7 Buku untuk Dibaca Saat Hari Pahlawan Nasional - Bagaimana kamu memaknai hari pahlawan nasional?

Jika kita kembali ke hari kegelapan alias masa penjajahan, barangkali kita bisa melihat bagaimana perjuangan keras para pahlawan demi satu kata: kemerdekaan. Maka dari situlah, kita selalu memperingat hari pahlawan ini. Hari pahlawan nasional 2020 mungkin akan sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena tahun ini kita sedang menghadapi pandemi, yang tidak memperkenankan berkerumun.

Untuk memperingati hari pahlawan itu, Cabaca merekomendasikan buku tentang pahlawan lainnya, yakni pahlawan-pahlawan setelah masa penjajahan. Mereka telah bersusah payah memajukan dan membawa nama Indonesia ke ranah internasional. Berikut 5 buku tentang kepahlawanan dan biografi yang bisa kamu baca.

1. Jais Darga Namaku

Sumber: bentarabudaya.com

Di dunia seni internasional, nama Jais Darga terkenal sebagai art dealer. Sebagai perempuan dengan segudang prestasi, menjadikannya sebagai art dealer perempuan pertama di Indonesia yang menginspirasi banyak orang.

Buku ini ditulis oleh Ahda Imran dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Dalam buku ini dibahas bagaimana Jais Darga mempertahankan profesinya sebagai art dealer sekaligus kehidupan pribadi yang sama peliknya dengan meraih mimpi.

2. Rudy: Kisah Masa Muda Sang Visioner

Sumber: goodreads.com

Presiden Indonesia ketiga, Pak BJ Habibie, memang sangat menginspirasi banyak orang. Sebagai anak Indonesia, kisah-kisahnya cocok untuk dijadikan buku. Penulis buku ini adalah Gina S. Noer. Buku ini mengisahkan kisah masa muda BJ Habibie sepanjang 291 halaman. Kemudian di tahun 2016, buku ini diadaptasi menjadi film layar lebar berjudul Rudy Habibie.

3. Chairil

Sumber: goodreads.com

Chairil merupakan penyair yang meninggal di usia muda, yakni 27 tahun. Namun, karya-karyanya akan tetap menyala sampai 1000 tahun lagi. Biografi ini ditulis oleh Hasan Asphani. Dalam buku Chairil, memuat perjalanan lengkap Chairil serta perempuan-perempuan yang berada di sekitarnya.

Karena buku ini, Titimangsa Foundation, membuat pertunjukan berjudul Perempuan-Perempuan Chairil. Pertunjukan itu sukses digelar pada November 2017 lalu, dengan menghadirkan pemeran seperti Reza Rahadian, Sita Nursanti, Chelsea Islan, Tara Basro dan Marsha Timothy.

4. Madilog

Sumber: bukalapak.com

Buku ini pertama kali diterbitkan pada 1943. Madilog sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari Materialisme Dialektika Logika. Isinya merupakan kumpulan esai yang menjadi sumbangsih bagi sejarah filsafat Indonesia modern. Cocok buat kamu yang butuh alternatif baru bagi cara berpikir dan pergerakan orang Indonesia yang lebih beragam, baik dari segi budaya maupun kelas sosialnya.

Baca Juga: 3 Penulis Indonesia yang Masuk Daftar Pahlawan Nasional

5. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Sumber: goodreads.com

Bisa dibilang, buku ini adalah otobiografi Soekarno, tetapi berdasarkan yang diceritakan kepada Cindy Adams, wartawati kebangsaan Amerika Serikat. Buku yang terbit dan dicetak berkali-kali sejak 1965 ini memuat riwayat hidup Soekarno, termasuk beberapa penjelasan tentang apakah beliau seorang komunis dan penggila wanita, konfirmasi mengapa dulu berkonfrontasi dengan Malaysia dan keluar dari  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan masih banyak lagi.

6. Sutan Sjahrir

Sumber: kompasiana.com

Kebanyakan orang hanya memahami bahwa yang berperan penting dalam kemerdekaan hanya Soekarno dan Hatta saja. Padahal Sutan Sjarir adalah salah satu arsitek kemerdekaan Indonesia. ia juga adalah perdana menteri pertama Indonesia. Oleh karena itu, buku yang ditulis oleh jurnalis Rosihan Anwar juga layak untuk dibaca, untuk mengenali kiprah sosok yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1966.

7. Panggil Aku Kartini Saja

Sumber: goodreads.com

Siapa yang tidak mengenal Kartini. Ibu kita Kartini merupakan wanita yang memperjuangkan emansipasi terhadap perempuan. Karenanya, perempuan menjadi lebih dihargai dan tidak melulu berkutat pada pekerjaan domestik semata.

Buku ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer di antara tahun 1956-1961. Sebenarnya buku ini berjumlah 4 jilid, tapi 2 jilid lainnya dibakar saat era Soeharto. Buku ini berisi pergulatan pemikiran Kartini, serta pemikiran Kartini yang mendatangkan perubahan.

Baca Juga: 10 Fakta Unik di Balik Sumpah Pemuda

Itulah ketujuh buku biografi atau buku tentang wawasan kepahlawanan yang bisa kamu baca. Setelah membaca perjuangan berat mereka, kamu bisa merilekskan pikiran dengan membaca novel-novel ringan yang ada di aplikasi Cabaca. Novel-novel di Cabaca, harus masuk seleksi ketat redaksi, pasti cocok untuk menghiburmu. Install saja kalau tidak percaya. [Lisma]

Baca novel gratis kesukaanmu dalam satu genggaman.