Festival literasi terbesar yang digagas oleh Komite Buku Nasional, Literaction Festival (Litbeat) tahun ini kembali digelar. Dalam festival yang bertemakan “What’s Next” ini terdapat beberapa rangkaian kegiatan, seperti diskusi panel, penampilan musikalisasi puisi, talkshow, dan seminar yang melibatkan sekitar 70 pembicara dari berbagai pelaku industri kreatif dan bekerja sama dengan beberapa lembaga seperti Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan Badan Perfilman Indonesia. Selain itu, terdapat pula kegiatan forum pembiayaan dan investasi untuk perfilman Indonesia berskala nasional yang disebut AKATARA.

Novel Cabaca yang terpilih dalam AKATARA Pitching Forum "From Book to Screen"

Post Meridiem dan Sadirah, dua novel terbitan Cabaca, ternyata berhasil menjadi 30 besar finalis AKATARA. Dua novel tersebut berkesempatan untuk mengisi stan dalam pameran 30 besar finalis AKATARA di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta Pusat pada 2-3 September 2019.

penampakan dua booth Cabaca di event LitBeat Festival 2019

Cabaca memang tergolong baru dalam industri penerbitan. Namun, sebagai platform membaca online asli Yogyakarta, Cabaca mampu membuktikan bahwa kualitas buku digital pun layak diperhitungkan. Karenanya, Cabaca menjadi salah satu penerbit berbasis online yang berhasil lolos ke-30 besar AKATARA. Sementara itu, 28 judul buku lain berasal dari penerbit besar yang berbeda-beda, seperti Gramedia Pustaka Utama, Bukune, Mizan dan lain-lain.

Nantinya 10 dari 30 finalis akan diberikan kesempatan untuk pitching di hadapan Production House (PH), produser, dan investor. Judul yang terpilih kemudian akan dijadikan film layar lebar atau webseries. Namun, sebelum finalis tersebut melakukan pitching dan bertemu langsung dengan pihak pihak terkait, finalis dibekali pemahaman seputar dunia perfilman terlebih dahulu melalui talkshow Mining The Ideas, Dividing The Profits 1”.

Mining The Ideas, Dividing The Profits 1

Pembicara dalam talkshow tersebut adalah Agung Sentausa (Ketua bidang fasilitasi pembiayaan film dari Badan Perfilman Indonesia), Ari Juliano Gema (Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual dan Regulasi BEKRAF), Avesina Soebli (Produser Film), dan Hetih Rusli (Director of Publishing & IP Licensing PT. Rekata).

Topik yang dibahas adalah seputar honorium dan hak cipta bagi penulis novel yang ceritanya diangkat ke dalam film layar lebar. Sejauh ini, masih belum ada standar harga untuk sebuah karya yang difilmkan karena memang tidak ada nominal yang disepakati. Biasanya, semua tergantung negosiasi antara PH dan penulis itu sendiri. Namun, ternyata ada sebuah karya yang dihargai sangat murah karena faktor ketidaktahuan penulis tentang kontrak.

Rupanya penulis memang harus mengenal terlebih dahulu standar kontrak yang akan ditandatangani. Terkadang kontrak yang tidak dipelajari terlebih dahulu akan menimbulkan kerugian untuk pihak penulis di kemudian hari, seperti hilangnya hak untuk membuat cerita sekuel, ketidaksesuaian karakter, dan lain-lain.

“Biasanya orang PH akan mencari novel apa yang sedang best seller dan prosesnya cenderung cepat. Kalau penulis baru, pasti seneng seneng aja diiming-imingi duit segitu di awal, padahal risikonya besar kalau gak teliti,” ungkap Hetih Rusli pada (03/09/2019). Kemudian dirinya menambahkan, “Makanya dianjurkan untuk sewa lawyer dan agen untuk masalah kontrak gituan, biar gak nyesel. Penulis juga bisa tetep fokus buat novel lain dan bisa menjaga kualitas tulisan.”

Artinya memang ketidaktahuan penulis tentang dasar dasar kontrak film, akan menjadi bumerang bagi penulis itu sendiri. Jangan karena ada PH yang menawarkan kontrak dan uang di awal, membuat penulis melupakan hal hal penting yang akan berdampak ke depannya. Agung Sentausa membenarkan hal tersebut. “Karena masalah kontrak merupakan kegelisahan bersama, AKATARA berusaha meminimalisir ketida tahuan penulis tesebut. Melalui acara seperti ini, kami berupaya untuk membuat ajang pitching bagi penulis kepada para investor dan PH setransparan mungkin sehingga tidak ada harga yang terlalu rendah atau terlalu tinggi yang bisa menguntungkan satu pihak saja,” ungkapnya.

tanya jawab seputar kontrak dan alih wahana dari buku ke film

Bagi Cabaca sendiri, menjadi bagian dari Litbeat Festival 2019 dan menjadi 30 besar AKATARA Pitching Forum "From Book To Screen" saja sudah menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Pasalnya, Cabaca bisa membuktikan bahwa penerbit digital juga bisa menghasilkan buku yang berkualitas dan layak diperhitungkan. Apabila mendapat kesempatan untuk kemudian dijadikan judul film, setidaknya diharapkan penulis Cabaca sudah mengetahui dasar-dasar kerja sama dan wawasan mengenai kontrak atas novel yang terpilih untuk difilmkan.

Baca Juga: 7 Fitur Cabaca yang Seru dan Gak Ada di Aplikasi Lain!

Pengunjung Bertanya Cara Jadi Penulis Resmi di Cabaca

Yang mamoir ke booth Cabaca, boleh tanya-tanya seputar Cabaca lho!

Selain memamerkan karya, Cabaca menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan sistem kerja Cabaca dan cara menjadi penulis resmi. Dengan begitu, masyarakat Indonesia akan lebih kenal dan terbuka dengan bentuk online publishing. Di lain kesempatan, tidak menutup kemungkinan Cabaca akan lebih aktif mengikuti event, bahkan membuka sesi semacam editor's clinic bagi yang ingin kirim naskah ke Cabaca.

Mau juga jadi penulis novel dan mendapat honor?

Install sekarang aplikasi Cabaca di Play Store supaya bisa baca novel Indonesia gratis!

Jadilah penulis resmi Cabaca dengan unduh aplikasinya di Play Store!