang muka. "Kamu sudah kelewatan."

Alexa merasa jengkel karena ditolak. Dia perlahan menyingkir dari Sam. Sambil berkacak pinggang, dia mondar-mandir di sana dengan pikiran penuh.

"Bagaimana bisa kamu membuat kesalahan seperti ini?" tanyanya melirik Sam setajam mungkin.

Sam hanya bisa tertunduk dan menjawab, "Ini pilihanku."

Alexa lagi-lagi mendekat. Lalu membelai wajah pria itu dengan jemari lembutnya. "Katakan padaku, kamu terpaksa, kan?"

"Apa maksudmu?"

"Kamu tahu kan, semua hanya rekayasa, kamu dan Vivianne itu."

"Tidak!" Sam memberikannya jawaban tegas. "Jangan berani berpikir seperti itu."

Alexa mulai memandangnya sedih. Ia mengangguk seraya menjawab dengan suara halus, "Tidak apa-apa, kamu pria yang normal, kebutuhan biologis pasti perlu. Jadi untuk meluruskan masalah ini, aku punya satu solusi."

Seakan sudah paham makna yang tersirat di kedua mata wanita itu, Sam menggelengkan kepala. "Kamu tidak paham, Alexa, aku tidak menikahi Vivi karena ingin menuntaskan kebutuhan biologisku secara legal atau lainnya. Aku—"

"Sam—" potong Alexa melototinya. Dia ingin memperingatkannya kalau salah ucapan sedikit saja berakibat fatal nanti. Ia mulai meraba dada bidang Sam kembali. Jemari lentiknya begitu lincah merayu titik lemah seorang pria.

"Intinya aku sudah punya anak, semua tidak sama lagi. Aku gak mau lagi." Sam terhenti karena tidak ingin membahasnya.

Alexa menarik dasi biru Sam, memaksanya menuju tempat tidur. "Sam, kamu punya pilihan. Dengarkan aku, kita berbeda, kita sudah seperti suami-istri."

"Hentikan khayalanmu." Sam melangkah penuh kepasrahan. "Aku akan keluar."

Alexa menjatuhkan diri ke pinggiran ranjang tersebut. Ia terus menarik agar pria itu ikut berguling bersamanya. "Kamu terlalu ambisius dalam meraih keinginanmu, Sayang. Ini bagus, tapi tak untuk jangka panjang, terlebih kalau istrimu tahu."

"Diamlah, aku harus pulang, atau Vivi akan curiga padaku," kata Sam dengan ketus sambil menepis tangan Alexa. Setelah merapikan ikat leher tersebut, dia tergesa-gesa keluar dari kamar hotel.

"Sam!" seru Alexa yang telah dilanda kekecewaan mendalam. "Terus saja bersandiwara! Oh peran suami yang baik …."

Sam hanya menggumam pelan, "Aku tidak bersandiwara, Sialan."

Meski sorot Alexa nampak kecewa, mendengar perkataan itu Alexa hanya terkekeh pelan. Sam Sam ….

Baca Juga: Novel Where Your Heart Belongs by Putu Felisia

Kata kebanyakan orang, tidak ada manusia yang sempurna. Namun, Vivi merasa itu sedikit salah. Dia yakin suaminya begitu sempurna, setidaknya pria itu melebihi apapun yang ia harapkan dalam kehidupan berumah tangga. Dari mulai kondisi fisik, hati, sampai kepribadian, sudah pantas menganggapnya sempurna.

Pria itu bernama Sam, orang yang ia kenal selama sepuluh tahun dan kini telah menjadi suaminya semenjak tiga tahun belakang. Suami terbaik yang pernah ia tahu.

Secara fisik, dia luar biasa menawan. Tubuhnya tinggi nan atletis, berbahu lebar, lengan dan dada yang keras, wajah pun tampan. Iya, seolah-olah dia diciptakan ke dunia untuk membahagiakan mata wanita yang memandangnya.

Selama ini hampir tidak ada orang yang sebaik Sam di hidup Vivi. Dermawan, murah senyum, menyenangkan, humoris, tutur kata pun selalu halus. Selama sepuluh tahunan saling mengenal, ia tidak pernah mendengar satu kata kasar keluar dari mulutnya.

