3 Penulis Indonesia yang Masuk Daftar Pahlawan Nasional - Ketika mendengar nama pahlawan, mungkin yang terpikirkan olehmu adalah orang-orang yang mengangkat senjata untuk melawan penjajah. Namun, sejatinya kata pahlawan lebih dari sekadar itu. Pahlawan nasional Indonesia merupakan orang-orang yang rela membela negaranya dengan cara masing-masing sehingga Indonesia (negara yang dibelanya) senantiasa damai, tenteram, dan sejahtera.  

Begitu juga halnya dengan tiga penulis Indonesia yang masuk daftar pahlawan nasional ini. Lewat tulisannya, mereka mencoba membawa perubahan lebih baik.

Baca Juga: 7 Penulis Cerita Pendek Terbaik Indonesia

1. Hamka alias Abdul Malik Karim Amrullah

Sumber: muslimobsession.com

Hamka adalah nama pena dari Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah. Beliau merupakan seorang wartawan, penulis dan pengajar. Sampai sekarang novel Buya Hamka sering dicetak ulang dan dikaji, seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan Merantau ke Deli.

Hamka lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada tanggal 17 Februari 1908. Dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun.

Dalam karier kepolitikan, Hamka merupakan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama dan aktif dalam Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. Beliau dianugerahi gelar doktor kehormatan oleh Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia. Sementara Universitas Moestopo, Jakarta, mengukuhkan Hamka sebagai guru besar.  

2. Abdul Muis

Sumber: www.merdeka.com

Abdul Muis atau yang bernama asli Abdoel Moeis lahir di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat pada tanggal 3 Juli 1883. Dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959, pada usia 75 tahun. Sepanjang kariernya, beliau bekerja sebagai sastrawan, politikus, dan wartawan Indonesia.

Menurut sejarah, Abdul Muis merupakan pengurus besar Sarekat Islam dan pernah menjadi anggota Volksraad mewakili organisasi tersebut. Presiden RI, Soekarno, mengukuhkan beliau sebagai Pahlawan Nasional yang pertama pada 30 Agustus 1959.

Berikut karya Abdul Muis:

  • Salah Asuhan (terbit 1928, difilmkan Asrul Sani di tahun 1972). Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Robin Susanto dan diterbitkan dengan judul Never the Twain oleh Lontar Foundation, masuk ke dalam seri Modern Library of Indonesia
  • Pertemuan Jodoh (1933)
  • Surapati (1950)
  • Robert Anak Surapati (1953)

3. Ahmad Rifa’i

Sumber: www.republika.co.id

Kiai Haji Ahmad Rifa’i merupakan pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah. Beliau lahir di Tempuran, Kendal, Jawa Tengah pada tahun 1787 dan meninggal di Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1871. Beliau adalah seorang ulama pendiri, penulis buku, dan mempunyai semangat perjuangan kemerdekaan yang besar.

Menurut sejarah, beliau sudah menjadi yatim saat usia sangat belia. Ayahnya, KH Muhammad Marhum Bin Abi Sujak, meninggal saat Kiai Rifa’i berusia enam tahun. Beliau lalu diasuh kakak perempuan dan suaminya, Kiai As’ari, pengurus ponpes di Kaliwungu.

Tarjumah adalah karyanya yang paling terkenal. Karya itu terdiri dari 62 judul terjemahan kitab berbahasa Arab dari ulama terdahulu. Kai Rifa’i menerjemahkannya ke dalam bahasa Jawa, supaya masyarakat pedesaan dapat mengerti. Kitab-kitab itu sangat membantu masyarakat desa dalam memahami agama.

Baca Juga: 5 Puisi Widji Thukul yang Paling Populer

Karya-karya ketiga penulis di atas, masih bisa dijumpai sampai sekarang. Sudah pernah baca yang mana?

Seiring berjalannya waktu, kini untuk membaca buku mempunyai alternatif lain, yakni membaca dari gawai. Selain tidak menghabiskan banyak kertas, juga sangat fleksibel karena dapat dibawa ke mana saja dan tidak berat.

Salah satunya platform Cabaca. Selain bisa dibaca di website, Cabaca juga mempunyai versi aplikasi. Yuk, install Cabaca di Play Store. Dengan begitu, kamu bisa download novel Indonesia dan baca offline kapan saja!

Install aplikasi Cabaca di Google Play untuk download novel favoritmu!