Hukum Puasa Ramadan Bagi Tenaga Medis Saat Wabah Covid-19 - Terjadi hampir di seluruh dunia, pandemi Covid-19 telah memporak-pondakan banyak aspek, baik perekonomian, pariwisata, kesehatan, dan masih banyak yang lainnya.

Indonesia sendiri mengumumkan adanya Covid-19 pada bulan Maret. Hingga kini, jumlah pasien penderita Covid-19 semakin menanjak. Per tanggal 23 April 2020, jumlah positif di Indonesia telah mencapai 7.775 kasus. Kasus-kasus ini tersebar di seluruh provinsi Indonesia, dengan jumlah terbanyak berada di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Melihat banyaknya jumlah ini, membuat para petugas medis, baik perawat maupun dokternya kelimpungan. Korban semakin banyak, sedangkan jumlah mereka kurang memadai. Terlebih sekarang adalah bulan Ramadan.

Seperti yang sudah diketahui bahwa seluruh orang diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadan, kecuali yang berhalangan maupun sakit.

Untuk itulah, barangkali ada yang bertanya-tanya apa hukum puasa Ramadan bagi tenaga medis Covid-19, bolehkah berpuasa ataukah tidak?

Haiti Medical Trip
@zvessels55
@topspheremedia
Photo by Zach Vessels / Unsplash

Seperti dilansir harian Kompas.com pada 30/3/2020, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19 boleh tidak menunaikan ibadah puasa pada bulan Ramadan 2020.

Pasalnya hal ini sama dengan hukum puasa bagi yang sakit. Para petugas medis diharuskan untuk menjaga sistem kekebalan tubuh atau imun supaya mereka dapat merawat pasien dengan baik.

Baca Juga: Bolehkah Salat Tarawih Sendirian?

Haedar menjelaskan ibadah puasa Ramadan dapat diganti pada hari lain atau dengan kewajiban sesuai syariat fidyah. “Ibadah lain seperti tarawih, jika sampai pada Ramadan wabah covid-19 masih belum reda, tunaikan di kediaman masing-masing. Begitu juga dengan ibadah-ibadah lain, sebagaimana salat Jumat ditunaikan dalam bentuk salat Zuhur.”

Hal ini sendiri, dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 195:

“Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan,…”

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Majels Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dalam bukunya [2020:30], ayat tersebut menunjukan larangan kepada umat Islam untuk menjauhkan diri pada kebinasaan (keharusan menjaga diri/jiwa).

Dalam hal itu tenaga medis diperbolehkan untuk tidak berpuasa apabila dikhawatirkan jika tetap berpuasa justru akan membuat kekebalan tubuh dan kesehatannya menurun, sehingga mengakibatkan terpapar Covid-19 lebih besar dan berujung pada kematian.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, Prof. Mudofir Abdullah. Dalam tayangan video pada Tribunners, Prof. Mudofir Abdullah menjelaskan jika semua perlu dicermati sesuai kondisi per individual.

Prof. Mudofir Abdullah berkata, “Sebaiknya tidak berpuasa, karena dia dipersyaratkan sehat dan kuat supaya virus tidak mudah menyerang. Kekebalan tubuhnya (harus) terjaga.”

Prof. Mudofir Abdullah mengkiaskan para pekerja medis ini mirip dengan mereka yang berkerja keras memerlukan kekuatan fisik terlebih saat menghadapi virus Corona ini.

“Jika mereka bekerja di siang hari yang bisa mempengaruhi produktivitas dan berbahaya bagi kesehatan, maka berbukalah,” imbuhnya.

Untuk yang diberi keringanan berpuasa wajib, harus mengganti di waktu yang memungkinkan dengan meng-qada atau membayar fidyah.

Orang yang boleh meninggalkan puasa dan menggantinya dengan fidyah 1 mud (0,6 kg) atau lebih makanan pokok, untuk setiap hari.

Baca Juga: 11 Amalan Bulan Ramadan yang Bisa Tetap Dilakukan Saat Terjadi Wabah

Begitulah hukum puasa Ramadan bagi tenaga medis. Semoga kita selalu dilindungi dan wabah ini cepat berlalu. Isi waktu luangmu dengan kegiatan bermanfaat selama Ramadan. Baca novel islami yang ada di Cabaca yuk! Download aplikasi Cabaca dan install di sini untuk baca novel gratis. [Lisma]

Ada banyak novel islami gratis untukmu, install sekarang!