Biasanya seseorang akan menunjukkan kebiasaan lain saat sudah menikah. Kebanyakan hal buruk, seperti malas bangun, tidak disiplin atau semacamnya, akan tetapi tidak dengan Sam, dia memang sempurna.

Vivi tidak pernah sekalipun mendengar suaminya mengeluh, apalagi bersedih. Padahal mereka sudah mengenal terlalu lama, akan tetapi mengapa Sam begitu sempurna? Selalu bahagia, ceria, dan menyayanginya sepenuh hati.

Sejak kelahiran putra mereka hampir setahun silam, Sam juga bertambah perhatian pada istrinya itu. Jadwal pulang kerjanya hampir bisa dikatakan tidak pernah telat. Dia memilih menghabiskan malam dengan keluarga kecilnya ketimbang lembur di kantor.

Selama empat bulan terakhir, pria ini juga bangun lebih pagi demi membuat sarapan. Berdiri di depan meja dapur dengan kondisi sudah berkemeja rapi. Dia semakin ingin memperlihatkan bahwa dirinya adalah sosok suami idaman.

Vivi berjalan masuk ke ruang makan dengan membawa bayi laki-lakinya. Wanita muda ini terlihat masih dalam balutan kimono sutra merah saga.

"Kamu gak perlu menyiapkan sarapan tiap pagi, aku jadi merasa bersalah, tahu," kata wanita berambut hitam lurus sebahu itu. Dia berjalan mendekati meja makan. Setelah mendudukkan putranya di kursi bayi khusus, dia duduk pula di salah satu kursi.

"Gak masalah, kamu duduk saja dan biarkan aku membuat selai stroberi ini— sebentar saja, kok," kata Sam mengambil sekotak buah stroberi dari dalam lemari pendingin.

Ia memanaskan sebuah wajan teflon di atas api kompor kecil. Kemudian memasak buah-buahan itu beserta bahan-bahan lain. Keahliannya memasak pun tidak perlu diragukan. Sekarang pertanyaannya, apa yang tidak dikuasai pria ini?

Vivi merasa dunianya bak negeri dongeng, dimana ia sudah menikahi seorang pangeran dan kini kehidupannya akan selalu bahagia. Hampir tidak ada masalah berat yang menjerat mereka. Hubungannya dengan Sam juga sangat terbuka, tidak ada rahasia yang tersembunyi—itu yang ia tahu.

"Sudah siap selai kesukaanmu, Vivianne Cantik." Sam menaruh beberapa roti tawar di atas meja, lalu satu mangkuk selai buatannya. Tak lupa, dia juga sudah menyiapkan susu anaknya. "Dan ini untuk Elliot yang paling imut."

Bayi itu sudah bisa memegang botol sendiri. Dia tersenyum pada Sam saat mulai meminum susu.

Sam duduk di samping sang istri. Sambil mengoleskan selai di rotinya, dia bertanya, "Bagaimana dengan rencana makan malam kita nanti di restoran pilihanku, kamu mau, kan?"

"Tentu saja," jawab Vivi tersenyun bahagia. Dia mengambil satu roti, lalu mengolesikan selai di atasnya. Aroma manis stroberi sukses membuat perut bergemuruh pelan. Apalagi ini buatan tangan Sam, rasanya akan lebih manis. "Apa ada hal yang ingin kamu rayakan?"

Sam tersenyum jahil. "Rahasia, dong, pokoknya kamu harus berdandan cantik— pakai gaun yang sudah kubelikan kemarin."

"Beneran gak bawa El?" tanya Vivi entah mengapa malah berdebar bak seorang remaja yang menanti kado pacarnya. Demi menghindari pandangan dari mata penuh pesona dari Sam, dia menatap Eliott yang masih meminum susu.

Sam mengelus rambut anaknya. "Jangan, El kita titipkan saja pada Tante kamu. Nanti kan sampai malam, aku berencana kita menginap di hotel saja."

"Aku jadi penasaran, ada apa, sih?" Vivi menatap kedua mata hitam suaminya, berusaha untuk membaca pandangan penuh cinta itu. "Hari ini bukan hari jadian kita, bukan anniv pernikahan kita juga, bukan hari-hari penting, apalagi ulang tahun."

"Bukan, Viv, ini hari Senin biasa, hari Senin di bulan Mei biasa, aku cuma ingin menghabiskan waktu denganmu malam ini."

