Benarkah "Show, Don't Tell"? (Rangkuman Event Pojok Editor #3 Festival Cabaca 2020) – Pernahkah mendengar penggunaan show dan tell dalam narasi? Kalau belum, sebaiknya baca tulisan ini sampai selesai sebab hal tersebut pernah dibahas oleh salah satu editor Cabaca.id, Rifka Az-Zahra, dalam event Pojok Editor bertajuk "Mana Lebih Penting : Show atau Tell?" pada Sabtu, 30 Oktober 2020 lalu.

Penggunaan narasi merupakan salah satu hal penting dalam menulis. Ketika ingin mempertunjukkan pemandangan, menggambarkan penampilan seseorang/tokoh, menjabarkan latar waktu, tempat, bangunan, hingga cuaca, semuanya termuat dalam susunan kata.

“Dalam narasi karya fiksi ini terdapat show dan tell. Show secara sederhana berarti mempertunjukkan dan tell itu menuturkan, jelas Rifka saat membuka sesi Pojok Editor terakhir. Pada dasarnya, narasi itu sendiri merupakan deskripsi rasa, pikiran, kejadian, dan hal-hal di dalam novel yang dikisahkan oleh narator kepada pembaca. Demikian kurang lebih seperti yang tercantum pada buku Draf 1: Taktik Menulis Fiksi Pertamamu yang ditulis oleh  Winna Efendi. Sedangkan dalam KBBI, narasi bisa didefinisikan sebagai pengisahan suatu cerita atau kejadian, cerita atau deskripsi, dan suatu kejadian atau peristiwa.

Fungsi dari Show dan Tell

Secara dasar, show berfungsi untuk menambah detail untuk memancing emosi para pembaca, memperjelas visualisasi, dan menghidupkan suasana. Sedangkan tell berguna untuk meringkas hal-hal yang tidak perlu diuraikan panjang lebar. Misalnya saat kita mau menguraikan sesuatu, tapi kita tidak mau menguraikannya secara mendetail, seperti menjabarkan kejadian-kejadian yang bersifat kronologis, kita bisa menggunakan narasi yang bersifat telling. Jadi, narasinya hanya berisi adegan-adegan atau perpindahan adegan.

Kemudian, ada juga satu fungsi yang sama dari show dan tell, yakni menyelarasakan imajinasi penulis dan imajinasi pembaca. Untuk apa menyelaraskan imajinasi antara penulis dan pembaca? Tujuannya lebih untuk menghindari 'kesalahan' tafsir. Meminjam pernyataan Rifka, “Jadi, saat kita menulis, kita punya gagasan di kepala kita yang kita tulis yang kemudian dibaca oleh pembaca. Saat kita menulis, kita membagi informasi dengan pembaca. Kita mentransfer imajinasi di dalam kepala kita kepada kepala pembaca dan perantaranya itu dengan narasi. Agar narasi itu selaras, kita perlu mengolah kata, mengoreksi kata sedemikian rupa agar gagasan-gagasan yang kita sampaikan itu tepat sasaran ke pembaca dan tidak salah tafsir.

Baca Juga: Premis Itu Apa Sih? (Rangkuman Pojok Editor #1 Festival Cabaca 2020)

Perbedaan Show dan Tell

Show dan tell ini memiliki ciri khususnya masing-masing. Show bersifat deskriptif (penggambaran) dan tell itu bersifat naratif (Rangkaian kejadian). Maksudnya, kalimat showing berarti mendeskripsikan sesuatu dan kalimat telling menarasikan kejadian.

Mengutip yang dicontohkan pada event kemarin, misal:

Contoh Show dan Tell dalam Pojok Editor #3 Festival Cabaca 2020

Dari contoh tersebut, terlihat jelas bahwa narasinya berubah dan kedengaran lebih bagus, bukan?

Yang Perlu Dilakukan Saat Menentukan Show dan Tell

Ada tiga hal mendasar yang perlu penulis perhatikan agar naskahnya mudah dipahami dan dinikmati. Pertama, struktur kalimat perlu dipelajari agar penulis dapat menyampaikan gagasannya dengan tepat dan bisa dipahami. Dalam hal ini, penulis dituntut harus menguasai S-P-O-K, memilih penggunaan kalimat yang efektif,  dan bisa menentukan jenis-jenis kalimat. Kedua, penulis perlu menguasai hal-hal yang berhubungan dengan tata bahasa, termasuk mencakup penggunaan kata depan, huruf kapital, tanda baca, dan lain-lain. Ketiga, penguasaan diksi dan yang berkaitan dengan pembendaharaan kata, sesuai dengan genre cerita, konteks kalimat, frasa logis, dan gaya bahasa.

Melalui event Cabaca.id kemarin, ada beberapa pertanyaan menarik dari para peserta terkait show dan tell. Salah satunya adalah pertanyaan yang diajukan Alfiana Dwi, “Bagus yang show dulu atau tell? Atau sebaliknya? Misal air mata mengalir deras di pipinya, dia sedih atas kepergian orang tuanya. Atau, dia sedih atas kepergian orang tuanya, air matanya mengalir di pipinya.” Menanggapi pertanyaan ini, Rifka selaku pemateri menjelaskan, “Ini sama-sama bagus, cuma beda peletakannya saja. Ada yang show dulu dan ada yang tell dulu. Ini bukan dianggap sesuatu yang salah atau benar, disesuaikan dengan kreativitas penulis aja.”

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa untuk lebih mendalami show dan tell penulis dituntut untuk bisa berpikir lebih kreatif. Selain itu, penulis sebaiknya memiliki pembendaharaan kata yang seluas-luasnya agar tidak mengulang-ngulang kata dalam narasi. Selain itu, yang perlu digarisbawahi adalah show dan tell sama-sama penting. Fungsinya saja yang beda.

Baca Juga: Apa Pentingnya Sinopsis dan Outline? (Rangkuman Event Pojok Editor #2 Festival Cabaca 2020)

Semoga tulisan ini cukup mencerahkan ya, dan penulis jadi lebih tahu apa itu show dan tell dan bagaimana cara mengimplementasikan keduanya di dalam naskah fiksi. Kalau sudah selesai nulis dan self-edit, baru deh kirim karya terbaikmu kalian ke Cabaca.id. [Yunita Awat]

Unduh aplikasi Cabaca yang ada di Play Store, aplikasi baca novel gratis terfavorit!

Baca novel Indonesia sekarang bisa GRATIS dan LEGAL hanya di Cabaca.