"Karena?"

"Rahasia, jangan berusaha mengulik kejutanku." Sam mulai menggigit rotinya, mengunyahnya pelan dengan pandangan tetap tertuju pada sang istri. Sorot matanya sangat lembut, penuh cinta dan ketulusan seolah tidak ada kebohongan apapun. Apakah iya?

Vivi membalasnya dengan senyuman. "Aku akan tampil cantik untukmu."

"Kamu memang selalu cantik, Viv, walaupun baru bangun tidur begini, entah ini hanya karena aku terlalu cinta atau apa, rasanya kamu selalu bisa memikatku," kata Sam berniat menggodanya.

"Gombal terus tiap pagi." Raut muka Vivi menjadi sedikit kemerahan. Meskipun sudah bukan seornag remaja, dia tetap tersipu. Segala ucapan halus yang keluar dari bibir sang suami mampu menghipnotisnya. Dia takluk dari awal pertemuan mereka, dia selalu tertegun untuk mengagumi sosoknya.

Seorang pria berjiwa besar dan bertanggung jawab ini sudah menjadi suaminya. Setiap hari hanya rasa syukur yang terbesit dalam benak Vivi.

Sam meraih telapak tangan kanan Vivi. Kemudian meremasnya lembut seraya berkata, "Aku beruntung memilikimu, Viv. Aku sangat mencintaimu, dan makin hari rasanya semakin cinta."

"Aku juga mencintaimu."

"Aku tidak sabar melihatmu dalam balutan gaun itu nanti malam. Dan—tentu saja, aku menantikan malam kita di hotel."

Vivi tergelak pelan. "Kurasa kamu mengajakku berkencan pasti hanya karena stres masalah pekerjaan."

"Stres? Sejak kapan aku tertekan? Aku suka pekerjaanku, Viv. Mana mungkin aku menghabiskan waktu dengan istriku hanya karena ingin melepaskan penat kerja."

"Buktinya El gak boleh ikut, seperti ngajakin honeymoon saja," goda Vivi balas menggelitik telapak tangan suaminya.

"Kamu bisa saja." Sam menarik tangannya agar tidak semakin geli. Dia mengalihkan perhatiannya pada sang putra yang sudah meletakkan botolnya di atas meja. "Kayaknya El sudah kenyang. Mau bubur gak?"

Bayi itu berusaha menyentuh wajah sang ayah sembari melafalkan kata, "Wa—"

"Pa," ralat Sam. Dia mendekatkan wajahnya agar dibuat mainan oleh jemari mungil bayi itu.

"Ma," balas El tersenyum.

"'Pa'-nya mana?" goda Sam mencubit pipi kanan El selembut mungkin. Ia masih bersikeras mengajarkan sebutan sederhana pada anaknya. "Pa—pa."

"Maaaa …." El kian keras mengucapkannya.

Vivi tertawa mendengar mereka saling berkomunikasi. Tadinya dia ingin menggendong El untuk mandi, namun tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu di depan.

Makin keras—makin keras.

Tidak biasanya tetangga bertamu sepagi ini. Kemungkinan besar sanak saudara atau kenalan.

"Sebentar, aku buka dulu, siapa tahu Tante datang—walau kayaknya nggak mungkin sepagi ini," kata Vivi segera berdiri dan berjalan keluar. Sementara Sam tetap sibuk menggoda bayi mereka.

Kenyataannya yang berdiri di luar pintu depan bukanlah sosok Tante ataupun kenalan lain, melainkan seorang pria empat puluh tahunan bersetelan hitam. Orang ini tidak terlalu asing bagi Vivi, selama empat bulan belakangan, dia sangat mengenalnya.

Pria ini mengaku bernama—

...

Baca bab gratis selanjutnya dengan klik: novel Husband's Secrets

Baca Juga: Novel The Bastard's Betrayal

Yang suka baca novel dewasa romantis, cobain deh baca via aplikasi Cabaca. Semuanya terkurasi dam bisa kita baca gratis selama Jam Baca Nasional, mulai pukul 21.00 - 22.00 WIB. Hanya untuk baca maraton buku tamat. Yuk, download aplikasi Cabaca di Play Store.

Install aplikasi Cabaca untuk baca novel gratis

Baca Juga Novel Serupa Novel Husband's Secrets: